الفتوى ومدى علاقتها بالزمان والمكان
Fatwa dan Hubungannya dengan Dimensi Waktu dan Tempat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Fatwa dan Hubungannya dengan Dimensi Waktu dan Tempat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
قرأت هذا الكلام (العلماء أجمعوا على أن الفتوى تتغير بتغير الزمان والمكان والعرف والحال لذلك يجب الاستفادة من المتغيرات) لكني غير مقتنع به فهل هذا الكلام صحيح . أرجو الإجابة مع الاستدلال بالأدلة الشرعية والسنة ؟ وجزاكم الله خيراً…..
Saya membaca pernyataan ini: (Para ulama telah bersepakat bahwa fatwa dapat berubah dengan berubahnya zaman, tempat, adat, dan keadaan, oleh karena itu perubahan-perubahan tersebut harus dimanfaatkan). Namun saya tidak yakin dengan hal tersebut, apakah pernyataan ini benar? Mohon jawabannya disertai dalil-dalil syariat dan sunnah. Jazakumullahu khairan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فمن رحمة الله تعالى أنه جعل هذه الشريعة صالحة لكل زمان ومكان، وذلك مراعاة لمصالح العباد في المعاش والمعاد، فهي عدل الله بين عباده ورحمته بين خلقه، فبها يصلح حال الناس، وتستقيم بها أمورهم، وبانعدامها تسوء أحوالهم وتضطرب.
Termasuk rahmat Allah Ta’ala adalah Dia menjadikan syariat ini layak untuk setiap zaman dan tempat, sebagai bentuk perhatian terhadap maslahat hamba-hamba-Nya dalam urusan dunia maupun akhirat. Syariat adalah keadilan Allah di antara hamba-hamba-Nya dan rahmat-Nya di antara makhluk-Nya; dengannya kondisi manusia menjadi baik dan urusan mereka menjadi lurus, sementara tanpa syariat, kondisi mereka akan memburuk dan kacau.
وعليه فلا غرابة – أخي الكريم – في مراعاة الشريعة السمحة لحال الزمان والمكان والعادات، وهذا -بحمد الله- ما يدركه كل من درس مقاصدها. ولقد تحدث العلماء عند هذا كثيراً وبينوه في كتبهم، وجلبوا له الأدلة والبراهين من السنة وفعل السلف الصالح.
Oleh karena itu, bukanlah hal yang aneh —wahai saudaraku yang mulia— jika syariat yang toleran ini memperhatikan kondisi zaman, tempat, dan adat istiadat. Hal ini —alhamdulillah— dipahami oleh setiap orang yang mempelajari maksud-maksud syariat (maqashid syariah). Para ulama telah banyak membicarakan hal ini dan menjelaskannya dalam kitab-kitab mereka, serta membawakan dalil-dalil dan bukti-bukti dari Sunnah serta perbuatan Salafush Shalih.
ومن هذا ما نقله الزرقاني في شرحه للموطأ من أن عمر بن عبد العزيز كان يقول: تحدث للناس أقضية بقدر ما أحدثوا من الفجور. ولقد ذكر ابن القيم في كتابه أعلام الموقعين أمثلة عديدة تدل على تأثر الفتوى بالأمور المشار إليها نذكر لك منها ما يلي:
Di antaranya adalah apa yang dinukil oleh az-Zarqani dalam syarahnya terhadap al-Muwaththa’ bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Akan muncul ketetapan hukum bagi manusia sesuai dengan kadar kemaksiatan yang mereka perbuat.” Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya A’lam al-Muwaqqi’in menyebutkan banyak contoh yang menunjukkan pengaruh fatwa oleh perkara-perkara tersebut, kami sebutkan di antaranya:
المثال الأول: أن النبي صلى الله عليه وسلم شرع لأمته إيجاب إنكار المنكر ليحصل بإنكاره من المعروف ما يحبه الله ورسوله، فإذا كان إنكار المنكر يستلزم ما هو أنكر منه وأبغض إلى الله ورسوله فإنه لا يسوغ إنكاره.
Contoh pertama: Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyariatkan kewajiban mengingkari kemungkaran agar dengan pengingkaran tersebut terwujud kebaikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Namun, jika mengingkari suatu kemungkaran justru mengakibatkan kemungkaran yang lebih besar dan lebih dibenci Allah dan Rasul-Nya, maka pengingkaran tersebut tidak diperbolehkan.
وقد حكى عن شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى أنه قال: مررت أنا وبعض أصحابي في زمن التتار بقوم يشربون الخمر فأنكر عليهم من كان معي، فأنكرت عليه وقلت له: إنما ذم الله الخمر لأنها تصد عن ذكر الله وعن الصلاة وهؤلاء يصدهم الخمر عن قتل النفس وسبي الذرية وأخذ الأموال فدعهم.
Diceritakan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah bahwa beliau berkata: “Aku dan beberapa sahabatku berjalan di masa Mongol melewati sekelompok orang yang sedang minum khamr, lalu rekanku mengingkari mereka. Aku pun mencegah rekanku tersebut dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah mencela khamr karena ia menghalangi dari dzikrullah dan shalat, sedangkan orang-orang ini, khamr justru menghalangi mereka dari membunuh jiwa, menawan wanita, dan merampas harta, maka biarkanlah mereka’.”
المثال الثاني: أن النبي صلى الله عليه وسلم:
Contoh kedua: Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
نَهَى عَنْ قَطْعِ الْأَيْدِي فِي الْغَزْوِ
“Melarang pemotongan tangan (hukuman had) dalam peperangan.” (HR. Abu Dawud)
فهذا حد من حدود الله تعالى قد نهى عن إقامته في الغزو خشية أن يترتب عليه ما هو أبغض إلى الله من تعطيله أو تأخيره من لحوق صاحبه بالمشركين حمية وغضبًا، ولا يخفى ما في هذا من تأثر الفتوى بالمكان.
Ini adalah salah satu hukuman (had) dari hukuman Allah Ta’ala yang dilarang pelaksanaannya saat perang karena khawatir akan mengakibatkan hal yang lebih dibenci Allah daripada sekadar menunda hukuman tersebut, yaitu bergabungnya orang yang dihukum itu kepada kaum musyrikin karena fanatisme atau amarah. Sangat jelas dalam hal ini bagaimana fatwa dipengaruhi oleh kondisi tempat.
أما مثال الثالث: تغيرها بالزمان فهو إسقاط عمر بن الخطاب لحد السرقة عام الرمادة، قال ابن القيم: نقلاً عن السعدي قال عمر: لا تقطع اليد في عزق ولا عام سنة.
Adapun contoh ketiga mengenai perubahan fatwa karena waktu (zaman) adalah tindakan Umar bin al-Khaththab yang menggugurkan hukuman potong tangan bagi pencuri pada tahun Ramadah (tahun kelaparan). Ibnu al-Qayyim menukil dari as-Sa’di bahwa Umar berkata: “Tidak ada hukuman potong tangan pada buah yang masih di pohon (‘azq) maupun pada tahun kelaparan (‘am sanah).”
قال السعدي: سألت أحمد بن حنبل عن هذا الحديث، فقال: العزق النخلة، وعام سنة المجاعة، فقلت لـ أحمد تقول به ؟ فقال: إي لعمري.
As-Sa’di berkata: “Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang hadits ini, beliau menjawab: ‘Al-‘Azq adalah pohon kurma, dan ‘am sanah adalah tahun paceklik/kelaparan’. Aku bertanya kepada Ahmad: ‘Apakah Anda berpendapat demikian?’ Beliau menjawab: ‘Ya, demi umurku’.”
ومما قدمناه يتضح للسائل صحة تلك المقولة التي ذكرها، ويجب التنبه إلى أن التأثر بالزمان والمكان الذي ذكره العلماء ليس هو الذي يروج له المنهزمون وسماسرتهم ممن ينتسبون إلى العلم والتمسك به زوراً وبهتاناً.
Dari apa yang kami paparkan di atas, menjadi jelas bagi penanya tentang benarnya ungkapan tersebut. Namun, perlu diperhatikan bahwa pengaruh zaman dan tempat yang disebutkan oleh para ulama bukanlah seperti yang dipromosikan oleh orang-orang yang bermental kalah dan kaki tangan mereka yang mengaku-ngaku sebagai ahli ilmu secara dusta.
وهم يهدمون أركانه كل حين، وينقضون عراه عروة حتى أصبحت المسلَّمات محل نقاش والثوابت محل نزاع، فطلع علينا من يبيح الربا وقد حرمه الله في محكم كتابه، ولعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكله وموكله وكاتبه وشاهديه.
Mereka menghancurkan rukun-rukun agama setiap saat dan melepaskan ikatan-ikatannya satu demi satu, hingga hal-hal yang sudah pasti (musallamat) menjadi bahan diskusi dan prinsip-prinsip dasar (thawabit) menjadi bahan sengketa. Maka muncul di hadapan kita orang yang menghalalkan riba padahal Allah telah mengharamkannya dalam kitab-Nya yang mutlak, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakannya, yang memberikannya, penulisnya, dan dua orang saksinya.
وأجمعت الأمة على أن من زعم حله فقد كفر كفرًا مخرجًا من الملة؛ لأنه أنكر ما علم من الدين بالضرورة وهو حرمة الربا، ورد نصوص الكتاب والسنة.
Umat telah bersepakat bahwa siapa saja yang mengklaim halalnya riba maka ia telah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama; karena ia telah mengingkari apa yang diketahui dari agama secara pasti (ma’lum minad din bid dharurah) yaitu keharaman riba, serta menolak nash Al-Kitab dan Sunnah.
ومن هؤلاء من ينكر عذاب القبر، ومنهم من يزعم عدم وجود يأجوج ومأجوج الآن، وهذا رد صريح لنصوص الشرع لا يجتمع مع الإيمان بالله ورسوله والتصديق بما جاء عنهما بحال.
Di antara mereka ada yang mengingkari azab kubur, ada pula yang mengklaim ketidakadaan Ya’juj dan Ma’juj saat ini. Ini adalah penolakan terang-terangan terhadap nash syariat yang sama sekali tidak sejalan dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta pembenaran terhadap apa yang datang dari keduanya.
وقد كثر هذا الصنف من الناس كثرة تجعل المفكر في الرد على كل نزوة من نزوات هؤلاء يتذكر قول القائل:
Golongan manusia jenis ini telah menjadi begitu banyak, hingga orang yang berpikir untuk membantah setiap penyimpangan mereka akan teringat pada perkataan penyair:
لَوْ كُلُّ عَاوٍ عَوَى أَلْقَمْتُهُ حَجَرًا * لَأَصْبَحَ الصَّخْرُ مِثْقَالًا بِدِينَارِ
“Seandainya setiap anjing yang menggonggong aku sumpal dengan batu, niscaya batu (di dunia ini) akan menjadi seberat timbangan dinar (karena harganya yang menjadi sangat mahal).”
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply