Peran Zakat dalam Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi (5)



دور الزكاة في تحقيق التنمية والانتعاش الاقتصاديين للبلدان الإسلامية

Peran Zakat dalam Mewujudkan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi bagi Negara-Negara Islam (Bagian Kelima)

Penulis:  Dr. Abdullah Muhammad Qadir Jibrail

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Peran Zakat dalam Mewujudkan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi bagi Negara-Negara Islam ini masuk dalam Kategori Tsaqafah Islamiyyah

5- لا ثني ولا تكرار في الزكاة في الحول والحصاد والسبب الواحد:

5- Tidak ada penduaan dan tidak ada pengulangan dalam zakat pada tahun (haul), panen, dan sebab yang sama:

هذه القاعدة تعني ما يلي:

Kaidah ini berarti hal-hal sebagai berikut:

أ- مرور سنة – حول – قمرية كاملة على ملكية النصاب : فلا زكاة في المال مهما بلغ، إلا بعد مرور عام هجري واحد كامل عليه؛ وذلك بدليل قول رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ليس في مال زكاة حتى يحول عليه الحول))؛ [سنن أبي داود، رقم الحديث: 1573]، ويُستثنى من هذا الشرط الزروعُ والثمار والدفائن، فلا يشترط الحول لوجوب الزكاة في هذه الأموال، بل تجب فيها فور تحصيلها أو الحصول عليها.

a- Berlalu satu tahun – haul – qomariyah penuh atas kepemilikan nisab 1: maka tidak ada zakat pada harta tersebut berapapun jumlahnya, kecuali setelah berlalu satu tahun hijriah penuh padanya; hal ini berdasarkan dalil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada zakat pada harta hingga berlalu atasnya satu tahun (haul)”; [Sunan Abi Dawud, nomor hadis: 1573]. Dikecualikan dari syarat ini adalah tanaman, buah-buahan, dan barang temuan (rikaz), maka tidak disyaratkan haul untuk wajibnya zakat pada harta-harta ini, melainkan wajib padanya segera setelah dipanen atau didapatkan.

ب- إن المال لا يُزكَّى في الحول الواحد أكثر من مرة؛ لأن الزكاة تُفرض مرةً واحدةً فقط في الحول الواحد.

b- Sesungguhnya harta tidak dizakati lebih dari satu kali dalam satu tahun (haul); karena zakat hanya diwajibkan satu kali saja dalam satu tahun.

ت- لا يزكَّى المال مرتين بسببين مختلفين: فعلى سبيل المثال إن الماشية – أي النعم من الشاة والبقر والإبل – الْمُعَدَّة للتجارة من قِبَلِ صاحبها يُزكَّى مرة واحدة فقط عند انتهاء الحول (سنة قمرية واحدة) عليها؛ لأنها أصبحت كسائر عروض التجارة، ويخرج منها زكاة الأموال الجارية؛ أي (2,5%) من قيمتها، ولا يخرج عنها زكاة الماشية، وهذا يعني أن تاجر الماشية هذه لا يزكي في آن واحد زكاة الماشية وزكاة التجارة في الماشية ذاتها، بل يزكي منها مرةً واحدةً فقط زكاة عروض التجارة.

c – Tidak dizakati suatu harta sebanyak dua kali karena dua sebab yang berbeda: sebagai contoh, sesungguhnya hewan ternak – yakni hewan ternak berupa kambing, sapi, dan unta – yang disiapkan untuk perdagangan oleh pemiliknya, hanya dizakati satu kali saja pada saat berakhirnya haul (satu tahun qomariyah) padanya; karena ia telah menjadi seperti barang dagangan lainnya, dan dikeluarkan darinya zakat mal yang berlaku; yaitu (2,5%) dari nilainya, dan tidak dikeluarkan darinya zakat ternak. Ini berarti bahwa pedagang ternak tersebut tidak menzakati zakat ternak dan zakat perdagangan pada ternak yang sama secara bersamaan, melainkan ia menzakati darinya satu kali saja yaitu zakat barang dagangan.

وكذلك فإن المزروعات والثمار يزكَّى منها مرة واحدة فقط عند حصادها وبشروطها الشرعية الخاصة، حتى ولو أعدها صاحبها للتجارة أو لأي غرض آخر؛ لأن المال يفرض عليها الزكاة مرة واحدة فقط، ولا يجوز الازدياد على المرة الواحدة.

Begitu pula dengan tanaman dan buah-buahan, dizakati darinya satu kali saja pada saat panen dengan syarat-syarat syar’i yang khusus, meskipun pemiliknya menyiapkannya untuk perdagangan atau tujuan lainnya; karena harta tersebut hanya diwajibkan zakat satu kali saja, dan tidak boleh lebih dari satu kali.

ج- لا يوجد هناك ربط بين الضريبة الوضعية والزكاة: لذلك إذا خضع مال معين للضريبة الوضعية، فإن هذا لا يُعفيه عن الزكاة؛ لأن الضريبة والزكاة شيئan منفصلان ومختلفان؛ لذلك نقول: يمكن أن يحدث الجمع بين الزكاة والضريبة في المال الواحد في المجتمعات الإسلامية التي يحكمها الاقتصاد الوضعي، ولكن لا يمكن الجمع بين زكاتين في مال واحد في أي مجتمع إسلامي، سواء حكمه الاقتصاد الإسلامي أو الاقتصاد الوضعي.

d – Tidak ada kaitan antara pajak konvensional (positif) dengan zakat: oleh karena itu, jika suatu harta tertentu telah dikenakan pajak konvensional, maka hal tersebut tidak membebaskannya dari zakat; karena pajak dan zakat adalah dua hal yang terpisah dan berbeda. Oleh sebab itu kami katakan: dapat terjadi penggabungan antara zakat dan pajak pada satu harta yang sama di dalam masyarakat Islam yang diatur oleh ekonomi konvensional, namun tidak mungkin menggabungkan dua zakat pada satu harta yang sama di masyarakat Islam mana pun, baik yang diatur oleh ekonomi Islam maupun ekonomi konvensional.

6- لا تسقط الزكاة الواجبة بالتقادُم:

6- Zakat yang wajib tidak gugur karena kadaluwarsa:

فمن وجبت الزكاة في ماله ولم يخرجها لأكثر من حول، فإن ذمته لا تبرأ إلا بإخراج كل ما وجب عليه، وهذا ما يتوضح من النصوص الفقهية التالية:

Maka barangsiapa yang telah wajib zakat atas hartanya namun ia tidak mengeluarkannya selama lebih dari satu tahun (haul), maka tanggung jawabnya (dzimmah) tidak akan lepas kecuali dengan mengeluarkan seluruh zakat yang wajib baginya. Hal ini diperjelas dalam teks-teks fikih berikut:

إذا أخَّر المالك إخراج الزكاة يترتب على ذلك أمران اثنان:

Apabila pemilik harta menunda pengeluaran zakat, maka hal tersebut berakibat pada dua perkara:

الأول: الإثم؛ إذ هو في حكم من يحبس مال الفقراء عنده دون موجب، وهو حرام، ويُستثنى من ذلك ما إذا أخَّرها لانتظار قريب أو جار أو من هو أحوج من الحاضرين، شريطة ألَّا يتضرر الحاضرون بهذا التأخير ضررًا بليغًا، ويزداد جوعهم وعوزهم، فيأثم عند ذلك مطلقًا.

Pertama: Dosa; karena ia berada dalam status orang yang menahan harta fakir miskin di sisinya tanpa alasan yang dibenarkan, dan itu adalah haram. Dikecualikan dari hal tersebut adalah apabila ia menundanya untuk menunggu kerabat, tetangga, atau orang yang lebih membutuhkan daripada mereka yang hadir saat itu, dengan syarat bahwa mereka yang hadir tidak tertimpa mudarat yang besar akibat penundaan tersebut, seperti bertambahnya rasa lapar dan kemiskinan mereka; jika demikian, maka ia berdosa secara mutlak.

الثاني: الضمان؛ أي: ينتقل حق الفقراء والمستحقين من التعلق بعين المال إلى التعلق بذمة المالك، فتصبح ذمته مشغولة بحقهم، حتى وإن تَلَفَ جميع ماله؛ ذلك لأنه قصر بسبب التأخير الذي لم يكن له فيه عذر، فيتحمل مسؤولية تقصيره، حفظًا لمصلحة المستحقين، حتى ولو كان تأخيره لانتظار من ذكر آنفًا.

Kedua: Jaminan (Dhamman); yaitu hak fakir miskin dan para penerima zakat berpindah dari ketergantungan pada wujud harta menjadi ketergantungan pada tanggung jawab (dzimmah) pemilik harta. Dengan demikian, tanggung jawabnya tetap terikat dengan hak mereka, meskipun seluruh hartanya telah musnah; hal itu karena ia telah lalai disebabkan penundaan yang tanpa uzur, sehingga ia memikul tanggung jawab atas kelalaiannya demi menjaga kemaslahatan para penerima zakat, meskipun penundaan tersebut dilakukan karena menunggu orang-orang yang telah disebutkan sebelumnya 2

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Dr. Mustafa al-Khin, Dr. Mustafa al-Bugha, dan Ali asy-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam asy-Syafi’i, Jilid Pertama, tentang Ibadah dan Lampirannya, Sumber sebelumnya, hal. 277.
  2. Dr. Mustafa al-Khin, Dr. Mustafa al-Bugha, dan Ali asy-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam asy-Syafi’i, Jilid Pertama, tentang Ibadah dan Lampirannya, Dar al-Qalam, Damaskus, Cetakan ke-13, 1433 H/ 2012 M, hal. 313, 314.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.