Peran Zakat dalam Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi (2)



دور الزكاة في تحقيق التنمية والانتعاش الاقتصاديين للبلدان الإسلامية

Peran Zakat dalam Mewujudkan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi bagi Negara-Negara Islam (Bagian Kedua)

Penulis:  Dr. Abdullah Muhammad Qadir Jibrail

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Peran Zakat dalam Mewujudkan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi bagi Negara-Negara Islam ini masuk dalam Kategori Tsaqafah Islamiyyah

هناك مجموعة كبيرة من القواعد تحكم الأموال الزكوية وفي نصابها وشروطها؛ منها ما يلي:

Ada sekumpulan besar kaidah yang mengatur harta zakat serta nisab dan syarat-syaratnya; di antaranya adalah sebagai berikut:

1- الأموال الزكوية يجب أن تكون ملكًا للإنسان:

1- Harta zakat harus merupakan milik manusia:

من شروط الأموال الزكوية هي تميُّز الثروة بتمام الملكية فيها، ويقصد بها تمام ملكيتي المنفعة والرقبة في آنٍ واحد.

Salah satu syarat harta zakat adalah kekayaan tersebut harus dicirikan dengan kepemilikan penuh di dalamnya, yang dimaksud adalah kepemilikan penuh atas manfaat dan aset secara bersamaan.

ففي منظور الاقتصاد الإسلامي: إن الملك الحقيقي هو لله تعالى فقط؛ يقول الله عز وجل:

Dalam perspektif ekonomi Islam: Sesungguhnya pemilik yang sebenarnya hanyalah Allah Ta’ala saja; Allah Azza wa Jalla berfirman:

{وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ} [النور: 33]، 

“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu” [An-Nur: 33].

فالمال ليس مال الإنسان، وإنما مال الله تعالى، أما أنتم فـمستخلفون فيه؛ يقول الله عز وجل: 

Maka harta itu bukanlah harta manusia, melainkan harta Allah Ta’ala, sedangkan kalian adalah pengelola (khalifah) di dalamnya; Allah Azza wa Jalla berfirman:

{وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ} [الحديد: 7]، 

“Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (sebagai khalifah) di dalamnya” [Al-Hadid: 7].

لذلك فأنتم تتصرفون بحسب إرادة المالك الحقيقي، وهو الله سبحانه وتعالى.

Oleh karena itu, kalian bertindak sesuai dengan kehendak Pemilik yang sebenarnya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وهذه النظرة للاقتصاد الإسلامي تختلف جذريًّا عن نظرة النظم الاقتصادية الوضعية للملكية؛ ففي النظام الاشتراكي تكون الملكية للدولة، وفي النظام الرأسمالي تكون الملكية للفرد، أما في الإسلام فالملكية لله سبحانه وتعالى، 

Pandangan ekonomi Islam ini berbeda secara fundamental dari pandangan sistem ekonomi buatan manusia mengenai kepemilikan; dalam sistem Sosialis kepemilikan adalah milik negara, dan dalam sistem Kapitalis kepemilikan adalah milik individu. Adapun dalam Islam, kepemilikan adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ففي النظام الاشتراكي تفعل الدولة ما تشاء تصرفًا مطلقًا، والفرد ليس له ملكية خاصة استثمارية، وفي النظام الرأسمالي يتصرف الفرد في رأس ماله تصرفًا مطلقًا غير مقيد، أما في الاقتصاد الإسلامي؛ فالمال مال الله تعالى، ولذلك لا بد أن يكون التصرف بحسب ما أمر به مالك المال الحقيقي، ومالكه الحقيقي هو الله تبارك وتعالى.

Dalam sistem Sosialis, negara melakukan apa yang dikehendakinya dengan tindakan mutlak, dan individu tidak memiliki kepemilikan pribadi untuk investasi. Dalam sistem Kapitalis, individu mengelola modalnya dengan tindakan mutlak yang tidak terikat. Sedangkan dalam ekonomi Islam; harta adalah harta Allah Ta’ala, oleh karena itu tindakan (pengelolaan) harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Pemilik harta yang sebenarnya, dan Pemilik yang sebenarnya adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala.

إن الإنسان في منظور الاقتصاد الإسلامي يستطيع أن يتصرف في المال الذي استخلفه الله تعالى فيه إنتاجًا واستهلاكًا، واستثمارًا وادخارًا، وهبة وتوريثًا، وغيرها من الأحكام الشرعية، وإذا امتلك كل هذه الحقوق في ملكية الله تعالى وبأمر الله، فإن الله يلزمه بتقييدات وشروط عديدة عند تصرفه بهذه الأموال، وكذلك يُوجِب عليه أحكامًا وقواعدَ عديدة يجب عليه الالتزام بها وتطبيقها عند تصرفه وتعامله بهذه الأموال، من أحد هذه الأحكام هو وجوب التزامه بأحكام الصدقات الواجبة، ومن ضمنها الزكاة.

Sesungguhnya manusia dalam perspektif ekonomi Islam dapat mengelola harta yang Allah Ta’ala telah jadikan ia sebagai pengelola (khalifah) di dalamnya, baik dalam hal produksi, konsumsi, investasi, tabungan, hibah, warisan, dan hukum-hukum syariat lainnya. Jika ia telah memiliki semua hak ini dalam kepemilikan Allah Ta’ala dan atas perintah Allah, maka Allah mewajibkannya dengan berbagai batasan dan syarat saat mengelola harta tersebut, serta mewajibkan kepadanya berbagai hukum dan kaidah yang harus ia patuhi dan terapkan saat mengelola dan bertransaksi dengan harta tersebut. Salah satu dari hukum ini adalah kewajiban untuk mematuhi hukum sedekah wajib, yang di antaranya adalah zakat.

2- إن الزكاة تجب في المال النامي: والمال النامي نوعان؛ هما:

2- Sesungguhnya zakat wajib pada harta yang berkembang: Harta yang berkembang ada dua jenis; yaitu:

أ- مالٌ نامٍ بطبيعته: المال الذي يعتبر ناميًا بطبيعته هو الذهب والفضة والنقود، فيجب أن يزُكي سواء أستثمر أم لم تستثمر، فمن استثمره زكَّاه، ومن لم يستثمره وجب عليه أن يزكيه أيضًا، فلو أن أحدًا ادخر مالًا ثم استثمره أو عطله، ولم يستثمره، يجب عليه أن يزكي هذا المال في كلتا الحالتين، 

a- Harta yang berkembang secara alami: Harta yang dianggap berkembang secara alami adalah emas, perak, dan uang tunai. Maka wajib dizakati baik diinvestasikan maupun tidak diinvestasikan. Barangsiapa yang menginvestasikannya maka ia menzakatinya, dan barangsiapa yang tidak menginvestasikannya maka ia wajib menzakatinya pula. Jika seseorang menyimpan uang lalu menginvestasikannya atau membiarkannya menganggur dan tidak menginvestasikannya, ia wajib menzakati harta ini dalam kedua kondisi tersebut.

ولو أن أحدًا اكتنز مالًا بنيَّةِ عدم تزكيته، فإنه يعتبر آثمًا عند الله تعالى، ويجب أن يتراجع عن موقفه هذا، ويجب عليه أن يؤدي زكاة ماله؛ لأنه إن لم يفعل هذا فإنه يشمله قول الله تعالى: 

Jika seseorang menimbun harta dengan niat tidak menzakatinya, maka ia dianggap berdosa di sisi Allah Ta’ala, dan ia harus mencabut sikapnya tersebut serta wajib menunaikan zakat hartanya; karena jika ia tidak melakukannya, maka ia termasuk dalam firman Allah Ta’ala:

{وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ} [التوبة: 34]، 

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” [At-Taubah: 34].

وأموال اليتامى أيضًا تشملها الزكاة؛ لذلك أمرنا الإسلام بأن نتاجر فيها حتى لا تأكلها الصدقة؛ يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Harta anak-anak yatim juga dicakup oleh zakat; oleh karena itu Islam memerintahkan kita untuk mengusahakannya (berdagang) agar tidak habis termakan oleh sedekah (zakat); Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((اتجروا في أموال اليتامى، لا تأكلها الزكاة))؛ [أخرجه الطبراني في الأوسط (4/264)، رقم الحديث: 4152]، 

“Perdagangkanlah dalam harta anak-anak yatim, jangan sampai ia dimakan oleh zakat”; [Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Awsath (4/264), nomor hadis: 4152],

وقول النبي عليه الصلاة والسلام:

dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

((ابتغوا في مال اليتامى، لا تستهلكها الصدقة))؛ [أخرجه البيهقي (4/107)، رقم الحديث: 7130]؛ 

“Carilah dalam harta anak yatim, jangan sampai ia dihabiskan oleh sedekah”; [Dikeluarkan oleh Al-Baihaki (4/107), nomor hadis: 7130];

ابتغوا: اطلبوا بجدٍّ واجتهاد، والمعنى: اجتهدوا في الاتِّجار في أموال اليتامى حتى لا تأكلها الصدقة؛ [جمع الجوامع للإمام السيوطي، شرح حديث رقم: 104]، وقوله صلى الله عليه وسلم: 

Ibtaghu: carilah dengan sungguh-sungguh dan tekun, maknanya: bersungguh-sungguhlah dalam berdagang menggunakan harta anak yatim agar tidak habis termakan oleh sedekah; [Jam’ul Jawami’ karya Imam As-Suyuthi, syarah hadis nomor: 104], dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

((احفظوا اليتامى في أموالهم لا تأكلها الزكاة))؛ [أخرجه الدارقطني (2/110)].

“Jagalah anak-anak yatim dalam harta mereka jangan sampai ia dimakan oleh zakat”; [Dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni (2/110)].

ب- مال غير نامٍ بطبيعته يمتلكه الإنسان: هناك أموال غير نامٍ لدى الإنسان يمتلكه ويقتنيه لأغراضه الشخصية، ولحاجاته الخاصة، ولأفراد عائلته؛ مثل: بيت السكنى، السيارة الشخصية، أثاث وأمتعة البيت؛ كالكراسي والثلاجة، والمبردة والمواعين والملابس، كل هذه الأشياء وما شابهها ليست مُعَدَّةً للتنمية، وما دامت غير معدة للنَّماء فلا زكاة فيها.

b- Harta yang tidak berkembang secara alami yang dimiliki manusia: Ada harta-harta yang tidak berkembang pada manusia yang dimiliki dan disimpannya untuk tujuan pribadi, kebutuhan khusus, dan anggota keluarganya; seperti: rumah tinggal, mobil pribadi, furnitur dan perlengkapan rumah seperti kursi, kulkas, pendingin ruangan, peralatan dapur, dan pakaian. Semua hal ini dan yang serupa dengannya tidak dipersiapkan untuk pengembangan, dan selama tidak dipersiapkan untuk pertumbuhan, maka tidak ada zakat di dalamnya.

الخلاصة: كل مال أو ثروة قابلة للنماء طبيعة؛ كالمزروعات والثمار، والنقود ورؤوس الأموال، وأموال التجارة، فإنها يجب أن تُزكَّى سواء أستثمر أم لم تستثمر، وكل مال أو ثروة غير قابلة للنماء طبيعة، فلا زكاة فيها.

Kesimpulan: Setiap harta atau kekayaan yang dapat berkembang secara alami; seperti tanaman dan buah-buahan, uang dan modal, serta harta perdagangan, maka wajib dizakati baik diinvestasikan maupun tidak diinvestasikan. Dan setiap harta atau kekayaan yang tidak dapat berkembang secara alami, maka tidak ada zakat di dalamnya.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.