تارك الصلاة هل ينفعه ذكره لله؟
Apakah Berzikir Bermanfaat bagi Orang yang Meninggalkan Shalat?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Apakah Berzikir Bermanfaat bagi Orang yang Meninggalkan Shalat? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
بنت تحب ذكر الله، ولكنها لا تصلي، فهل ينفعها ذكر الله؟
Seorang anak perempuan suka berzikir mengingat Allah, namun ia tidak melaksanakan shalat. Apakah zikirnya tersebut bermanfaat baginya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فقد اتفق أهل الإسلام على وجوب الصلاة على كل مسلم بالغ عاقل، لم يمنعه من أدائها مانع شرعي من حيض أو نفاس، أو جنون، أو إغماء، ونحو ذلك، مما هو عذر شرعي. وأجمع أهل العلم على كفر من تركها جاحداً لوجوبها، أو مستحلاً لتركها، لثبوت ذلك بالأدلة القطعية من القرآن والسنة والإجماع،
Para penganut Islam telah bersepakat atas wajibnya shalat bagi setiap Muslim yang baligh dan berakal, yang tidak memiliki uzur syar’i yang menghalanginya seperti haid, nifas, gila, pingsan, dan sejenisnya. Para ulama juga telah bersepakat atas kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya atau menghalalkan meninggalkannya, hal ini didasarkan pada dalil-dalil qath’i (pasti) dari Al-Quran, Sunnah, dan Ijma’.
وأما من تركها تكاسلاً؛ فجمهور الأئمة على أنه يستتاب ثلاثة أيام كالمرتد، فإن تاب، وإلا قتل حداً عند المالكية والشافعية، لا كفراً، بخلاف الحنابلة، فإنه يقتل عندهم كفراً، وما ذهبوا إليه أظهر، تعضده ظواهر نصوص شرعية. كقوله صلى الله عليه وسلم:
Adapun orang yang meninggalkannya karena malas, maka mayoritas imam berpendapat bahwa ia diminta bertaubat selama tiga hari sebagaimana orang murtad. Jika ia bertaubat (maka dibebaskan), jika tidak maka ia dihukum mati sebagai had menurut madzhab Maliki dan Syafi’i, bukan karena kafir. Hal ini berbeda dengan madzhab Hanbali yang berpendapat bahwa ia dihukum mati karena kafir. Pendapat madzhab Hanbali ini lebih kuat (azhhar) karena didukung oleh zahir nash-nash syar’i, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“بين الرجل وبين الكفر ترك الصلاة” رواه مسلم
“Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
والأحاديث التي تنحو نحوه، وعلى كل حال، فهم متفقون على أن الصلاة هي عماد الدين، وأهم أركان الإسلام بعد الشهادتين، وأن من تركها تكاسلاً يقتل، وعلى ما ذهب إليه الحنابلة من كفر تارك الصلاة، وارتداده عن الإسلام، فإنه لا ينفعه أي عمل آخر مهما كانت أهميته، ما دام مصراً على ترك الصلاة، فقد روى البخاري أنه صلى الله عليه وسلم قال:
Dan hadits-hadits lain yang serupa dengannya. Bagaimanapun juga, para ulama sepakat bahwa shalat adalah tiang agama dan rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat, serta orang yang meninggalkannya karena malas dihukum mati. Berdasarkan pendapat Hanbali tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat dan kemurtadannya dari Islam, maka tidak bermanfaat baginya amal apa pun meskipun amalan itu penting, selama ia terus-menerus meninggalkan shalat. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“من ترك صلاة العصر فقد حبط عمله”
“Barangsiapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya.”
وإذا كان ترك صلاة واحدة محبطاً للعمل، فكيف بمن ترك صلوات كثيرة. وبناء عليه فإنا نقول لمن يحب الذكر مع تركه للصلاة: حبك للذكر لا ينفعك هو ولا غيره من الطاعات، ما لم تجدد إيمانك، وتأتي بالصلاة التي هي أول ما ستسأل عنه يوم القيامة، وتتوب إلى الله تعالى توبة صادقة، فيما تستقبل من عمرك.
Jika meninggalkan satu shalat saja dapat menghapuskan amalan, maka bagaimana dengan orang yang meninggalkan banyak shalat. Berdasarkan hal ini, kami katakan kepada orang yang menyukai zikir namun meninggalkan shalat: Kecintaanmu pada zikir tidaklah bermanfaat bagimu, begitu pula ketaatan lainnya, selama engkau tidak memperbarui imanmu dan melaksanakan shalat yang merupakan perkara pertama yang akan ditanyakan pada hari kiamat, serta bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang nasuha (tulus) di sisa umurmu.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply