“أبغض الحلال إلى الله الطلاق”
“Perkara Halal yang Paling Dibenci Allah adalah Perceraian”
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel “Perkara Halal yang Paling Dibenci Allah adalah Perceraian” ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa
السؤال:
Pertanyaan:
نريد معرفة أصل القول “إن أبغض الحلال إلى الله الطلاق” وهل هوقول صحيح؟ وهل يوجد ما يحمل نفس هذا المعنى في القرآن أو الأحاديث الصحيحة؟ وشكرا جزيلا
Kami ingin mengetahui asal-usul ucapan “Sesungguhnya perkara halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian”, dan apakah itu ucapan yang shahih? Serta apakah ada yang membawa makna serupa dalam Al-Qur’an atau hadits-hadits shahih? Terima kasih banyak.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فالقول الذي سألت عنه وهو (أبغض الحلال إلى الله الطلاق) حديث من أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم، رواه أبو داود والحاكم وصححه السيوطي وضعفه الألباني.
Ucapan yang Anda tanyakan yaitu (Abghadhul halaali ilallaahi ath-thalaaqu) merupakan salah satu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Hakim. As-Suyuthi menshahihkannya, sedangkan al-Albani mendhaifkannya.
أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ الطَّلَاقُ
“Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian.”
وفي القرآن الكريم حث للزوج على أن يمسك زوجته ولو كرهها، قال تعالى:
Dan dalam Al-Qur’an al-Karim terdapat anjuran bagi suami untuk tetap menahan (mempertahankan) istrinya meskipun ia membencinya. Allah Ta’ala berfirman:
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا [النساء: ١٩]
“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [An-Nisaa: 19]
مع العلم أن الطلاق تعتريه الأحكام الخمسة، وقد فصل ذلك ابن قدامة في المغني فقال: (والطلاق على خمسة أضراب: واجب، وهو طلاق المولي بعد التربص إذا أبى الفيئة، وطلاق الحكمين في الشقاق إذا رأيا ذلك، ومكروه: وهو الطلاق من غير حاجة إليه…والثالث: مباح، وهو عند الحاجة إليه لسوء خلق المرأة، وسوء عشرتها والتضرر بها من غير حصول الغرض بها، والرابع: مندوب إليه، وهو عند تفريط المرأة في حقوق الله الواجبة عليها، مثل: الصلاة ونحوها ولا يمكنه إجبارها عليها، أو تكون له امرأة غير عفيفة…”وأما المحظور فالطلاق في الحيض أو في طهر جامعها فيه، أجمع العلماء في جميع الأمصار وكل الأعصار على تحريمه.) أ.هـ
Perlu diketahui bahwa thalaq dapat dikenai lima hukum (ahkam al-khamsah). Ibnu Qudamah telah merincinya dalam al-Mughni dengan mengatakan: (Thalaq itu ada lima jenis:
1. Wajib, yaitu thalaq al-mu’li (suami yang bersumpah tidak menyetubuhi istri) setelah masa tunggu jika ia enggan kembali (fai’ah), serta thalaq oleh dua hakim (utusan keluarga) dalam masalah syiqaq (perselisihan) jika mereka berpendapat demikian.
2. Makruh, yaitu thalaq tanpa adanya kebutuhan.
3. Mubah (boleh), yaitu ketika ada kebutuhan karena buruknya akhlak istri, buruknya pergaulannya, dan adanya dharar (bahaya) tanpa tercapainya tujuan pernikahan.
4. Mandub (dianjurkan), yaitu ketika istri melalaikan hak-hak Allah yang wajib atasnya, seperti shalat dan semisalnya sedangkan suami tidak mampu memaksanya, atau jika istri tersebut tidak menjaga kehormatan dirinya…
5. Mahzhur (diharamkan), yaitu thalaq saat masa haidh atau pada masa suci yang telah disetubuhi. Ulama di seluruh negeri dan sepanjang masa telah sepakat atas keharamannya.)
Selesai kutipan.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply