Hukum Puasa bagi Orang yang Tidak Shalat



حكم صيام من لا يصلي

Hukum Puasa bagi Orang yang Tidak Shalat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Puasa bagi Orang yang Tidak Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

في خطبة الجمعة الماضية قال الخطيب: يمكن للمسلم أن يصلي ولا يصوم بمعنى أن هذا شيء وهذا شيء آخر أو العكس أن يصوم ويكون لا يصلي وأيضاً يمكن للمسلم أن يعمل في محل لبيع الخمور ويكون يصلي. أي أننا يجب أن لا نقول له اترك العمل يبقى يعمل في محل بيع الخمر ويبحث عن عمل. جزاكم الله كل خير أفيدوني في ما سمعت.

Dalam khutbah Jumat lalu, khatib berkata: Seorang Muslim dimungkinkan untuk shalat tetapi tidak berpuasa, dalam artian ini adalah satu hal dan itu adalah hal yang lain, atau sebaliknya, ia berpuasa tetapi tidak shalat. Juga dimungkinkan bagi seorang Muslim untuk bekerja di toko penjual khamr (minuman keras) namun ia tetap shalat. Artinya, kita tidak boleh menyuruhnya meninggalkan pekerjaan tersebut; biarkan ia tetap bekerja di toko khamr tersebut sambil mencari pekerjaan lain. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan, mohon beri penjelasan atas apa yang saya dengar tersebut.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فالصلاة والصيام ركنان من أعظم أركان الإسلام، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: 

Shalat dan puasa adalah dua rukun dari rukun-rukun Islam yang paling agung, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت من استطاع إليه سبيلا” متفق عليه.

“Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu menempuh jalannya.” (Muttafaq ‘alaih).

ومن ترك الصلاة أو الصوم جاحداً للفريضة كان كافراً باتفاق أهل العلم. أما من ترك الصلاة كسلا، فقد اختلف فيه أهل العلم، وقد رجح جمع من أهل العلم أنه كافر خارج عن ملة الإسلام، وقد سبق بيان ذلك في الفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا.

Barangsiapa yang meninggalkan shalat atau puasa karena mengingkari kewajibannya, maka ia kafir berdasarkan kesepakatan ahli ilmu. Adapun orang yang meninggalkan shalat karena malas, maka para ahli ilmu berbeda pendapat mengenainya. Sebagian ahli ilmu menguatkan pendapat bahwa ia kafir dan keluar dari agama Islam. Penjelasan mengenai hal tersebut telah disebutkan sebelumnya dalam fatwa lainnya di sini :

وأما تارك الصوم كسلا، فإنه لا يكفر في قول جماهير أهل العلم، ولا نعلم دليلا صحيحاً يدل على كفره. وعليه فمن صلى وترك الصوم، كان مقترفاً كبيرة عظيمة، معرضاً نفسه للعقاب الشديد، ولا يجوز إقرار تارك الصوم على هذا المنكر بحال.

Adapun orang yang meninggalkan puasa karena malas, maka ia tidak kafir menurut pendapat mayoritas (jumhur) ahli ilmu, dan kami tidak mengetahui adanya dalil shahih yang menunjukkan kekafirannya. Oleh karena itu, barangsiapa yang shalat namun meninggalkan puasa, ia telah melakukan dosa besar yang sangat berat dan membiarkan dirinya terancam azab yang pedih. Tidak diperbolehkan membiarkan orang yang meninggalkan puasa dalam kemungkaran ini dalam kondisi apa pun.

وأما من صام وترك الصلاة، فإن صومه لا ينفعه على القول بكفر تارك الصلاة، ولعل الخطيب ممن يرى عدم كفره. وعلى كل، فإن هذا الصائم التارك للصلاة لا يقال له: اترك الصوم؛ وإنما ينصح ويوعظ ويذكر بشأن الصلاة، وخطرها، وحكم تاركها.

Adapun orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat, maka puasanya tidak bermanfaat baginya berdasarkan pendapat yang mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat. Barangkali khatib tersebut termasuk orang yang berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Bagaimanapun juga, orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat ini tidak boleh dikatakan kepadanya: “Tinggalkan puasa”; melainkan ia harus dinasihati, diberi peringatan, dan diingatkan tentang urusan shalat, bahayanya, serta hukum bagi yang meninggalkannya.

وكذلك المصلي الذي يعمل في محل بيع الخمور، لا يجوز أن ينهى عن الصلاة بحال، وإنما يقال له: اترك العمل المحرم، واعلم أن الصلاة الكاملة تنهى صاحبها عن هذا الإثم: 

Demikian pula orang yang shalat namun bekerja di toko penjual khamr, ia sama sekali tidak boleh dilarang dari shalat. Sebaliknya, harus dikatakan kepadanya: “Tinggalkanlah pekerjaan yang haram ini, dan ketahuilah bahwa shalat yang sempurna itu mencegah pelakunya dari dosa ini:

(إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر)[العنكبوت:٤٥]

(Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar) [Surah Al-Ankabut: 45]

والواجب عليه أن يدع العمل في بيع الخمور فوراً، للعن النبي صلى الله عليه وسلم: بائع الخمر، وحاملها، وعاصرها، ومعتصرها، وساقيها. 

Wajib baginya untuk segera meninggalkan pekerjaan menjual khamr tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat penjual khamr, pembawanya, pemerasnya, orang yang minta diperaskan, dan penuangnya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.