Mencukupkan Diri pada Satu Riwayat Mengenai Bilangan Dzikir



الأولى الاقتصار على إحدى الروايات الواردة في عدد الذكر بعد الصلاة

Utamanya Mencukupkan Diri pada Salah Satu Riwayat Mengenai Bilangan Dzikir Setelah Shalat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Utamanya Mencukupkan Diri pada Salah Satu Riwayat Mengenai Bilangan Dzikir Setelah Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Hadits

السؤال:

Pertanyaan:

سمعت عن فضل من يحافظ على هذه التسبيحات سبحان الله والحمد لله والله أكبر عدد عشرة لكل منهن وذكر في الحديث والقليل من يحافظ عليهن ..سؤالى أني من منذ أحافظ عليهن مع التسبيحات الثلاثة والثلاثين=المائة المعروفة بعد كل صلاة هل يصح الإتيان بهن معا بعد كل صلاة ؟ ويرجى عدم الإحالة فإني اطلعت على كل الفتاوى في الشبكة لديكم، وبارك الله فيكم .

Saya mendengar tentang keutamaan orang yang menjaga tasbih ini: “Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar” masing-masing sebanyak sepuluh kali, dan disebutkan dalam hadits bahwa sedikit sekali orang yang menjaganya. Pertanyaan saya adalah, selama ini saya menjaganya bersamaan dengan tasbih tiga puluh tiga (dzikir seratus yang masyhur) setelah setiap shalat. Apakah sah mendatangkan keduanya secara bersamaan setelah setiap shalat? Mohon jangan merujuk (memberi link) saja karena saya sudah membaca semua fatwa di jaringan Anda. Barakallahu fikum.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن التسبيح عشرا والتكبير عشرا والتحميد كذلك بعد الصلاة قد رواه الترمذي وأبو داود وغيرهما، ولفظ أبي داود عن عبد الله بن عمرو بن العاص عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

Sesungguhnya tasbih sepuluh kali, takbir sepuluh kali, dan tahmid sepuluh kali setelah shalat telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan selainnya. Lafadz Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لَا يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ، يُسَبِّحُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُمِائَةٌ فِي الْمِيزَانِ

“Ada dua perkara atau dua perangai yang tidaklah seorang hamba Muslim menjaganya melainkan ia akan masuk surga. Keduanya sangat mudah, namun yang mengamalkannya sedikit: (Yaitu) ia bertasbih di setiap dubur (akhir) shalat sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali. Maka itu adalah seratus lima puluh (dalam sehari) di lisan, namun seribu lima ratus dalam timbangan (mizan).”

ويكبر أربعاً وثلاثين إذا أخذ مضجعه ويحمد ثلاثا وثلاثين ويسبح ثلاثا وثلاثين ذلك مائة باللسان وألف في الميزان، فلقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقدها بيده، قالوا: يا رسول الله كيف هما يسير ومن يعمل بهما قليل؟ قال: يأتي أحدكم يعني الشيطان في منامه فينومه قبل أن يقولها، ويأتيه في صلاته فيذكره حاجته قبل أن يقولها .

“Dan ia bertakbir tiga puluh empat kali ketika hendak tidur, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertasbih tiga puluh tiga kali. Itu adalah seratus di lisan, namun seribu dalam timbangan. Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitungnya dengan tangan beliau.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana keduanya itu mudah namun yang mengamalkannya sedikit?” Beliau menjawab: “Setan mendatangi salah seorang dari kalian saat tidurnya lalu membuatnya tertidur sebelum ia mengucapkannya, dan ia mendatangi saat shalatnya lalu mengingatkannya pada hajatnya sebelum ia mengucapkannya.”

ثم إن هذه الراوية هي إحدى الروايات الواردة في الذكر بعد الصلاة، وقد ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم :

Kemudian riwayat ini adalah salah satu dari riwayat-riwayat yang datang mengenai dzikir setelah shalat. Dan telah tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ سَبَّحَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa bertasbih di setiap akhir shalat tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh tiga kali, lalu ia mengucapkan sebagai penyempurna seratus: ‘Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir’, maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim)

وعليه.. فلو اقتصر الأخ السائل على التسبيح عشرا والتكبير والتحميد كذلك لكان أتى بذكر وارد بعد الصلاة , ولو اقتصر على رواية ثلاث وثلاثين كان ذلك أحسن ، قال الشوكاني بعد أن ذكر الروايات الواردة في الذكر بعد الصلاة : وكل ما ورد من هذه الأعداد فحسن إلا أنه ينبغي الأخذ بالزائد فالزائد. انتهى.

Oleh karena itu, seandainya saudara penanya mencukupkan diri pada tasbih, takbir, dan tahmid sepuluh kali, maka ia telah mendatangkan dzikir yang warid setelah shalat. Namun jika ia mencukupkan diri pada riwayat tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik. Asy-Syaukani berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat tentang dzikir setelah shalat: “Seluruh jumlah yang warid ini adalah baik, namun seyogyanya mengambil yang paling banyak bilangannya.” Selesai kutipan.

وقال الصنعاني في سبل السلام عند حديث: (من سبح لله دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين… فتلك تسع وتسعون، وقال تمام المائة: لا إله إلا الله… غفرت خطاياه ولو كانت مثل زبد البحر). رواه مسلم. قال: في رواية أخرى أن التكبير أربع وثلاثون وبه تتم المائة . فينبغي العمل بهذا تارة وبالتهليل أخرى ليكون قد عمل بالروايتين.

Ash-Shan’ani berkata dalam Subulus Salam saat membahas hadits riwayat Muslim tentang tasbih 33 kali: “Dalam riwayat lain disebutkan bahwa takbir itu tiga puluh empat kali dan dengannya genaplah seratus. Maka seyogyanya mengamalkan ini sesekali dan dengan tahlil di kali yang lain, agar ia dapat mengamalkan kedua riwayat tersebut.”

وأما الجمع بينهما قال الشارح وسبقه غيره فليس بوجه لأنه لم يرد الجمع بينهما ولأنه يخرج العدد عن المائة . انتهى. ومن هذا يعلم أن الأولى الاقتصار على إحدى الروايات الواردة في عدد الذكر بعد الصلاة، والأولى منها ما كان أكثر.

“Adapun menggabungkan keduanya (10x dan 33x), pensyarah dan ulama sebelumnya menyebutkan bahwa hal itu tidak memiliki dasar, karena tidak pernah warid perintah untuk menggabungkannya, dan hal itu akan membuat jumlahnya keluar dari angka seratus.” Selesai kutipan. Dari sini diketahui bahwa yang utama adalah mencukupkan diri pada salah satu riwayat yang ada, dan yang paling utama adalah yang jumlahnya paling banyak.

والله أعلم .

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.