الأحكام الشرعية لاتثبت بالمنامات
Hukum Syariat Tidak Ditetapkan Berdasarkan Mimpi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Syariat Tidak Ditetapkan Berdasarkan Mimpi ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
فقد روي عن كرز بن وبرة رحمه الله وكان من الأبدال قال ” أتاني أخ لي من أهل الشام فأهدى لي هدية وقال: يا كرز اقبل مني هذه الهدية فإنها نعمت الهدية ” فقلت: يا أخي ومن أهدى لك هذه الهدية قال: أعطانيها إبراهيم التيمي.
Diriwayatkan dari Kurz bin Wabrah rahimahullah —beliau termasuk golongan Abdal— ia berkata: “Datang kepadaku seorang saudaraku dari penduduk Syam lalu memberikan hadiah kepadaku seraya berkata: ‘Wahai Kurz, terimalah hadiah ini dariku, karena ini adalah sebaik-baik hadiah.’ Aku bertanya: ‘Wahai saudaraku, siapa yang memberikan hadiah ini kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Ibrahim at-Taimi yang memberikannya kepadaku’.”
قلت أفلم تسأل إبراهيم من أعطاه إياها قال: كنت جالساً في فناء الكعبة وأنا في التهليل والتسبيح والتحميد والتمجيد فجاءني رجل فسلم علي وجلس عن يميني فلم أر في زماني أحسن منه وجهاً ولا أحسن منه ثياباً ولا أشد بياضاً ولا أطيب ريحاً مه فقلت يا عبد الله من أنت ومن أين جئت فقال: أنا الخضر.
Aku bertanya lagi: “Tidakkah engkau bertanya kepada Ibrahim siapa yang memberikannya?” Ia menjawab: “Dahulu aku sedang duduk di pelataran Ka’bah dalam keadaan bertahlil, bertasbih, bertahmid, dan mengagungkan Allah. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki mengucapkan salam kepadaku dan duduk di sebelah kananku. Belum pernah aku melihat di zamanku seseorang yang lebih tampan wajahnya, lebih bagus pakaiannya, lebih putih warnanya, dan lebih harum aromanya daripada dia. Aku bertanya: ‘Wahai hamba Allah, siapakah engkau dan dari mana engkau datang?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al-Khidr’.”
فقالت: في أي شيء جئتني فقال: جئتك للسلام عليك وحباً لك في الله وعندي هدية أريد أن أهديها لك فقلت: ما هي قال: أن تقول قبل طلوع الشمس وقبل انبساطها على الأرض وقبل الغروب سورة الحمد وقل أعوذ برب الناس وقل أعوذ برب الفلق وقل هو الله أحد وقل يا أيها الكافرون وآية الكرسي كل واحدة سبع مرات.
Aku bertanya: “Untuk urusan apa engkau mendatangiku?” Ia menjawab: “Aku datang untuk mengucapkan salam kepadamu karena cintaku kepadamu karena Allah, dan aku memiliki hadiah yang ingin aku berikan kepadamu.” Aku bertanya: “Apa itu?” Ia menjawab: “Engkau membaca sebelum terbit matahari dan sebelum ia tersebar di bumi, serta sebelum matahari terbenam: Surah al-Hamd (al-Fatihah), Qul A’udzu bi Rabbin Naas, Qul A’udzu bi Rabbil Falaq, Qul Huwallahu Ahad, Qul Ya Ayyuhal Kafirun, dan Ayat Kursi; masing-masing sebanyak tujuh kali.”
وتقول: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر سبعاً وتصلي على النبي صلى الله عليه وسلم سبعاً وتستغفر لنفسك ولوالديك وللمؤمنين والمؤمنات سبعاً وتقول: اللهم افعل بي وبهم عاجلاً وآجلاً في الدين والدنيا والآخرة ما أنت له أهل ولا تفعل بنا يا مولانا ما نحن له أهل إنك غفور حليم جواد كريم رؤوف رحيم سبع مرات.
“Dan engkau ucapkan: Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar tujuh kali, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tujuh kali, memohon ampunan untuk dirimu, kedua orang tuamu, dan kaum mukminin serta mukminat tujuh kali, dan engkau ucapkan: ‘Ya Allah, lakukanlah kepadaku dan kepada mereka, segera maupun nanti, dalam urusan agama, dunia, dan akhirat, apa yang Engkau layak melakukannya, dan janganlah Engkau lakukan kepada kami wahai Maulana apa yang kami layak mendapatkannya, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Penyantun, Maha Dermawan, Maha Mulia, Maha Pemaaf, lagi Maha Penyayang’ sebanyak tujuh kali.”
فقلت: أحب أن تخبرني من أعطاك هذه العطية العظيمة فقال: أعطانيها محمد صلى الله عليه وسلم فقلت: أخبرني بثواب ذلك فقال: إذا لقيت محمداً صلى الله عليه وسلم فاسأله عن ثوابه فإنه يخبرك بذلك. فذكر إبراهيم التيمي: أنه رأى ذات يوم في منامه كأن الملائكة جاءته فاحتملته حتى أدخلوه الجنة.
Lalu aku (Ibrahim) berkata: “Aku ingin engkau memberitahuku siapa yang memberimu pemberian agung ini?” Ia menjawab: “Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikannya kepadaku.” Aku bertanya: “Beritahukanlah kepadaku pahalanya?” Ia menjawab: “Jika engkau bertemu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanyakanlah kepadanya tentang pahalanya, maka beliau akan memberitahukannya kepadamu.” Kemudian Ibrahim at-Taimi menyebutkan bahwa suatu hari ia bermimpi seolah-olah malaikat mendatanginya lalu membawanya masuk ke dalam surga.
فرأى مافيها ووصف أموراً عظيمة مما رآه في الجنة قال: فسألت الملائكة فقلت: لمن هذا فقالوا: الذي يعمل مثل عملك وذكر أنه أكل من ثمرها وسقوه من شرابها قال: فأتاني النبي صلى الله عليه وسلم ومعه سبعون نبياً وسبعون صفاً من الملائكة فسلم علي وأخذ بيدي.
Ia melihat apa yang ada di dalamnya dan mensifatkan perkara-perkara besar yang ia lihat di surga. Ia berkata: “Aku bertanya kepada para malaikat: ‘Untuk siapa ini?’ Mereka menjawab: ‘Untuk orang yang beramal seperti amalanmu’.” Ia juga menyebutkan bahwa ia memakan buah-buahannya dan meminum minumannya. Ia melanjutkan: “Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangiku bersama tujuh puluh nabi dan tujuh puluh shaf malaikat. Beliau mengucapkan salam kepadaku dan memegang tanganku.”
فقلت: يا رسول الله الخضر أخبرني أنه سمع منك هذا الحديث فقال:
Lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, Al-Khidr memberitahuku bahwa ia mendengar hadits ini darimu.” Beliau bersabda:
صَدَقَ الْخَضِرُ صَدَقَ الْخَضِرُ وَكُلُّ مَا يَحْكِيهِ فَهُوَ حَقٌّ وَهُوَ عَالِمُ أَهْلِ الْأَرْضِ وَهُوَ رَئِيسُ الْأَبْدَالِ وَهُوَ مِنْ جُنُودِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْأَرْضِ
“Benar apa yang dikatakan Al-Khidr, benar apa yang dikatakan Al-Khidr. Segala apa yang ia ceritakan adalah benar, ia adalah orang alim bagi penduduk bumi, pemimpin golongan Abdal, dan ia termasuk prajurit Allah Ta’ala di bumi.”
فقلت يا رسول الله فمن فعل هذا أو عمله ولم ير مثل الذي رأيت في منامي هل يعطى شيئاً مما أعطيته فقال:
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, barangsiapa yang melakukan atau mengamalkan ini namun tidak melihat seperti apa yang aku lihat dalam mimpiku, apakah ia akan diberikan sesuatu dari apa yang diberikan kepadaku?” Beliau bersabda:
وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيًّا إِنَّهُ لَيُعْطَى الْعَامِلُ بِهَذَا وَإِنْ لَمْ يَرَنِي وَلَمْ يَرَ الْجَنَّةَ إِنَّهُ لَيُغْفَرُ لَهُ جَمِيعُ الْكَبَائِرِ الَّتِي عَمِلَهَا وَيَرْفَعُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ غَضَبَهُ وَمَقْتَهُ وَيَأْمُرُ صَاحِبَ الشِّمَالِ أَنْ لَا يَكْتُبَ عَلَيْهِ خَطِيئَةً مِنَ السَّيِّئَاتِ إِلَى سَنَةٍ وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَا يَعْمَلُ بِهَذَا إِلَّا مَنْ خَلَقَهُ اللَّهُ سَعِيدًا وَلَا يَتْرُكُهُ إِلَّا مَنْ خَلَقَهُ اللَّهُ شَقِيًّا
“Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, sungguh orang yang mengamalkan ini akan diberikan (pahala) meskipun ia tidak melihatku dan tidak melihat surga. Sesungguhnya akan diampuni baginya seluruh dosa besar yang telah ia lakukan, Allah Ta’ala akan mengangkat murka dan kebencian-Nya darinya, dan Allah memerintahkan malaikat pencatat amal buruk (sebelah kiri) untuk tidak menuliskan satu pun kesalahan dari keburukan-keburukannya sampai satu tahun. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, tidaklah mengamalkan ini kecuali orang yang Allah ciptakan sebagai orang yang bahagia, dan tidaklah meninggalkannya kecuali orang yang Allah ciptakan sebagai orang yang celaka.”
وكان إبراهيم التيمي يمكث أربعة أشهر لم يطعم ولم يشرب فلعله كان بعد هذه الرؤيا. هل هذه الرواية صحيحة وما حكمها ؟
Dahulu Ibrahim at-Taimi pernah menetap selama empat bulan tanpa makan dan minum, barangkali itu terjadi setelah mimpi ini. Apakah riwayat ini shahih dan bagaimanakah hukumnya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن الأثر المذكور قد ذكره الغزالي في كتابه إحياء علوم الدين بغير سند إلى قائله حتى نحكم بصحة نسبته إليه أم لا، أما النبي صلى الله عليه وسلم فإننا نجزم بأن هذا لم يرو عنه.
Sesungguhnya atsar yang disebutkan itu telah dicantumkan oleh al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin tanpa sanad (rantai periwayatan) sampai kepada orang yang mengucapkannya sehingga kita bisa menghukumi keshahihan penisbatannya kepadanya atau tidak. Adapun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami memastikan bahwasanya hal ini tidaklah pernah diriwayatkan dari beliau.
وحتى لو صحت نسبته إلى قائله فإنه مجرد منام وما فيه معارض لما ثبت في الشرع، فإنه أورد في آخر هذا الخبر أن النبي صلى الله عليه وسلم أقسم أنه لا يترك العمل بهذا إلا من خلق الله شقيا، وهذا مخالف للمنقول معارض للأصول.
Bahkan jika penisbatannya kepada pengucapnya itu shahih, hal itu hanyalah sekadar mimpi. Dan apa yang ada di dalamnya menyelisihi apa yang telah tsabit dalam syariat. Di bagian akhir berita tersebut disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah bahwa tidak ada yang meninggalkan amalan ini kecuali orang yang diciptakan Allah sebagai orang yang celaka; hal ini menyelisihi dalil yang dinukil (manqul) dan bertentangan dengan prinsip dasar (ushul).
فإن هذا العمل لو ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم لكان مستحبا وتاركه لا يستحق كل هذا الوعيد. أما العمل بما ذكر فجوابه أن هذا من الذكر، والذكر مطلوب الإكثار منه.
Sebab amalan ini seandainya benar-benar tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hukumnya hanyalah sunnah (mustahab), dan orang yang meninggalkannya tidaklah layak mendapatkan ancaman sekeras itu. Adapun mengamalkan apa yang disebutkan, maka jawabannya adalah bahwa ini termasuk dzikir, dan dzikir dianjurkan untuk diperbanyak.
لكن تخصيص هذه الأذكار بهذه الأعداد في هذه الأوقات يحتاج إلى دليل يثبت هذه الهيئة وإلا كانت من البدع الإضافية، ولا نعلم دليلا يدل على ورود هذه الهيئة عن النبي صلى الله عليه وسلم، ولمزيد من الفائدة يرجى الاطلاع على الفتاوى الأخرى هنا.
Akan tetapi, mengkhususkan dzikir-dzikir tersebut dengan jumlah-jumlah tertentu pada waktu-waktu tertentu membutuhkan dalil yang menetapkan tata cara (haiah) tersebut. Jika tidak, maka hal itu termasuk ke dalam Bid’ah Idhafiyyah. Kami tidak mengetahui adanya satu pun dalil yang menunjukkan datangnya tata cara ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk tambahan faidah, silakan merujuk pada Fatwa lain di sini.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply