دور الزكاة في تحقيق التنمية والانتعاش الاقتصاديين للبلدان الإسلامية
Peran Zakat dalam Mewujudkan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi bagi Negara-Negara Islam (Bagian Keenam)
Penulis: Dr. Abdullah Muhammad Qadir Jibrail
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Peran Zakat dalam Mewujudkan Pembangunan dan Pemulihan Ekonomi bagi Negara-Negara Islam ini masuk dalam Kategori Tsaqafah Islamiyyah
متى تخرج زكاة الدَّين؟
Kapan Zakat Piutang Dikeluarkan?
أ- إذا كان الدَّين حالًّا، وكان الدائن قادرًا على أخذه من المدين، بأن كان المدين مليئًا يجد ما يفي به دينه، وجب على الدائن إخراج زكاته فور وجوبها وإن لم يقبضه؛ لأنه في حكم المال الذي تحت يده، فهو كالوديعة في يد المدين، يقدر على أخذه والتصرف فيه.
a- Jika piutang sudah jatuh tempo (halan) dan kreditur mampu mengambilnya dari debitur—karena debitur adalah orang yang berkecukupan (mali’) yang memiliki harta untuk melunasi hutangnya—maka kreditur wajib mengeluarkan zakatnya segera setelah jatuh tempo meskipun ia belum menerimanya. Hal ini karena piutang tersebut berstatus hukum seperti harta yang berada di bawah kekuasaannya, sebagaimana titipan (wadi’ah) di tangan debitur yang mampu ia ambil dan ia kelola kapan saja.
ب- إن كان الدين حالًّا، وكان الدائن غير قادر على أخذه لعُسْرِ المدين أو إنكاره له، ولا بينة للدائن عليه، فلا يجب على الدائن إخراج زكاته في الحال؛ لأنه غير قادر على أخذه والتصرف فيه. وإنما يُحسب ويُحفظ فترة بقائه في ذمة المدين، فإذا قبضه زكَّاه عما مضى عليه من السنين. لأن زكاته كل سنة لزِمَتْه وثبتت في ذمته، كَمَالِ الغائب عنـه، فوجب عليه وفاؤها حين قبضه له.
b- Jika piutang sudah jatuh tempo namun kreditur tidak mampu mengambilnya karena kesulitan ekonomi debitur (usr) atau karena debitur mengingkarinya sementara kreditur tidak memiliki bukti, maka kreditur tidak wajib mengeluarkan zakatnya saat itu juga. Hal itu karena ia tidak mampu mengambil dan mengelola harta tersebut. Namun, zakatnya tetap dihitung dan dicatat selama masa piutang tersebut berada dalam tanggungan debitur; apabila ia telah menerimanya, maka ia menzakatinya untuk tahun-tahun yang telah berlalu. Hal ini dikarenakan zakat setiap tahunnya telah menjadi kewajiban yang tetap dalam tanggungannya, seperti halnya harta yang sedang tidak berada di tempat (ghaib), sehingga wajib baginya untuk melunasinya saat ia telah menerimanya.
ج- كذلك إذا كان الدَّين مؤجَّلًا، فإنه لا يجب عليه إخراج الزكاة حتى يحل الأجل، فإذا حل الأجل وقبضه – أو لم يقبضه، وكان قادرًا على قبضه – زكَّاه عما مضى من السنين، وإن حلَّ الأجل ولم يقبضه، وكان غير قادر على قبضه، انتظر، فإذا قبضه زكَّاه عما مضى من السنين.
c- Demikian pula jika piutang tersebut berjangka waktu (muajjal), maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat hingga jatuh temponya tiba. Jika jatuh tempo telah tiba dan ia telah menerimanya—atau belum menerimanya padahal ia mampu untuk mengambilnya—maka ia menzakatinya untuk tahun-tahun yang telah berlalu. Namun jika jatuh tempo telah tiba dan ia belum menerimanya karena tidak mampu untuk mengambilnya, maka ia menunggu hingga menerimanya, lalu menzakatinya untuk tahun-tahun yang telah berlalu 1 .
القواعد العامة لزكاة المال:
Kaidah-Kaidah Umum Zakat Mal:
- يجب أن يمر على المال عام هجري قمري كامل.
- لا بد أن يتحقق في المال الخاضع للزكاة النماء والزيادة، وبذلك لا تخضع الأصول الثابتة والأشياء التي تستخدم للاستعمال الشخصي للزكاة.
- يجب أن يبلغ المال النصاب.
- يجوز ضم الثروة النقدية إلى صافي وعاء عروض التجارة، ويكون لها نِصَابٌ واحد.
- يتم تقويم عروض التجارة وعناصر الثروة النقدية لأغراض الزكاة على أساس القيمة الجارية لها وقت حلول الزكاة.
- Harta wajib melewati masa satu tahun Hijriah (Qomariyah) penuh.
- Harta yang menjadi objek zakat haruslah harta yang berkembang dan bertambah (nama’); dengan demikian, aset tetap dan barang-barang yang digunakan untuk keperluan pribadi tidak dikenakan zakat.
- Harta tersebut wajib mencapai batas minimum (nisab).
- Diperbolehkan untuk menggabungkan kekayaan tunai ke dalam nilai bersih barang dagangan, dan keduanya memiliki satu nisab yang sama.
- Penilaian terhadap barang dagangan dan unsur-unsur kekayaan tunai untuk tujuan zakat dilakukan berdasarkan nilai pasar yang berlaku pada saat jatuh tempo zakat.
ونستطيع أن نبين الدور الهام والفعالة للزكاة في تحقيق الانتعاش والتنمية الاقتصاديين في النظام الاقتصاد الإسلامي وعبر النقاط التالية:
Kita dapat menjelaskan peran penting dan efektif zakat dalam mewujudkan pemulihan dan pembangunan ekonomi dalam sistem ekonomi Islam melalui poin-poin berikut:
1- دور الزكاة في علاج مشكلة الفقر والقضاء عليها:
1- Peran zakat dalam menangani masalah kemiskinan dan memberantasnya:
للزكاة دور أساسي في القضاء على الفقر، وفي التقليل من مستوياتها، وهذا ما يتبين من النقاط التالية:
Zakat memiliki peran mendasar dalam memberantas kemiskinan dan menekan tingkatannya, hal ini terlihat dari poin-poin berikut:
مساهمة الزكاة في تحويل الفقراء القادرين على العمل إلى منتجين من خلال مساهمتها في تمويل المشاريع الصغيرة والمتناهية الصغر لصالح الفقراء والمساكين.
- Kontribusi zakat dalam mengubah kaum fakir yang mampu bekerja menjadi produsen melalui partisipasinya dalam mendanai proyek-proyek kecil dan mikro demi kemaslahatan fakir miskin.
- مساهمتها في ازدياد القوة الشرائية للنقود بنقلها إلى الفقراء الذين ينفقونها على الضروريات والحاجيات، بدلًا من أن ينفقها الأغنياء على الكماليات؛ لأن الغنيَّ تكون لديه منفعة الوحدة الحدية الأخيرة للدخل أقل من منفعة الوحدة الحدية الأخيرة للدخل لدى الفقير؛ لهذا فإن نقل عدد من الوحدات النقدية من دَخْلِ الغَنِيِّ عبر الزكاة إلى الفقير سوف تسبب كسبًا للفقير بها أكثر من نقصان الغني لها.
- Kontribusi zakat dalam meningkatkan daya beli uang dengan cara memindahkannya kepada kaum fakir yang akan membelanjakannya untuk kebutuhan pokok dan mendesak, alih-alih dibelanjakan oleh orang kaya untuk barang-barang mewah. Hal ini dikarenakan bagi orang kaya, utilitas marginal dari unit pendapatan terakhirnya lebih rendah dibandingkan utilitas marginal dari unit pendapatan terakhir bagi orang miskin. Oleh sebab itu, pemindahan sejumlah unit moneter dari pendapatan orang kaya melalui zakat kepada orang miskin akan memberikan keuntungan bagi si miskin yang jauh lebih besar daripada rasa kehilangan yang dialami si kaya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply