الترابط في القرآن الكريم وفائدته في الحياة
Hubungan Antar-Ayat dalam Al Qur’an al Kariim dan Manfaatnya dalam Kehidupan (Bagian Ketiga)
Penulis: ‘Ulaa al Jamaal
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hubungan Antar-Ayat dalam Al Qur’an al Kariim ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Quran
حقاً نحن مكلفون بالسعي ولكن النتائج كلها بفضل الله. وفي المشاكل التي يعجز الإنسان عن حلها وبعد الأخذ بالأسباب الدنيوية يدعو الله ويتوكل عليه، ثم عليه بالصبر حتى يقضي الله أمره وسيكون خيراً، ولنا الأسوة في رسول الله صلى الله عليه وسلم حين دبر للهجرة وخطط لها، ثم دعا الله تعالى بأن يكلل سعيه بالنجاح.
Sungguh kita dibebani untuk berusaha, namun segala hasilnya adalah berkat karunia Allah. Dalam masalah-masalah yang manusia tidak mampu menyelesaikannya setelah mengambil sebab-sebab duniawi, ia hendaknya berdoa kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya, kemudian ia harus bersabar hingga Allah menetapkan urusan-Nya dan hal itu pastilah baik. Kita memiliki teladan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mempersiapkan Hijrah dan merencanakannya, kemudian beliau berdoa kepada Allah Ta’ala agar usahanya dimahkotai dengan keberhasilan.
وربما يسأل سائل: ولماذا لا يعطينا الله بدون سؤال؟ والله تعالى لو أعطى كل شيء بدون سؤال لما عرف الإنسانُ الله، والله يحب أن يعرفه عبدُه فيشكره ويتوكل عليه ويطلب منه،
Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa Allah tidak memberi kita tanpa perlu meminta?” Seandainya Allah Ta’ala memberikan segala sesuatu tanpa diminta, niscaya manusia tidak akan mengenal Allah. Padahal Allah senang jika hamba-Nya mengenal-Nya, lalu bersyukur kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, dan memohon kepada-Nya.
ولو أعطى الله الإنسان بدون سؤال لبغى في الأرض، ولنسب كل شيء لنفسه، فمثلاً الرجل الذي ينجب بعد سنوات من المعاناة تجده أشد تواضعاً لله، أما الذي ينجب بلا أدنى معاناة ينسب الفضل لنفسه. قالت لي امرأة مرة بكل فخر: لماذا يتزوج زوجي علىَّ؟ لقد أنجبت له الولد والبنت، ونسبت الفضل لقدرتها.
Jika Allah memberi manusia tanpa diminta, niscaya ia akan berbuat melampaui batas di bumi dan akan menisbatkan segala sesuatu kepada dirinya sendiri. Sebagai contoh, seorang laki-laki yang baru dikaruniai anak setelah bertahun-tahun berjuang, engkau akan mendapatinya jauh lebih rendah hati kepada Allah. Adapun orang yang mendapatkan anak tanpa perjuangan sedikit pun, ia cenderung menisbatkan keberhasilan itu pada dirinya sendiri. Pernah seorang wanita berkata kepadaku dengan penuh kebanggaan: “Mengapa suamiku menikah lagi? Aku sudah melahirkan anak laki-laki dan perempuan untuknya,” ia menisbatkan karunia itu kepada kemampuannya sendiri.
وفي العمل أيضاً ربما ينسى صاحب العمل فضل الله عليه وينسب ما لديه لذكائه وعلاقاته حتى يوضع في موقف لا ينفعه فيه إلا الله، لذلك علينا دائماً الإكثار من الدعاء، والدعاء تثاب عليه لأنك تعترف فيه بعبوديتك لله وبعجزك وقدرته.
Begitu pula dalam pekerjaan, terkadang seorang pemilik usaha melupakan karunia Allah kepadanya dan menisbatkan apa yang dimilikinya pada kecerdasan dan relasi yang ia bangun, hingga suatu saat ia diletakkan dalam situasi di mana tidak ada yang bisa membantunya kecuali Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu memperbanyak doa. Doa itu sendiri mendatangkan pahala karena di dalamnya engkau mengakui penghambaanmu kepada Allah, mengakui kelemahanmu, serta mengakui kekuasaan-Nya.
ربما تجد رجلاً مستقيم الخلق صاحب مبادئ، ولكنه لا يصلي ولا يصوم، فهل هذا الذي تعنيه الآية؟ فنجد الإجابة في آية أخرى لأن القرآن يفسر بعضه بعضاً، قال تعالى:
Mungkin engkau mendapati seseorang yang berakhlak lurus dan memiliki prinsip, namun ia tidak shalat dan tidak puasa. Apakah orang seperti ini yang dimaksud oleh ayat tersebut? Kita dapati jawabannya dalam ayat lain, karena Al Qur’an saling menafsirkan satu sama lain. Allah Ta’ala berfirman:
{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مع الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقاً (69) ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيماً (70)} [النساء: 69-70]
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui.” (Surah An Nisaa ayat 69-70)
وقال تعالى:
Dan Allah Ta’ala berfirman:
{قَالَ رَجُلانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [المائدة: 23]
“Berkatalah dua orang di antara laki-laki yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: ‘Serbulah mereka melalui pintu gerbang itu, maka apabila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman’.” (Surah Al Maa-idah ayat 23)
فهذا هو النعيم الحقيقي؛ عدم الخوف من العباد والتوكل على الله، والإحساس بالأمان في معيته، والاهتداء بهدي الأنبياء من تواضع وعدم التهافت على ملذات الدنيا.
Inilah nikmat yang sesungguhnya; yaitu tidak adanya rasa takut kepada hamba dan hanya bertawakal kepada Allah, merasa aman dalam kebersamaan dengan-Nya, serta mengikuti petunjuk para Nabi berupa kerendahhatian dan tidak rakus terhadap kelezatan dunia.
وبعض الناس يتخذون التقلب في نعيم الدنيا علامة على رضا الله عليهم، والله يرزق المؤمن والكافر، لذلك يؤكد الله تعالى أنه يعني نعيم غير المغضوب عليهم ولا الضالين، فالصراط المطلوب هو صراط الذين يرضون الله تعالى في أفعالهم وعقيدتهم، فربما تجد مسلماً ضالاً وربما تجد مسلماً مغضوباً عليه ومذموماً أيضاً عند الله، وما أكثر المسلمين بالاسم فقط، وهذا الوصف على البيان حتى لا نسلك مسلكهم، ولا يغرنا نعيمهم.
Sebagian orang menjadikan gelimang nikmat dunia sebagai tanda ridha Allah kepada mereka, padahal Allah memberikan rezeki baik kepada orang mukmin maupun orang kafir. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menegaskan bahwa yang dimaksud adalah nikmat yang bukan milik mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang sesat. Jalan yang diminta adalah jalan orang-orang yang membuat Allah Ta’ala ridha dalam perbuatan dan akidah mereka. Sebab, mungkin saja engkau dapati seorang Muslim yang sesat, atau seorang Muslim yang dimurkai dan dicela di sisi Allah. Betapa banyak orang yang Muslim hanya sekadar nama. Deskripsi ini diberikan sebagai penjelasan agar kita tidak menempuh jalan mereka, dan jangan sampai nikmat yang mereka miliki menipu kita.
والصراط المستقيم هو صراط الله وهو صراط الصالحين الموصل إلى الجنة، ولكننا إذا لم نعلم صفات المغضوب عليهم والضالين ربما نفعل مثلهم بجهل، ونحن نظن أننا صالحون مؤمنون، ورحمة الله تأبى إلا أن يخبرنا ويحذرنا، فما صفات هؤلاء المغضوب عليهم والضالين؟ سيأتي ذلك على التفصيل في سورة البقرة.
Shiraathal mustaqiim adalah jalan Allah dan jalan orang-orang saleh yang menyampaikan ke surga. Namun, jika kita tidak mengetahui sifat-sifat mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat, mungkin saja kita melakukan hal yang sama seperti mereka karena ketidaktahuan, sementara kita mengira bahwa kita adalah orang saleh yang beriman. Rahmat Allah menghendaki agar Dia memberitahu dan memperingatkan kita. Lantas, apa saja sifat-sifat mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat itu? Hal tersebut akan dijelaskan secara rinci dalam Surah al Baqarah.
Alhamdulillah selesai rangkaian artikel 3 (Tiga) Seri
Sumber : Alukah
Leave a Reply