لا عذر في إفطار رمضان بحجة عدم الصلاة
Tidak Ada Uzur Berbuka Ramadhan dengan Alasan Tidak Shalat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tidak Ada Uzur Berbuka Ramadhan dengan Alasan Tidak Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم من كان يفطر في بعض أيام رمضان سراً بنية أنه لا يصلي؟
Apa hukum orang yang berbuka pada sebagian hari di bulan Ramadhan secara sembunyi-sembunyi dengan alasan bahwa ia tidak melaksanakan shalat?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فصيام رمضان فرض على كل مسلم بالغ مقيم قادر. ولا يجوز لمسلم أن يفطر يوماً من رمضان إلا بعذر شرعي، فإن أفطر -سراً أو جهراً- من غير عذر فقد ارتكب كبيرة من كبائر الذنوب، والله تعالى هو الرقيب على عباده الشهيد الذي لا يخفى عليه خافيه:
Puasa Ramadhan adalah fardhu (wajib) bagi setiap Muslim yang baligh, bermukim (tidak sedang safar), dan mampu. Tidak boleh bagi seorang Muslim untuk berbuka satu hari pun di bulan Ramadhan kecuali karena uzur syar’i. Jika ia berbuka —baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan— tanpa uzur, maka ia telah melakukan salah satu dosa besar (kaba’ir). Allah Ta’ala Maha Mengawasi hamba-hamba-Nya, Maha Menyaksikan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ [غافر:١٩]
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada.” [Surah Ghafir: 19]
وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ [التغابن:٤]
“…dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” [Surah At-Taghabun: 4]
وقال الله تعالى:
Dan Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ [آل عمران:٥]
“Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit.” [Surah Aal-Imran: 5]
فعلى من ارتكب هذا الذنب أن يتوب إلى الله تعالى توبة صادقة فإن الله يقبل توبة التائبين، قال تعالى:
Maka bagi siapa pun yang telah melakukan dosa ini, wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang tulus (nasuha), karena sesungguhnya Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ [الزمر:٥٣]
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'” [Surah Az-Zumar: 53]
وتوبته بأن يقضي الأيام التي أفطرها ويندم على فعله ذلك، ولا بد أن يعزم على أن لا يعود إلى هذه المعصية وإذا كان هذا في الصيام! فإن الصلاة أعظم فهي عمود الإسلام لقول النبي صلى الله عليه وسلم:
Taubatnya adalah dengan mengqadha (mengganti) hari-hari yang ia tidak berpuasa padanya, menyesali perbuatannya tersebut, serta harus bertekad kuat untuk tidak kembali melakukan maksiat tersebut. Jika hal ini berlaku pada puasa, maka urusan shalat jauh lebih besar lagi karena ia adalah tiang Islam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“ألا أخبركم برأس الأمر وعموده وذروة سنامه؟ رأس الأمر الإسلام وعمود الصلاة وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله”
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang pokok segala urusan, tiangnya, dan puncak tertingginya? Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”
أخرجه أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه. وقد حذر الله تعالى من إضاعتها وتوعد من أضاعها بـ(غي) وهو وادٍ في جهنم، فقال الله سبحانه:
(Dikeluarkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Dan Allah Ta’ala telah memperingatkan dari menyia-nyiakannya serta mengancam orang yang menyia-nyiakannya dengan “Ghayy”, yaitu sebuah lembah di Neraka Jahanam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً [مريم:٥٩]
“Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Ghayy).” [Surah Maryam: 59]
فإذا تركت الصلاة فقد حكم بعض أهل العلم على تاركها بالكفر، لقول النبي صلى الله عليه وسلم:
Jika shalat ditinggalkan, maka sebagian ahli ilmu telah menghukumi pelakunya sebagai kafir, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر”
“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya ia telah kafir.”
خرجه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح من حديث بريدة عن أبيه. والصلاة أول ما يحاسب عليه العبد؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:
(Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata: Hadits Hasan Shahih dari hadits Buraidah dari ayahnya). Shalat juga merupakan perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت فقد خاب وخسر…”
“Perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat dari amalnya adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka ia telah beruntung dan sukses, namun jika shalatnya rusak, maka ia telah merugi dan celaka…”
خرجه النسائي وغيره من حديث أبي هريرة رضي الله عنه. فالواجب التوبة من ترك الصلاة وإهمالها لأنها ركن من أركان الإسلام، وقد أوصى بها النبي صلى الله عليه وسلم في آخر حياته وهو ينازع الموت، فقال:
(Dikeluarkan oleh An-Nasa’i dan lainnya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). Maka wajib bertaubat dari meninggalkan dan meremehkan shalat karena ia merupakan salah satu rukun Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkannya di akhir hayat beliau saat sedang menghadapi maut, beliau bersabda:
“الصلاة الصلاة وما ملكت أيمانكم” خرجه أحمد وابن ماجه وغيرهم.
“Jagalah shalat, jagalah shalat, dan (perhatikanlah) hamba sahaya kalian.” (Dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan selainnya).
وكان عمر رضي الله عنه يقول: إن أهم أمري عندكم الصلاة فمن ضيعها فهو لما سواها أضيع. وقال: فمن ضيعها فلاحظ له في الإسلام. ومن قصر في واجب فلا يقصر في واجب آخر بحجّة تقصيره في الأول لئلا تجتمع عليه الآثام من كل جهة، بل الواجب أن يؤدي جميع الواجبات ولا يخل بشيء منها.
Umar radhiyallahu ‘anhu dahulu berkata: “Sesungguhnya urusan kalian yang paling penting menurutku adalah shalat. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk urusan lainnya ia akan lebih menyia-nyiakannya lagi.” Beliau juga berkata: “Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka tidak ada bagian baginya dalam Islam.” Dan barangsiapa yang lalai dalam satu kewajiban, janganlah ia menambah kelalaian pada kewajiban lainnya dengan alasan kelalaian yang pertama tadi, agar dosa-dosa tidak berkumpul pada dirinya dari segala sisi. Sebaliknya, wajib baginya menunaikan seluruh kewajiban dan tidak merusak satu pun darinya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply