الترابط في القرآن الكريم وفائدته في الحياة
Hubungan Antar-Ayat dalam Al-Qur’an al-Karim dan Manfaatnya dalam Kehidupan (Bagian Kedua)
Oleh : ‘Ulaa al Jamaal
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hubungan Antar-Ayat dalam Al-Qur’an al-Karim ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Quran
لأن صلاحها مرتبط بصلاحنا، ولأنه تعالى لم يخلقنا عبثاً، ولكن خلقنا للخلود وهذه الدار موصلة للحياة الأخرى، فالحمد لله أنه تعالى وهبنا الحياة للخلود ودلنا على طريق الفلاح الذي من سلكه سعد في الدارين.
Sebab kebaikan dunia berkaitan dengan kebaikan kita, dan karena Dia Ta’ala tidak menciptakan kita secara sia-sia, melainkan menciptakan kita untuk keabadian, dan negeri ini (dunia) adalah pengantar menuju kehidupan akhirat. Maka al Hamdulillah, bahwasanya Dia Ta’ala telah menganugerahkan kita kehidupan untuk keabadian dan menunjukkan kita jalan keberuntungan (thariiqul falaah) yang barangsiapa menempuhnya niscaya ia akan bahagia di dunia dan akhirat.
فالحمد لله هي مفتاح الوصول إلى الله، فالحمد لله على نعمة الربوبية، وعلى نعمة أنه لا شريك له في حكمه وليس هناك وسيط بيننا وبينه، فيكفي الإنسان أن يرفع يديه إلى السماء بإخلاص، ويقول يا رب فيسمعه،
al Hamdulillah adalah kunci untuk sampai kepada Allah. al Hamdulillah atas nikmat Rububiyah, dan atas nikmat bahwasanya tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hukum-Nya, serta tidak ada perantara antara kita dengan-Nya. Cukuplah bagi manusia untuk mengangkat kedua tangannya ke langit dengan ikhlas dan berucap “Ya Rabb”, maka Dia akan mendengarnya.
وهذه نعمة كبرى ليس بعدها نعمة، ونحمده لأنه رب العالمين وليس رب الملوك فقط أو طبقة دون طبقة وإنما ربنا كلنا، وينتقم من وزير لصالح فقير حقير في عين الناس، ومن رحمة الله أنه لم يجعل أحد العباد يحكم على أحد إلا لحكمة؛ لأننا نقول في الدعاء: “ربنا لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك و لا يرحمنا”،
Ini adalah nikmat agung yang tidak ada nikmat lain setelahnya. Kita memuji-Nya karena Dia adalah Tuhan semesta alam, bukan Tuhan para raja saja atau Tuhan bagi kelas tertentu saja, melainkan Tuhan kita semua. Dia membalas perbuatan seorang menteri demi membela orang fakir yang dianggap rendah di mata manusia. Di antara rahmat Allah adalah Dia tidak menjadikan seorang hamba menghakimi hamba lainnya kecuali karena suatu hikmah; karena kita mengucapkan dalam doa: “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau kuasakan atas kami — disebabkan dosa-dosa kami — orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami.”
ومن رحمته أنه جعل أمر الإنسان بيده فيعمل الإنسان ويتقي الله ولا يطيع فيه أحداً، والله يضمن له النجاة. ومن رحمته أنه يعلم ما تخفي الصدور ويحاسبنا على ذلك. ومن رحمته أيضاً أنه دلنا على ما يرضيه ويكفر عنا ذنوبنا، مثل الصوم والصلاة والإنفاق على الفقراء ووعدنا بالخلف، والصدقة أمان من الأمراض والفقر.
Di antara rahmat-Nya pula, Dia menjadikan urusan manusia berada di tangannya sendiri, sehingga manusia beramal dan bertakwa kepada Allah serta tidak menaati siapa pun dalam hal maksiat kepada-Nya, dan Allah menjamin keselamatan baginya. Di antara rahmat-Nya, Dia mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada dan menghisab kita atas hal tersebut. Di antara rahmat-Nya juga, Dia menunjukkan kita kepada apa yang diridhai-Nya dan menghapus dosa-dosa kita, seperti puasa, shalat, dan berinfak kepada fakir miskin serta menjanjikan ganti bagi kita. Sedekah adalah pengaman dari penyakit dan kemiskinan.
والجاهلون من الناس يقولون: ماذا سنقول غير الحمد لله؟ وكأنه يقولها مناً على الله وتفضلاً عليه، لكن المتأمل في حال الناس يرى أن من الواجب على الإنسان حمد الله على الحقيقة من أعماق قلبه، فصاحب المصيبة لا يدري أنه يستحق بذنوبه ما هو أشد منها ثم خففها الله برحمته، فلذلك نحمد الله.
Orang-orang bodoh berkata: “Apa lagi yang akan kita ucapkan selain al Hamdulillah?” seolah-olah ia mengucapkannya sebagai bentuk pemberian jasa atau kebaikan kepada Allah. Namun orang yang merenungi kondisi manusia akan melihat bahwa wajib bagi manusia untuk memuji Allah dengan sebenar-benarnya dari lubuk hatinya yang terdalam. Orang yang tertimpa musibah tidak menyadari bahwa ia sebenarnya berhak mendapatkan musibah yang lebih berat karena dosa-dosanya, namun Allah meringankannya dengan rahmat-Nya, oleh karena itulah kita memuji Allah.
ومن رحمة الله أنه يثيبنا على صبرنا على المصائب برغم استحقاقنا لها ويعوضنا خيراً بعدها، ولذلك يجب على أصحاب المصائب: الاستغفار، ومساعدة المحتاج، والدعاء حتى يكشف الله الهم، ومن رحمته أيضاً أنه تعالى أمهلنا لمراجعة النفس وأعطانا القدرة على تغيير النفس للأفضل، فجعل لنا إرادة وعقلاً ورزقنا الحواس لنتعرفه ونتقرب منه ونستخدمها في طاعته ومنفعتنا.
Di antara rahmat Allah adalah Dia memberi kita pahala atas kesabaran kita menghadapi musibah meskipun kita layak mendapatkannya, dan Dia menggantinya dengan kebaikan setelahnya. Oleh karena itu, wajib bagi orang yang tertimpa musibah untuk: beristigfar, membantu orang yang membutuhkan, dan berdoa hingga Allah menghilangkan kesedihannya. Di antara rahmat-Nya juga, Dia Ta’ala memberikan kita waktu untuk mengoreksi diri dan memberi kita kemampuan untuk mengubah diri menjadi lebih baik, maka Dia menjadikan bagi kita kehendak (iraadah), akal, dan merezekikan panca indera kepada kita agar kita dapat mengenal-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya dan kemanfaatan kita.
ومن رحمته أيضاً أنه جعل الملك له يوم القيامة ولم يجعله لإنسان، فربما يظلم الوالد ولده ويظن فيه ما ليس فيه؛ أما الله فهو يعلم السر وأخفى مما يطمئن العباد حتى لو أذنبوا لأن الله هو خالقهم ويعلم مواطن ضعفهم،
Di antara rahmat-Nya pula, Dia menjadikan kekuasaan (al mulk) hanya milik-Nya pada hari kiamat dan tidak memberikannya kepada manusia. Terkadang seorang ayah menzalimi anaknya dan berprasangka buruk kepadanya; adapun Allah, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, sehingga menenangkan hati para hamba meskipun mereka berdosa karena Allah adalah Pencipta mereka dan mengetahui titik-titik kelemahan mereka.
وليس معنى هذا أن يعصي العبد الله متكلاً على عفوه، ولكن المسلم المؤمن لا يعصي الله متعمداً؛ إنما ناسياً أو جاهلاً، وإذا ذَكر الله أو ذُكِّر به تاب وأناب واستغفر وكفر عن ذنبه بكل الوسائل من صيام وصدقة وبر، ويأمل في عفو الله لعلمه به، أما الإنسان إذا حكم فهو يحكم بهواه ولمصلحته.
Hal ini bukan berarti seorang hamba boleh bermaksiat kepada Allah dengan bersandar pada ampunan-Nya, namun seorang Muslim yang beriman tidak akan bermaksiat kepada Allah dengan sengaja; melainkan karena lupa atau ketidaktahuan. Jika ia mengingat Allah atau diingatkan tentang-Nya, ia akan bertaubat, kembali, beristigfar, dan menghapus dosanya dengan segala sarana mulai dari puasa, sedekah, dan kebajikan, serta berharap pada ampunan Allah karena pengenalannya kepada-Nya. Adapun manusia, jika ia menghakimi, ia akan menghakimi berdasarkan hawa nafsu dan kepentingannya.
ثم تأتي الآية بعد ذلك “إياك نعبد”: مترتبة على ما سبق، فمادام الله سبحانه هو الرحمن الرحيم وهو رب العالمين ومالك يوم الدين، إذن فاعبده وحده واستعن به في كل أمورك، ولا تعبد سواه ولا تتوكل على غيره، وربما تسأل: وكيف أستعين بالله؟ فتاتي الإجابة بعدها مباشرة بالدعاء “اهدنا الصراط المستقيم”، وهى إجابة عملية كما علم الله آدم الكلام ثم حذره من الشجرة ثم علمه كيف يتوب.
Kemudian datanglah ayat berikutnya “Iyyaka Na’budu” (Hanya kepada-Mu kami menyembah): sebagai konsekuensi dari apa yang telah disebutkan sebelumnya. Selama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ar Rahmaan ar Rahiim, Tuhan semesta alam, dan Pemilik hari pembalasan, maka sembahlah Dia semata dan mohonlah pertolongan kepada-Nya dalam segala urusanmu. Janganlah menyembah selain-Nya dan janganlah bertawakal kepada selain-Nya. Mungkin engkau bertanya: “Bagaimana aku memohon pertolongan kepada Allah?” Maka jawabannya datang langsung setelahnya melalui doa “Ihdinash Shiraathal Mustaqiim” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Ini adalah jawaban praktis sebagaimana Allah mengajarkan Aadam berbicara, kemudian memperingatkannya dari pohon terlarang, lalu mengajarinya cara bertaubat.
فهناك فرق كبير بين من يصلي ويصوم خوفاً من عقاب الله، ومن يصلي ويصوم وهو يحب الله ويستمتع بأداء هذه العبادات، وهذا هو الهدى الذي لا يهدي إليه إلا الله، فأنا أنفذ تعاليم الله خوفاً من عقابه، وأدعو الله أن يحببها إليَّ ويهديني إلى الرشد فلا أرى أي خير في المعصية، فلذلك الدعاء مطلوب في كل وقت؛ لأن القلوب بيد الله، ومن الناس من يقول: وهل الدعاء يحل المشكلات؟ والجواب: نعم، فالدعاء مفتاح السعادة والراحة، إذا دعوت بإخلاص، وبدون الدعاء تكون الحياة شاقة.
Maka terdapat perbedaan besar antara orang yang shalat dan puasa karena takut akan siksa Allah, dengan orang yang shalat dan puasa dalam keadaan mencintai Allah dan menikmati pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut. Inilah hidayah yang tidak ada yang dapat memberikannya kecuali Allah. Aku melaksanakan perintah-perintah Allah karena takut akan siksa-Nya, dan aku berdoa kepada Allah agar Dia menjadikanku mencintai perintah-perintah tersebut serta menunjukiku kepada kebenaran sehingga aku tidak melihat ada kebaikan sedikit pun dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, doa diperlukan setiap waktu; karena hati manusia berada di tangan Allah. Di antara manusia ada yang bertanya: “Apakah doa dapat menyelesaikan masalah?” Jawabannya: “Ya, doa adalah kunci kebahagiaan dan ketenangan jika engkau berdoa dengan ikhlas, dan tanpa doa kehidupan akan terasa berat.”
وبعض الناس يقولون: نحن لسنا أنبياء حتى يستجيب الله لنا، والله تعالى لم يخص الأنبياء باستجابة الدعاء، وهذا من رحمته، ووعد الله بنجاته للمؤمنين الصادقين الخاشعين، وكل إنسان في استطاعته أن يكون منهم وذلك بمجاهدة النفس والاستعانة بالله بكثرة الدعاء، والله يجيب دعوة المضطرين من العباد، وإذا لم تُستجَب الدعوة في حينها فذلك لحكمة، والله سميع عليم قال:
Sebagian orang berkata: “Kita bukan Nabi sehingga Allah akan mengabulkan doa kita.” Padahal Allah Ta’ala tidak mengkhususkan para Nabi dalam hal pengabulan doa, dan ini adalah bagian dari rahmat-Nya. Allah menjanjikan keselamatan bagi orang-orang mukmin yang jujur dan khusyuk. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjadi bagian dari mereka, yaitu dengan berjihad melawan hawa nafsu dan memohon pertolongan kepada Allah dengan memperbanyak doa. Allah mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang berada dalam kesulitan. Jika doa tidak dikabulkan pada saat itu juga, maka hal itu karena suatu hikmah, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dia berfirman:
{ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} [غافر: 60]
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (Surah Ghaafir ayat 60)
وقال تعالى:
Dan Allah Ta’ala berfirman:
{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ} [إبراهيم: 34]
“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya.” (Surah Ibraahiim ayat 34)
حقاً نحن مكلفون بالسعي ولكن النتائج كلها بفضل الله. وفي المشاكل التي يعجز الإنسان عن حلها وبعد الأخذ بالأسباب الدنيوية يدعو الله ويتوكل عليه، ثم عليه بالصبر حتى يقضي الله أمره وسيكون خيراً، ولنا الأسوة في رسول الله صلى الله عليه وسلم حين دبر للهجرة وخطط لها، ثم دعا الله تعالى بأن يكلل سعيه بالنجاح.
Sungguh kita dibebani untuk berusaha, namun segala hasilnya adalah berkat karunia Allah. Dalam masalah-masalah yang manusia tidak mampu menyelesaikannya setelah mengambil sebab-sebab duniawi, ia hendaknya berdoa kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya, kemudian ia harus bersabar hingga Allah menetapkan urusan-Nya dan hal itu pastilah baik. Kita memiliki teladan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mempersiapkan Hijrah dan merencanakannya, kemudian beliau berdoa kepada Allah Ta’ala agar usahanya dimahkotai dengan keberhasilan.
Sumber : Alukah
Leave a Reply