حكم الصيام في البلاد التي يطول نهارها
Hukum Puasa di Negeri yang Siangnya Sangat Panjang
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Puasa di Negeri yang Siangnya Sangat Panjang ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa
السؤال:
Pertanyaan:
نعيش بدول شمال أوربا، ورمضان قادم، وحسب التقويم فإن ساعات الصيام ستكون 18 ساعة، أو أكثر، وفيه مشقة كبيرة، ولا يمكن أن نأمر أولادنا بالصيام؛ لأن الوقت الطويل فيه فتنة وإجهاد: أفتان أنت يامعاذ ـ
Kami tinggal di negara-negara Eropa Utara, dan Ramadhan akan segera tiba. Menurut kalender, waktu puasa akan mencapai 18 jam atau lebih, dan di dalamnya terdapat masyaqqah (kesulitan) yang besar. Kami tidak mungkin memerintahkan anak-anak kami untuk berpuasa karena waktu yang panjang tersebut mengandung fitnah dan kelelahan luar biasa. “Apakah engkau ingin menjadi penyebar fitnah wahai Mu’adz?”.
والشفق الأبيض لايغيب بين العشاء والفجر ـ لا يتبين الخيط الأبيض من الأسود ـ والصيام الطويل يجعلنا عاجزين عن تأدية أعمالنا بصورة صحيحة، والإسلام يصلح في كل زمان ومكان، أنقذوا إخوتكم من هذه الفتنة. فالموضوع يحتاج إلى دراسة على أرض الواقع، ويحتاج إلى معايشة في نفس المكان، والصيام من الفرائض ولا نريد أن نفرط، ولا يمكن أن تكون الصلوات ـ المغرب والعشاء والفجر ـ وإفطار وسحور وتراويح في 6 ساعات وصلاتين في 18 ساعة، أو أكثر ـ
Cahaya syafaq putih tidak hilang antara Isya dan Fajar —tidak jelas perbedaan benang putih dari benang hitam—. Puasa yang panjang ini membuat kami tidak mampu menjalankan pekerjaan kami dengan benar, padahal Islam relevan di setiap zaman dan tempat. Selamatkanlah saudara-saudara kalian dari fitnah ini. Masalah ini membutuhkan studi lapangan dan penghayatan di tempat yang sama. Puasa adalah fardhu dan kami tidak ingin meremehkannya, namun tidak mungkin shalat Maghrib, Isya, Fajar, buka puasa, sahur, dan tarawih dilakukan dalam 6 jam, sementara dua shalat lainnya dalam 18 jam atau lebih.
أين: اقدروا له قدره؟ فلم يعتمد الرسول صلى الله عليه وسلم على وجود شروق وغروب للصلاة في أول يوم من ظهور الدجال ـ كما يصر البعض عند الكلام عن وضعنا ـ إخوتي في وقت الشتاء نصلي الفجر والظهر والعصر والمغرب والعشاء في 8 ساعات وبقيت 16 ساعة ليس فيها من شيء، أمعقول هذا الشيء؟ الموضوع يحتاج إلى فتوى جريئة ومعايشة في نفس المكان حتى يعرف الحل والمقصود، خلونا نصوم على مكة مثلا، أو مدينة الرسول ـ كما صام الرسول صلى الله عليه وسلم والصحابة رضي الله عنهم ـ والقضية مستعجلة، أفيدونا رحمكم الله، ونصف العلم: لا أعلم.
Di mana penerapan: “Ukurlah sesuai kadarnya”? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyandarkan waktu shalat pada terbit dan terbenamnya matahari pada hari pertama munculnya Dajjal —sebagaimana yang ditegaskan sebagian orang saat membicarakan situasi kami—? Saudara-saudaraku, di waktu musim dingin kami shalat Fajar, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya hanya dalam waktu 8 jam, dan sisa 16 jam lainnya kosong tanpa ada shalat. Apakah hal ini masuk akal? Masalah ini membutuhkan fatwa yang berani dan penghayatan langsung di tempat agar solusi dan tujuannya diketahui. Biarkanlah kami berpuasa mengikuti waktu Makkah misalnya, atau Madinah —sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum berpuasa—. Masalah ini mendesak, berilah kami fatwa, semoga Allah merahmati kalian. Dan setengah dari ilmu adalah (mengatakan): “Aku tidak tahu”.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فاعلم أولا ـ غفر الله لك ـ أن صعوبة بعض التكاليف لا يسوغ الفتيا بإسقاطها، بل من حكمة الشارع أن تكون بعض التكاليف شاقة ليميز الله بذلك الخبيث من الطيب،
Ketahuilah terlebih dahulu —semoga Allah mengampuni Anda— bahwa sulitnya sebagian beban syariat (taklif) tidak membolehkan fatwa untuk menggugurkannya. Sebaliknya, di antara hikmah Syari’ adalah menjadikan sebagian taklif itu berat agar Allah membedakan mana yang buruk dari yang baik.
والله لا يكلف نفسا إلا وسعها، فمن كان له عذر يبيح الفطر فله أن يترخص بالفطر، وأما من لا عذر له فعليه أن يوطن نفسه على تنفيذ حكم الله واتباع شرعه، وإن كان في ذلك شيء من المشقة والتعب، وليعلم أن الأجر على قدر المشقة والنصب، والله تعالى لا يضيع أجر المحسنين.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Maka barangsiapa yang memiliki udzur yang membolehkan berbuka, ia boleh mengambil rukhshah untuk tidak berpuasa. Adapun bagi yang tidak memiliki udzur, wajib baginya membiasakan diri untuk melaksanakan hukum Allah dan mengikuti syariat-Nya, meskipun di dalamnya terdapat masyaqqah dan kelelahan. Hendaknya ia mengetahui bahwa pahala itu sesuai dengan kadar kesulitan dan kelelahan, dan Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
واعلم كذلك أن الجرأة في الفتوى لا تحمد، وإنما يحمد فيها التثبت والتبصر واتباع البينات والحكم بما حكمت به أدلة الشرع، فلا يرخص المفتي لموافقة بعض الأهواء دون أن يقوم دليل الترخيص، ولا يشدد حيث كان للرخصة مساغ، والموفق من وفقه الله.
Ketahuilah juga bahwa keberanian dalam berfatwa itu tidak terpuji. Yang terpuji adalah ketelitian (tatsabbut), kecermatan, mengikuti keterangan yang jelas, dan menghukumi dengan apa yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil syariat. Seorang mufti tidak boleh memberikan keringanan hanya karena mengikuti sebagian hawa nafsu tanpa adanya dalil rukhshah, dan tidak boleh pula bersikap keras (tasyaddud) jika memang ada ruang untuk rukhshah. Orang yang mendapat taufiq adalah orang yang diberi taufiq oleh Allah.
واعلم كذلك أن حديث الدجال يخالف ما ترمي إليه ولا يوافقه؛ لأن اليوم الذي كسنة طالت مدته عن أربع وعشرين ساعة، فلم يكن بد من أن يقدر للصلاة قدرها، وأما اليوم الذي مدته أربع وعشرون ساعة، وفيه ليل ونهار متمايزان فليس من هذا الباب.
Ketahuilah pula bahwa hadits tentang Dajjal justru menyelisihi apa yang Anda tuju dan tidak mendukungnya. Karena hari yang seperti setahun (dalam hadits tersebut) durasinya lebih dari 24 jam, sehingga tidak ada jalan lain kecuali mengira-ngira kadarnya (uquduru lahu qadrah) untuk shalat. Adapun hari yang durasinya tetap 24 jam dan di dalamnya terdapat siang dan malam yang jelas perbedaannya, maka tidak termasuk dalam bab ini.
ونحن قد أسلفنا القول وذكرنا كلام أهل العلم في حكم الصلاة والصيام في البلاد التي يطول نهارها ويقصر ليلها، أو العكس، وأن الواجب عليهم هو العمل بالأوقات التي نصبها الشرع للصيام، وإن طالت مدة الصوم، وليس في ذلك حرج على المكلفين بحمد الله،
Dan kami telah sampaikan perkataan sebelumnya serta menyebutkan pendapat para ahli ilmu mengenai hukum shalat dan puasa di negeri-negeri yang siangnya sangat panjang dan malamnya sangat pendek, atau sebaliknya. Bahwasanya yang wajib atas mereka adalah beramal dengan waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh syariat untuk puasa meskipun durasi puasanya lama. Hal ini tidaklah mengandung keberatan bagi para mukallaf, walhamdulillah.
إذ إن من له عذر في الفطر فالفطر سائغ له، ولا يؤمر أن يصوم إن أدى به ذلك إلى الهلاك، وكذلك الصلاة فإن الواجب أداء كل صلاة في وقتها ما دام ذلك ممكنا، ولوطالت مدة ما بين بعض الصلوات، ومن العلماء من يقول بخلاف هذا، ولكن هذا هو المرجح والمفتى به عندنا، وانظر تفصيل ما ذكرناه في الفتوى الأخرى هنا،
Karena barangsiapa yang memiliki udzur untuk berbuka maka berbuka diperbolehkan baginya, dan ia tidak diperintahkan untuk berpuasa jika hal itu dapat menyebabkan kebinasaan. Demikian pula shalat, wajib menunaikan setiap shalat pada waktunya selama hal itu memungkinkan, meskipun durasi antara sebagian shalat tersebut panjang. Di antara ulama ada yang berpendapat berbeda dengan ini, namun inilah yang kuat dan yang difatwakan di sisi kami :
- Tata Cara Shalat dan Puasa di Negeri yang Siang Harinya Sangat Panjang atau Sangat Pendek (Bagian Pertama)
- Shalat Ditunaikan pada Waktunya di Negeri yang Malam dan Siangnya Terpaut Jelas
فانظرهما لزاما ففيهما بيان مسألتك على وجه التفصيل وإزالة الإشكال والشبهة فيها بإذن الله.
maka lihatlah keduanya karena di dalamnya terdapat penjelasan masalahmu secara rinci serta menghilangkan keraguan dan syubhat padanya dengan izin Allah.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply