إعسار الزوج هل يبرر للمرأة طلب الطلاق؟
Apakah Ketidakmampuan Ekonomi Suami Membenarkan Istri Menuntut Cerai?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Apakah Ketidakmampuan Ekonomi Suami Membenarkan Istri Menuntut Cerai ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa
السؤال:
Pertanyaan:
هل يجوز للزوجة طلب الطلاق بسبب ضائقة مالية يمر بها الزوج؟ وقد تطول هذه الضائقة، وقد تعيش الزوجة في ضنك؟
Bolehkah istri menuntut cerai karena kesulitan keuangan (dhay-iqah maliyah) yang dialami suami? Kesulitan ini mungkin berlangsung lama, dan istri mungkin hidup dalam kesempitan (dhank)?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام pada رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فننبه السائل إلى أنه إذا كان الزوج يمر بضائقة مالية أو عسر بعد يسار، وكان مع ذلك يستطيع أن يوفر لزوجته ما لا غنى عنه من الضروريات، كقوت يومها وكسوتها ومسكن يؤويها، فليس لها حق في طلب الطلاق والانفصال عنه، لقوله تعالى:
Kami mengingatkan penanya bahwa jika suami sedang mengalami kesulitan keuangan atau kesempitan setelah sebelumnya lapang, namun ia masih mampu menyediakan kebutuhan pokok (dharuriyat) bagi istrinya yang tidak boleh ditinggalkan, seperti makanan sehari-hari, pakaian, dan tempat tinggal yang melindunginya, maka istri tidak memiliki hak untuk menuntut cerai dan berpisah darinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا [الطلاق: ٧]
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” [At-Thalaq: 7]
ومن حسن العشرة أن تقف الزوجة بجوار زوجها، لا سيما إذا مرت به محنة، أو ألمت به نازلة، لا أن تتخلص منه بالفراق مع تقلب الأيام وتصرف الليالي، ومن لا تطيق العيش مع زوجها إلا في حال الرخاء فقط، فهي تدلل على سوء عشرتها، وعدم فهمها وإدراكها لرباط الزوجية المبني على المودة والرحمة.
Termasuk dalam pergaulan yang baik (husnul ‘isyrah) adalah seorang istri berdiri mendampingi suaminya, terutama ketika ia sedang tertimpa ujian atau musibah, bukan malah melepaskan diri darinya dengan perpisahan seiring berputarnya waktu dan keadaan. Barangsiapa yang tidak tahan hidup bersama suaminya kecuali dalam kondisi lapang saja, maka hal itu menunjukkan buruknya pergaulan sang istri, serta kurangnya pemahaman dan kesadaran akan ikatan pernikahan yang dibangun di atas rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah).
أما إن كان الزوج معسراً ولا يستطيع أن يفي بضروريات الزوجة من قوت يومها وكسوتها ونحو ذلك مما لا بد منه، فلها أن تفارقه، لقوله تعالى:
Adapun jika suami benar-benar tidak mampu (mu’sir) dan tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok istri seperti makanan sehari-hari, pakaian, dan hal-hal mendasar lainnya, maka istri diperbolehkan untuk berpisah darinya, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ [البقرة: ٢٢٩]
“Setelah itu boleh menahan dengan cara yang ma’ruf atau melepaskan dengan cara yang baik.” [Al-Baqarah: 229]
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال: رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَعْسَرَ الرَّجُلُ بِنَفَقَةِ امْرَأَتِهِ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا
“Jika seorang laki-laki tidak mampu memberi nafkah kepada istrinya, maka dipisahkan antara keduanya.” (HR. Daraquthni dan Baihaqi)
قال ابن المنذر: ثبت أن عمر كتب إلى أمراء الأجناد أن ينفقوا أو يطلقوا.
Ibnu al-Mundzir berkata: Telah tsabit bahwasanya ‘Umar menulis surat kepada para komandan pasukan agar (para suami di sana) memberi nafkah atau menceraikan.
ويتعين على الزوج الإمساك بالمعروف، فإذا كان إمساكه لها مع إعساره الذي لا يستطيع معه أن يوفر لها الضروريات، مما يسب لها ضرراً بالغاً، فيحرم عليه إمساكها، لأن المعروف يستوجب تسريحها بإحسان. قال تعالى:
Wajib bagi suami untuk “menahan dengan cara yang ma’ruf”. Jika ia menahan istri dalam kondisi ia tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, yang mana hal itu menyebabkan dharar (bahaya/kerugian) yang nyata bagi sang istri, maka haram hukumnya menahan istri tersebut. Hal ini karena cara yang ma’ruf mengharuskan suami untuk melepaskannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا [البقرة: ٢٣١]
“Janganlah kamu tahan mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka.” [Al-Baqarah: 231]
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply