دور الزكاة في تحقيق التنمية والانتعاش الاقتصاديين للبلدان الإسلامية
Peran Zakat dalam Mewujudkan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi bagi Negara-Negara Islam (Bagian Pertama)
Penulis: Dr. Abdullah Muhammad Qadir Jibrail
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Peran Zakat dalam Mewujudkan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi bagi Negara-Negara Islam ini masuk dalam Kategori Tsaqafah Islamiyyah
الزكاة هي الركن الثالث من الأركان الخمسة للدين الإسلامي الحنيف، المتضمن: النطق بالشهادتين، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت إن استطاع إليه سبيلًا، وهي فريضة مالية، تتمثل بأقدار معلومة من أموال معينة مخصصة إلى مصارف معينة، وهي واجبة بالقرآن والسنة، وإجماع الفقهاء، والزكاة فريضة على كل مسلم مَلَكَ نصابًا من ماله، بشروط فرضها الله تعالى في كتابه الكريم؛ بقوله جل جلاله:
Zakat adalah rukun ketiga dari rukun Islam yang lima, yang meliputi: mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu. Zakat merupakan kewajiban finansial berupa kadar tertentu dari harta tertentu yang dikhususkan untuk golongan tertentu pula. Kewajibannya ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan kesepakatan para ahli fikih (ijma’). Zakat diwajibkan atas setiap Muslim yang memiliki harta mencapai nisab, dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan Allah Ta’ala dalam kitab suci-Nya melalui firman-Nya:
{وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [البقرة: 110]
“Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surah Al-Baqarah ayat 110)
ففرض الله الزكاة، وجعلها ركنًا من أركان الإسلام، فمن منع الزكاة جاحدًا لفرضها كَفَرَ، ويجب على الإمام محاربته وقتاله، كما فعل الخليفة الراشد أبو بكر الصديق رضي الله عنه، عندما حارب أهل الردة بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم؛ حيث كان فيهم من ينكر وجوب الزكاة ويجحدها،
Allah mewajibkan zakat dan menjadikannya sebagai salah satu rukun Islam. Siapa saja yang menolak zakat karena mengingkari kewajibannya, maka ia telah kafir, dan pemimpin wajib memerangi serta melawannya, sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah Rasyidah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu saat memerangi kaum murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; di mana di antara mereka ada yang memungkiri dan mengingkari kewajiban zakat.
ومن منعها بخلًا مع إقراره بها أثِمَ وأُخذت منه كرهًا، والمزكِّي هو الشخص الذي تجب في ماله الزكاة، ويشترط أن يكون مسلمًا، ولا يشترط فيه البلوغ أو العقل، ويشترط لوجوب الزكاة شرطان أساسيان:
Adapun orang yang menolak membayar zakat karena kikir namun tetap mengakui kewajibannya, maka ia berdosa dan zakat tersebut diambil darinya secara paksa. Muzakki adalah orang yang hartanya wajib dizakati, dengan syarat ia harus seorang Muslim. Tidak disyaratkan bagi muzakki untuk harus balig atau berakal (dalam hal kepemilikan harta tersebut), namun untuk wajibnya zakat terdapat dua syarat utama:
1- ملك المسلم مالًا يبلغ نصابًا، وهو الحد الأدنى الذي تجب فيه الزكاة، ويختلف بحسب نوع المال.
1- Seorang Muslim memiliki harta yang mencapai nisab, yaitu batas minimum yang mewajibkan zakat, yang berbeda-beda menurut jenis hartanya.
2- مُضِيُّ حَوْلٍ (سنة قمرية) على ملكه للمال الذي تجب فيه الزكاة.
2- Telah berlalu masa satu tahun (tahun Hijriah/qomariyah) atas kepemilikan harta yang wajib dizakati tersebut.
أما زكاة الفطر فهي نوع آخر من أنواع الزكاة، ومستقلة وغير تابعة لأي منها، وتختلف عنها كونها تُؤخَذ من المسلمين ذكرًا وأنثى، صغارًا وكبارًا، من دون الفرق فيما بينهم، وحكمتها تطهير الصائمين من اللغو والرفث أثناء الصيام في شهر رمضان، وكذلك لتكون عونًا للفقراء والمحتاجين على شراء احتياجات العيد؛ ليشاركوا المسلمين فرحتهم.
Adapun zakat fitrah, ia adalah jenis zakat yang lain, berdiri sendiri dan tidak mengikuti jenis zakat lainnya. Perbedaannya adalah zakat ini diambil dari setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar, tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Hikmahnya adalah untuk menyucikan orang-orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia (laghwi) dan kata-kata kotor (rafats) selama berpuasa di bulan Ramadan, serta untuk membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dalam membeli keperluan hari raya agar mereka dapat berbagi kegembiraan bersama umat Islam lainnya.
ولما كان شهر رمضان هو خير الشهور وأفضلها، فهو موسم الطاعات وتربية النفوس وتهذيبها، فقد شُرعت فيه عبادات لم تُشرع في غيره من شهور السنة، كزكاة الفطر التي ارتبطت بهذا الشهر دون غيره، وهذه الزكاة صدقة تجب بالفطر من رمضان، وأُضيفت الزكاة إلى الفِطْرِ؛ لأنها سبب وجوبها.
Karena bulan Ramadan adalah bulan yang terbaik dan paling utama, ia merupakan musim ketaatan serta sarana mendidik dan memperbaiki jiwa. Di dalamnya disyariatkan ibadah-ibadah yang tidak disyariatkan pada bulan-bulan lainnya, seperti zakat fitrah yang berkaitan khusus dengan bulan ini. Zakat ini adalah sedekah yang wajib ditunaikan karena berbuka (berakhirnya) Ramadan, dan penyebutan zakat ini disandarkan pada al-Fithr (berbuka/fitrah) karena itu adalah sebab kewajibannya.
وزكاة الفطر مرتبطة بانتهاء عبادة عظيمة هي صوم شهر رمضان المبارك، فُرضت لتطهير نفسِ مَن صام رمضان من اللغو؛ وهو ما لا ينعقد عليه القلب من القول، ومن الرفث؛ وهو الفحش من الكلام، والحكمة الأخرى هي توفير الطعام للمسكين في يوم العيد؛ يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Zakat fitrah berkaitan dengan berakhirnya ibadah yang agung yaitu puasa bulan Ramadan yang mubarak. Ia diwajibkan untuk menyucikan jiwa orang yang berpuasa Ramadan dari perbuatan laghwi, yaitu perkataan sia-sia yang tidak diniatkan oleh hati, dan dari rafath, yaitu kata-kata keji. Hikmah lainnya adalah menyediakan makanan bagi orang miskin pada hari raya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((إن الصيام ليس من الأكل والشرب فقط، إنما الصيام من اللغو والرفث، فإن سابَّك أحد أو جهِل عليك، فقل: إني صائم)) [أخرجه ابن حبان (8/255، رقم الحديث: 3479)]
“Sesungguhnya puasa itu bukan hanya dari makan dan minum saja, melainkan puasa itu dari laghwi (perbuatan sia-sia) dan rafath (kata-kata kotor). Jika ada seseorang yang mencelamu atau berbuat jahil kepadamu, maka katakanlah: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Hibban)
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply