Apakah Diterima Puasa Orang yang Meninggalkan Shalat ?



هل يقبل صيام تارك الصلاة كسلاً

Apakah Diterima Puasa Orang yang Meninggalkan Shalat Karena Malas?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Apakah Diterima Puasa Orang yang Meninggalkan Shalat Karena Malas? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

هل يجزئ صيام من لايصلي؟ وهل يجزئ صيام من يصلي في رمضان فقط ثم يقطع الصلاة بعد رمضان؟

Apakah sah puasa orang yang tidak shalat? Dan apakah sah puasa orang yang hanya shalat di bulan Ramadhan saja kemudian memutus shalatnya setelah Ramadhan?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فإن من أعظم المصائب التي يبتلى بها كثير من الخلق ترك الصلاة، وقد أخرج مالك عن نافع أن عمر بن الخطاب كتب إلى عماله: إن أهم أموركم عندي الصلاة، من حفظها أو حافظ عليها،حفظ دينه، ومن ضيعها فهو لما سواها أضيع، وكيف يهنأ من يترك الصلاة! وهي عماد الدين، وهي الفارقة ببن الكفر والإيمان، كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Sesungguhnya di antara musibah terbesar yang menimpa banyak manusia adalah meninggalkan shalat. Imam Malik telah mengeluarkan riwayat dari Nafi’ bahwa Umar bin Khattab menulis surat kepada para gubernurnya: “Sesungguhnya urusan kalian yang paling penting menurutku adalah shalat. Barangsiapa yang menjaganya, maka ia telah menjaga agamanya, dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk urusan lainnya ia akan lebih menyia-nyiakannya lagi.” Bagaimana mungkin seseorang bisa tenang jika ia meninggalkan shalat! Padahal shalat adalah tiang agama dan pembeda antara kekufuran dan keimanan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“إن بين الرجل وبين الكفر ‎-‎أو الشرك – ترك الصلاة” أخرجه مسلم

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kekafiran —atau kesyirikan— adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة، فمن تركها فقد كفر”

“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya ia telah kafir.”

رواه أحمد، وأبو داود، والنسائي، والترمذي، وقال: حسن صحيح، وابن ماجه، وابن حبان في صحيحه، والحاكم، وقال عمر بن الخطاب ‎-‎ رضي الله عنه-: لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة، وقال عبد الله بن شقيق : كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يرون من الأعمال شيئاً تركه كفر إلا الصلاة. وعن ابن عباس ‎ -‎رضي الله عنهما ‎-‎ قال : من ترك الصلاة فقد كفر رواه المروزي في تعظيم قدر الصلاة، والمنذري عنهما في الترغيب والترهيب (1/439).

(HR. Ahmad, Abu Dawood, An-Nasa’i, At-Tirmidzi —dan ia menyebutnya Hasan Shahih—, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan Al-Hakim). Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Abdullah bin Syaqiq berkata: “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melihat sesuatu dari amal ibadah yang jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran kecuali shalat.” Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Barangsiapa meninggalkan shalat maka ia telah kafir.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazi dalam Ta’zhim Qadr as-Shalah, dan Al-Mundziri dari keduanya dalam At-Targhib wa At-Tarhib).

ولاريب أن العلماء متفقون على كفر من ترك الصلاة جحوداً لوجوبها، واختلفوا فيمن أقر بوجوبها ثم تركها تكاسلاً، فذهب أبو حنيفة رحمه الله إلى أنه لا يكفر، ولا يقتل، لكنه يحبس حتى يصلي أو يموت. 

Tidak diragukan lagi bahwa para ulama sepakat atas kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai orang yang mengakui kewajibannya tetapi meninggalkannya karena malas. Abu Hanifah rahimahullah berpendapat bahwa ia tidak kafir dan tidak dibunuh, tetapi dipenjara sampai ia shalat atau meninggal dunia.

وذهب المالكية والشافعية إلى أنه لا يكفر، ولكن يستتاب، فإن تاب وصلى ترك، وإلا قتل حداً، والمشهور من مذهب أحمد أنه يكفر إذا دعاه الإمام إلى فعلها، فأبى وأصر على تركها حتى تضايق وقت الصلاة الثانية، فإنه يقتل ردة، وهذا الرأي منقول عن بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم كما تقدم، وتدل عليه ظواهر بعض النصوص الصحيحة.

Madzhab Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa ia tidak kafir, tetapi diminta bertaubat; jika ia bertaubat dan shalat maka dibebaskan, jika tidak maka dijatuhi hukuman had (mati). Sedangkan pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad adalah ia menjadi kafir jika imam telah mengajaknya shalat namun ia menolak dan bersikeras meninggalkannya hingga waktu shalat berikutnya sempit, maka ia dibunuh karena murtad. Pendapat ini dinukil dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah disebutkan, dan didukung oleh zahir beberapa nash yang shahih.

ويترتب على ما تقدم الحكم بصحة صيام من لا يصلي من عدمها، فمن قال إن تارك الصلاة تكاسلاً لا يكفر قال إن الصيام صحيح مجزئ، سواء صam رمضان مصلياً ثم ترك الصلاة بعد رمضان، أو كان لا يصلي أصلاً. ومن قال إنه كافر مرتد قال بحبوط عمله كله، ورأى أنه لا ينفعه صيام ولا غيره مع تركه للصلاة.

Dari penjelasan di atas, maka muncullah hukum mengenai sah atau tidaknya puasa orang yang tidak shalat. Barangsiapa yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas tidaklah kafir, maka ia berpendapat bahwa puasanya sah dan mencukupi, baik ia berpuasa Ramadhan sambil shalat lalu meninggalkan shalat setelah Ramadhan, atau ia memang tidak shalat sama sekali. Namun, barangsiapa yang berpendapat bahwa ia kafir murtad, maka ia berpendapat bahwa seluruh amalnya terhapus (habith), dan memandang bahwa puasa maupun amal lainnya tidak bermanfaat baginya selama ia meninggalkan shalat.

ومن هنا فإننا ننصح السائل وغيره ممن لا يصلي بالمواظبة على الصلاة والمحافظة عليها، وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

Oleh karena itu, kami menasihati penanya dan siapa pun yang tidak shalat agar senantiasa rutin dan menjaga shalatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“أول ما يحاسب عليه العبد الصلاة، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت فقد خاب وخسر” رواه الترمذي وحسنه، وأبو داود، والنسائي . 

“Perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses, namun jika shalatnya rusak, maka ia telah merugi dan celaka.” (HR. At-Tirmidzi —dan ia menghasankannya—, Abu Dawud, dan An-Nasa’i). 

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.