الحل بيد الزوجين أو برفعهما الأمر للمحكمة
Solusi Berada di Tangan Pasangan atau dengan Mengajukan Perkara ke Pengadilan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Solusi di Tangan Pasangan atau Ajukan ke Pengadilan ? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Puasa
السؤال:
Pertanyaan:
لا يخفاكم جزاكم الله خيرا بأن لي قريبه تزوجت من ابن عمها منذ 7 سنوات ومدة هذه الفترة لم يدخل عليها بحجة أن كلا منهما يدعي العيب على الآخر علاوة على ذلك سـمعت على أنها تقول عند سماعها باسمه أو تراه فإنها يغمى عليها ويحصل لها ارتجاج على ما تقول هي من خلال الكلام معها ما أريده هو ما تروه الأنفع لهذين الطرفين؟ وما حكم ما هما عليه؟ جزاكم الله خيراً.
Tidak tersembunyi bagi Anda —semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan— bahwa saya memiliki seorang kerabat wanita yang menikah dengan sepupunya sejak 7 tahun yang lalu. Selama kurun waktu tersebut, sang suami belum melakukan dukhul (hubungan suami istri) kepadanya dengan alasan masing-masing saling mengklaim adanya ‘aib pada pihak lainnya. Selain itu, saya mendengar ia berkata bahwa jika mendengar namanya atau melihatnya, ia jatuh pingsan dan mengalami tremor (getaran tubuh) berdasarkan apa yang ia sampaikan saat berbicara dengannya. Yang saya inginkan adalah apa yang menurut Anda paling bermanfaat bagi kedua belah pihak ini? Dan apa hukum dari kondisi mereka berdua ini? Jazakumullahu khairan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن هذين الزوجين إذا كان بهما عيب خلقي، ورضيا العيش مع بعضهما فلا مانع من ذلك شرعاً.
Sesungguhnya pasangan suami istri ini, jika memang terdapat ‘aib khalqi (cacat fisik bawaan) pada keduanya namun mereka berdua ridha untuk tetap hidup bersama, maka tidak ada halangan secara syariat untuk hal tersebut.
وإذا كان بهما أو بأحدهما عيب من العيوب التي توجب الخيار، فله أن يرفع ذلك إلى المحكمة الشرعية لتنصفه ما لم يكن قد علم بالعيب قبل العقد، أو علم بعد العقد، ولكنه رضي به، وكل مدع عليه أن يثبت ما ادعاه.
Apabila pada keduanya atau pada salah satunya terdapat ‘aib yang mewajibkan adanya khiyar (hak pilih untuk membatalkan), maka ia berhak mengajukan perkara tersebut ke Pengadilan Syariat agar mendapatkan keadilan, selama ia belum mengetahui ‘aib tersebut sebelum akad, atau baru mengetahui setelah akad namun ia telah menyatakan ridha dengannya. Dan setiap pendakwa (penuduh) wajib membuktikan apa yang didakwakannya.
وما ذكرت من حال الزوجة عند ما ترى زوجها أو تسمع باسمه، فلها أن تذكر ذلك للمحكمة، وتشرح لهم السبب، ولعل هذه المشكلة من الأمور التي لا يحلها إلا المحاكم الشرعية، ومن يقوم مقامها، فننصح بمراجعتها.
Adapun apa yang Anda sebutkan mengenai kondisi sang istri saat melihat suaminya atau mendengar namanya, maka ia berhak menyampaikan hal tersebut kepada pengadilan dan menjelaskan alasannya kepada mereka. Barangkali masalah ini termasuk perkara yang tidak dapat diselesaikan kecuali oleh Pengadilan Syariat atau lembaga yang berwenang menggantikannya. Maka kami menasehatkan untuk merujuk (berkonsultasi) kepadanya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply