Kondisi yang Disyariatkan bagi Wanita untuk Menuntut Cerai



الحالات التي يشرع للمرأة فيها أن تطلب الطلاق

Kondisi-kondisi yang Disyariatkan bagi Wanita untuk Menuntut Cerai

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kondisi-kondisi yang Disyariatkan bagi Wanita untuk Menuntut Cerai ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa

السؤال:

Pertanyaan:

ما هي الأحكام الشرعية التي تبيح للمرأة طلب الطلاق؟

Apakah hukum-hukum syariat yang membolehkan seorang wanita untuk menuntut cerai?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فلقد فهمنا من سؤالك أنك تسأل عن الحالات التي يجوز للمرأة طلب الطلاق فيها، وبما أن هذه الحالات كثيرة، فسنذكر لك أمثلة منها:

Kami memahami dari pertanyaan Anda bahwa Anda bertanya tentang kasus-kasus di mana seorang wanita diperbolehkan menuntut cerai. Dikarenakan kasus-kasus ini sangat banyak, maka kami akan sebutkan beberapa contoh di antaranya:

١- إضرار الزوج بها -بغير حق- سواء كان إضرارا ماديا أو معنويا، وقد مثل لذلك العلامة الدردير في الشرح الكبير، فقال: ولها أي للزوجة التطليق بالضرر، وهو ما لا يجوز شرعا، كهجرها بلا موجب شرعي، وضربها كذلك وسبها وسب أبيها، نحو: يا بنت الكلب، يا بنت الكافر، يا بنت الملعون، كما يقع كثيرا من رعاع الناس، ويؤدب على ذلك زيادة على التطليق، كما هو ظاهر، وكوطئها في دبرها. وراجع لمزيد من الفائدة الفتوى الأخرى هنا.

1. Suami memberikan dharar (bahaya/kerugian) kepadanya —tanpa alasan yang benar— baik berupa dharar materi maupun non-materi. Al-‘Allamah ad-Dardir telah memberikan contoh hal tersebut dalam asy-Syarhul Kabiir, beliau berkata: “Dan bagi istri (boleh) menuntut cerai karena adanya dharar, yaitu sesuatu yang tidak diperbolehkan secara syariat, seperti meninggalkan istri (boikot/hajar) tanpa alasan syar’i, memukulnya, mencaci-makinya atau mencaci ayahnya, seperti ucapan: ‘Wahai anak anjing’, ‘Wahai anak kafir’, ‘Wahai anak orang terlaknat’, sebagaimana yang banyak terjadi pada orang-orang rendahan, dan suami diberikan sanksi (ta’dib) atas hal tersebut selain daripada perceraian, sebagaimana yang jelas terlihat, serta seperti menyetubuhi istri pada duburnya.” Dan lihatlah untuk manfaat lebih lanjut pada Fatwa yang lain disini :

٢- إعسار الزوج بنفقة زوجته، وقد تقدم تفصيل الكلام في ذلك في الفتوى الأخرى هنا.

2. Ketidakmampuan suami dalam memberikan nafkah kepada istrinya (i’saar). Penjelasan rinci mengenai hal ini telah disebutkan dalam Fatwa yang lain disini.

٣- فقد الزوج بحيث لا يُدرى أحي أو ميت، ولا يعلم له مكان، ويمضي على ذلك زمان، وقد مضى تفصيل أقوال الفقهاء في ذلك وما وضعوه من شروط وضوابط في الفتوى الأخرى هنا.

3. Hilangnya suami (mafqud) sekiranya tidak diketahui apakah ia masih hidup atau sudah mati, tidak diketahui keberadaannya, dan telah berlalu waktu yang lama atas hal tersebut. Penjelasan mengenai pendapat para fuqaha tentang hal ini serta syarat dan batasan yang mereka tetapkan telah disebutkan dalam Fatwa yang lain disini.

٤- وجود عيب خلقي بالزوج لم تعلم به الزوجة قبل الزواج، ولم يصدر منها ما يدل على رضاها بهذا العيب بعد علمها به، ومن أمثلة ذلك: الجب، وهو استئصال عضو التناسل أو الخصاء، وهو انتزاع الخصيتين، أو العنة، وهي ارتخاء في عضو التناسل يمنع القدرة على المباشرة، أو الجذام، أو البرص. 

4. Adanya cacat fisik/reproduksi pada suami yang tidak diketahui istri sebelum menikah, dan tidak ada tanda keridhaan istri terhadap cacat tersebut setelah mengetahuinya. Contohnya: Al-Jabb (pemotongan organ reproduksi), al-Khisha (kebiri), al-‘Annah (impotensi), al-Judzam (kusta), atau al-Barash (sopak/vitiligo).

قال خليل: الخيار إن لم يسبق العلم أو لم يرض أو يتلذذ. 

Khalil berkata: “Hak pilih (khiyar) ada jika tidak didahului dengan pengetahuan, atau tidak ridha, atau tidak bersenang-senang (menikmati hubungan).”

قال عليش في شرحه لعبارة خليل: الخيار في إبقاء عقد النكاح وفسخه لأحد الزوجين أو لهما معا إن لم يسبق العلم بسببه عقد النكاح أو لم يرض مريد الرد والعيب بعد علمه به بعد العقد صريحا أو التزاما أو لم يتلذذ مريد الرد بصاحبه كذلك. وراجع الفتوى الأخرى هنا. 

Alisy berkata dalam penjelasannya terhadap ungkapan Khalil: “Hak pilih untuk melanjutkan akad nikah atau memfasakhnya ada pada salah satu pasangan atau keduanya jika tidak didahului pengetahuan tentang sebab cacat tersebut saat akad, atau pihak yang ingin membatalkan tidak ridha dengan cacat tersebut setelah mengetahuinya baik secara tegas maupun tersirat, atau ia tidak menikmati hubungan dengan pasangannya.” Dan lihatlah Fatwa yang lain disini :

وكذلك يجوز للمرأة طلب الطلاق إذا طرأ شيء من هذه العيوب بعد العقد على الراجح من أقوال العلماء، قال صاحب الشرح الصغير: ما حدث منها بعد العقد -أي هذه العيوب- … فلها رده ببرص وجذام وجنون لشدة الإيذاء بها، وعدم الصبر عليها. 

Demikian pula seorang wanita diperbolehkan menuntut cerai jika cacat tersebut baru muncul setelah akad nikah menurut pendapat yang rajih, penulis asy-Syarhush Shaghiir berkata: “Apa yang terjadi setelah akad —yaitu cacat-cacat ini— … maka ia (istri) berhak membatalkannya karena penyakit sopak, kusta, dan gila, dikarenakan besarnya gangguan yang ditimbulkan dan sulitnya bersabar atasnya.”

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية في الفتاوى الكبرى: وحصول الضرر للزوجة بترك الوطء مقتضٍ للفسخ بكل حال، سواء كان بقصد من الزوج أو بغير قصد، ولو مع قدرته وعجزه كالنفقة وأولى. ومحل ذلك ما لم يصدر منها ما يدل على الرضا كما سبق، وراجع الفتوى الأخرى هنا.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam al-Fatawa al-Kubra: “Terjadinya dharar bagi istri karena tidak adanya jima’ mengharuskan fasakh dalam segala kondisi, baik itu disengaja oleh suami maupun tidak disengaja, baik dalam kondisi suami mampu maupun tidak mampu, sebagaimana halnya nafkah bahkan lebih utama lagi.” Hal ini berlaku selama tidak ada tanda keridhaan dari pihak istri sebagaimana disebutkan sebelumnya, dan lihatlah Fatwa yang lain disini.

٥- فسق الزوج وعدم استجابته للنصح والتوجيه، وراجع الفتوى الأخرى هنا. 

5. Kefasikan suami dan tidak adanya respon terhadap nasehat serta arahan. Lihatlah Fatwa yang lain disini.

وهناك حالات أخرى يجوز للمرأة فيه طلب الطلاق تطلب في مظانها من كتب الفقه. وللفائدة يرجى مراجعة هاتين الفتوى الأخرى هنا و الفتوى الأخرى هنا.

Terdapat pula kondisi-kondisi lainnya yang memperbolehkan wanita menuntut cerai yang dapat dicari pada tempatnya di buku-buku fiqh. Untuk manfaat tambahan, silakan merujuk pada Fatwa yang lain disini :

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.