الترابط في القرآن الكريم وفائدته في الحياة
Hubungan Antar-Ayat dalam Al-Qur’an al-Karim dan Manfaatnya dalam Kehidupan (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hubungan Antar-Ayat dalam Al-Qur’an al-Karim ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Quran
دائما نسمع بعض المسلمين يقولون الدنيا تحتاج إلى الصبر، والمسلم له الآخرة فقط أما الكافر فله الدنيا، وكأن الحزن قرين المسلمين فقط، ثم قرأت القرآن؛ فوجدت الله يمن على المسلمين بإرسال الرسول ليعلمنا ما فيه صلاحنا، ويمن علينا بأنه- تعالى- أرسل إلينا القرآن فيه هدى وشفاء ورحمة وذكرى للمؤمنين.
Kita sering mendengar sebagian kaum Muslimin mengatakan bahwa dunia membutuhkan kesabaran, dan bagi seorang Muslim hanyalah akhirat saja sementara bagi orang kafir adalah dunia, seolah-olah kesedihan adalah karib bagi kaum Muslimin semata. Namun kemudian aku membaca Al-Qur’an; maka aku dapati Allah memberikan karunia kepada kaum Muslimin dengan mengutus Rasul untuk mengajarkan kita apa yang mendatangkan kebaikan bagi kita, dan Dia memberikan karunia kepada kita bahwa Dia — Ta’ala — menurunkan kepada kita Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat petunjuk, penawar (syifa), rahmat, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
أمرنا الله تعالى بتدبر كلامه، ولو كانت التفسيرات وحدها تغني لما أمرنا بالتدبر والتفكر، وكلما تدبرنا القرآن أحسسنا بجماله وحكمته وعظمته، بعكس الكتب البشرية التي ربما تتغير أفكارها بتغير الأحوال والظروف،
Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk melakukan tadabbur terhadap firman-Nya. Seandainya penjelasan tafsir saja sudah mencukupi, niscaya Dia tidak akan memerintahkan kita untuk melakukan tadabbur dan berpikir. Setiap kali kita melakukan tadabbur terhadap Al-Qur’an, kita akan merasakan keindahan, hikmah, dan keagungannya, berbeda dengan kitab-kitab karya manusia yang ide-idenya mungkin berubah seiring perubahan keadaan dan kondisi.
أما القرآن فهو ثابت في حكمته متجدد في عطائه لا يستفيد من نوره إلا أولو الألباب؛ لأن المسلم الذي يقرؤه بلا تدبر لا يقف عند الآيات التي تصف الكفار، ويقول في نفسه لست منهم، وفي نفس الوقت يفعل أفعالهم بحذافيرها ويتكلم كلامهم كما جاء في القرآن تماماً.
Adapun Al-Qur’an, ia tetap dalam hikmahnya namun selalu baru dalam pemberiannya; tidak ada yang dapat mengambil manfaat dari cahayanya kecuali Ulul Albab. Sebab, seorang Muslim yang membacanya tanpa tadabbur tidak akan merenungi ayat-ayat yang menyifati orang kafir, dan ia akan berkata dalam hatinya “aku bukan bagian dari mereka”, padahal pada saat yang sama ia melakukan perbuatan mereka secara persis dan mengucapkan perkataan mereka tepat seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
وبقراءة القرآن قراءة عادية تبدو الآيات غير مترابطة، تنتقل من موضوع إلى آخر، وحاول بعض الباحثين مثل الشهيد سيد قطب في الظلال ربط الآيات بعضها ببعض ولكنه كما ذكر في سورة البقرة أنه يجمعها محور واحد مزدوج يترابط الخطان الرئيسان فيه ترابطاً شديداً، وقال عن سورة آل عمران إنها تصور حياة الجماعة المسلمة من بعد غزوة بدر إلى ما بعد غزوة أحد بأحداثها.
Dengan membaca Al-Qur’an secara biasa, ayat-ayatnya tampak tidak saling berhubungan, berpindah dari satu topik ke topik lainnya. Beberapa peneliti seperti asy Syahid Sayyid Quthb dalam kitab Fi Zhilalil Qur’an telah mencoba menghubungkan ayat-ayat tersebut satu sama lain. Namun sebagaimana yang ia sebutkan dalam Surah al Baqarah, bahwa ayat-ayat tersebut disatukan oleh satu poros ganda di mana dua garis utamanya saling terhubung dengan sangat kuat. Beliau juga mengatakan tentang Surah Aali ‘Imran bahwa ia menggambarkan kehidupan jamaah Muslim dari setelah Perang Badr hingga setelah Perang Uhud beserta peristiwa-peristiwanya.
ولقد حاولت أن أربط كل سورة في القرآن برابط واحد بعيداً عن الازدواج، ولم أربطها بالزمن؛ لأن القرآن وإن نزل متفرقاً بحسب الأحداث كي يتعلم الناس وحتى يكون أثبت في النفوس بالتطبيق العملي، فهو في الأصل مرشد وهادٍ لكل العصور فما يعنيني هو المعنى والحدث نفسه وليس الزمن، فإن وُفِّقت فالفضل لله تعالى وحده، وحاولت أيضاً الربط بين كل سورة والسورة التي تليها.
Sungguh aku telah mencoba untuk menghubungkan setiap surah dalam Al-Qur’an dengan satu ikatan tanpa adanya penggandaan poros, dan aku tidak menghubungkannya dengan dimensi waktu; karena Al-Qur’an — meskipun diturunkan secara bertahap sesuai peristiwa agar manusia belajar dan agar lebih kokoh dalam jiwa melalui penerapan praktis — pada asalnya adalah pembimbing dan pemberi petunjuk bagi setiap zaman. Maka yang menjadi fokusku adalah makna dan peristiwa itu sendiri, bukan waktunya. Jika aku berhasil, maka karunia itu hanyalah milik Allah Ta’ala semata. Aku juga mencoba menghubungkan antara setiap surah dengan surah berikutnya.
سورة الفاتحة
Surah al Faatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) [الفاتحة: 1 – 7]
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (1) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (2) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (3) Pemilik hari pembalasan. (4) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (5) Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (6) (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (7)” (Surah al Faatihah ayat 1 – 7)
من الطريف أن أي إنسان يؤمن بوجود الله يمكنه قراءة فاتحة الكتاب بلا أدنى حرج، لأنها لا تتعرض لأي ملة؛ فصاحب أي ملة يرى أن أهل الملة الأخرى مغضوب عليهم وضالون، الفاتحة هي ميثاق بين العبد وربه ليس فيها عذاب و لا عقاب وإنما كلها رحمة وترغيب وحب الله للبشر، فالمؤمن بالله يعبده ويتوكل عليه، ويطلب منه العون؛ لأنه ربه وهو أولى به،
Sangat menarik bahwa setiap manusia yang beriman kepada keberadaan Allah dapat membaca Faatihatul Kitaab ini tanpa beban sedikit pun, karena ia tidak menyerang agama (millah) mana pun; sebab penganut agama mana pun akan memandang bahwa penganut agama lain adalah mereka yang dimurkai dan sesat. Al Faatihah adalah sebuah janji (misi) antara hamba dan Tuhannya, di dalamnya tidak ada penyebutan azab maupun siksaan, melainkan seluruhnya adalah rahmat, motivasi (targhib), dan cinta Allah kepada manusia. Maka orang yang beriman kepada Allah akan menyembah-Nya dan bertawakal kepada-Nya, serta memohon pertolongan kepada-Nya; karena Dia adalah Tuhannya dan Dia lebih berhak atas dirinya.
وبدأت {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1] وهي تريح البال وتهدئ الأعصاب وليس كما يقول بعض الغربيين إن إله المسلمين قاسٍ يتوعدهم بالعذاب، فرحمة الله سبقت عذابه ورحمته وسعت كل شيء المؤمن والكافر،
Ia dimulai dengan kalimat Bismillaahir Rahmaanir Rahiim yang menenangkan pikiran dan meneduhkan saraf, tidak seperti yang dikatakan sebagian orang Barat bahwa Tuhannya orang Muslim itu keras dan selalu mengancam dengan azab. Rahmat Allah mendahului azab-Nya dan rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, baik bagi yang beriman maupun yang kafir.
ومن رحمته إرسال الرسل وقد يسأل سائل ويقول: ليته لم يرسل الرسل ولعشنا نفعل ما نشاء، وهذا لا يجدي لأن الله خلق الكون كله بنظام، سواء أبينا أو رضينا، وإذا لم يخبرنا بالنظام الذي اختاره لنا واخترنا نظاماً آخر لخربت حياتنا ونفوسنا ولفسدت الأرض.
Di antara rahmat-Nya adalah mengutus para Rasul. Mungkin ada yang bertanya: “Seandainya saja Dia tidak mengutus para Rasul dan kita hidup melakukan apa saja yang kita mau,” namun hal ini tidaklah berguna karena Allah menciptakan alam semesta ini dengan sebuah sistem, baik kita suka atau tidak. Jika Dia tidak memberitahu kita tentang sistem yang Dia pilihkan untuk kita dan kita memilih sistem yang lain, niscaya akan rusaklah kehidupan dan jiwa kita, serta akan hancurlah bumi ini.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply