Mencukur Jenggot adalah Haram Menurut Pendapat yang Benar



حلق اللحية محرم على الصحيح من مذاهب العلماء

Mencukur Jenggot adalah Haram Menurut Pendapat yang Benar dari Madzhab-madzhab Ulama

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Mencukur Jenggot adalah Haram Menurut Pendapat yang Benar dari Madzhab-madzhab Ulama ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم حلق اللحية للرجل المسلم؟ وهل هو من الكبائر؟

Apa hukum mencukur jenggot bagi seorang laki-laki Muslim? Dan apakah hal tersebut termasuk dalam dosa besar?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فإن حلق اللحية، حرام؛ لما ورد في ذلك من الأحاديث الصحيحة الصريحة، والأخبار، ولعموم النصوص الناهية عن التشبه بالكفار، فمن ذلك: حديث ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du: Sesungguhnya mencukur jenggot adalah haram; karena adanya hadits-hadits shahih yang tegas (sharih) mengenai hal tersebut, serta berdasarkan keumuman nash-nash yang melarang penyerupaan (tasyabbuh) dengan orang-orang kafir. Di antaranya adalah hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ، أَحْفُوا الشَّوَارِبَ، وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Berbedalah kalian dengan orang-orang musyrik; pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot (tumbuh).” (Muttafaqun ‘Alaih)

وهناك أحاديث أخرى بهذا المعنى، وإعفاء اللحية؛ تركها على حالها، وتوفيرها: إبقاؤها وافرة، لا يقص منها شيء. وحكى ابن حزم الإجماع على أن قص الشارب، وإعفاء اللحية، فرض، واستدل بجملة أحاديث: منها: حديث ابن عمر -رضي الله عنهما- السابق.

Terdapat pula hadits-hadits lain dengan makna yang serupa. I’fa-ul lihyah berarti membiarkannya sesuai kondisinya, dan taufiruha berarti membiarkannya tumbuh lebat tanpa memotong sedikit pun darinya. Ibnu Hazm menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa memendekkan kumis dan membiarkan jenggot tumbuh adalah wajib (fardhu). Beliau berhujjah dengan sejumlah hadits, di antaranya hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang telah disebutkan di atas.

وحديث زيد بن أرقم أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

Dan hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَأْخُذْ مِنْ شَارِبِهِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang tidak mengambil (memendekkan) kumisnya, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (Dishahihkan oleh at-Tirmidzi)

قال في الفروع: وهذه الصيغة عند أصحابنا ـ يعني الحنابلة ـ تقتضي التحريم. وقال شيخ الإسلام ابن تيمية في شرح العمدة: فأما حلقها، فمثل حلق المرأة، رأسها، وأشد؛ لأنه من المثلة المنهي عنها، وهي محرمة. وقال أيضاً في الفتاوى الكبرى: ويحرم حلق اللحية، ويجب الختان. انتهى.

Disebutkan dalam kitab al-Furu’: “Shighat (redaksi) ini menurut sahabat-sahabat kami —yakni ulama Hanabilah— bermakna pengharaman.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Syarh al-‘Umdah: “Adapun mencukur jenggot, maka hal itu seperti seorang wanita yang menggunduli kepalanya, bahkan lebih parah; karena hal itu termasuk muthlah (perusakan bentuk tubuh) yang dilarang, dan hukumnya haram.” Beliau juga berkata dalam al-Fatawa al-Kubra: “Diharamkan mencukur jenggot, dan diwajibkan khitan.” Selesai kutipan.

وقال الحطاب المالكي في شرح خليل: وحلق اللحية، لا يجوز، وكذلك الشارب، وهو مثلة، وبدعة، ويؤدب من حلق لحيته، أو شاربه، إلا أن يريد الإحرام بالحج، ويخشى طول شاربه. انتهى.

Al-Hattab al-Maliki berkata dalam Syarh Khalil: “Mencukur jenggot tidak diperbolehkan, demikian pula (mencukur habis) kumis. Hal itu termasuk muthlah dan bid’ah. Orang yang mencukur jenggot atau kumisnya hendaknya diberikan sanksi (ta’dib), kecuali jika ia hendak berihram untuk haji dan khawatir kumisnya terlalu panjang.” Selesai kutipan.

وقال ابن عابدين الحنفي في رد المحتار: يحمل الإعفاء على إعفائها عن أن يأخذ غالبها، أو كلها، كما هو فعل مجوس الأعاجم من حلق لحاهم… ويؤيد إرادة هذا ما في مسلم عن أبي هريرة عنه صلى الله عليه وسلم:

Ibnu Abidin al-Hanafi berkata dalam Radd al-Muhtar: “Membiarkan (jenggot) dipahami sebagai membiarkannya tumbuh agar tidak diambil sebagian besarnya atau seluruhnya, sebagaimana perbuatan orang-orang Majusi non-Arab yang mencukur jenggot mereka… Hal ini dikuatkan oleh riwayat Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَاعْفُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“(Potonglah) pendek kumis, biarkanlah jenggot (tumbuh), dan selisihilah orang-orang Majusi.”

فهذه الجملة واقعة موقع التعليل، وأما الأخذ منها، وهي دون ذلك… فلم يبحه أحد. انتهى. وقال الإمام ابن عبد البر: يحرم حلق اللحية، ولا يفعله إلا المخنثون من الرجال. يعني بذلك المتشبهين بالنساء.

Kalimat terakhir ini berposisi sebagai alasan (ta’lil). Adapun mengambil (memotong) jenggot jika ukurannya di bawah itu… maka tidak ada seorang pun (ulama) yang membolehkannya.” Selesai kutipan. Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Diharamkan mencukur jenggot, dan tidaklah melakukannya kecuali laki-laki yang kebanci-bancian (mukhannatsun),” maksudnya adalah mereka yang menyerupai wanita.

وكان النبي صلى الله عليه وسلم كثيف شعر اللحية ـ رواه مسلم عن جابر، وفي رواية: كثيف اللحية، وفي أخرى: كث اللحية، والمعنى واحد. وقد دل الكتاب، والسنة، والإجماع على الأمر بمخالفة الكفار، والنهي عن مشابهتهم في الجملة.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang lebat rambut jenggotnya —diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir. Dalam satu riwayat disebutkan: katsif al-lihyah, dan dalam riwayat lain: katstsu al-lihyah; maknanya sama. Sungguh Al-Kitab (Al-Qur’an), Sunnah, dan Ijma’ telah menunjukkan perintah untuk menyelisihi orang-orang kafir serta larangan menyerupai mereka secara umum.

لأن مشابهتهم في الظاهر، سبب لمشابهتهم في الأخلاق، والأفعال الممنوعة، بل وفي نفس الاعتقادات، فهي تورث محبة، وموالاة في الباطن، كما أن المحبة في الباطن، تورث المشابهة في الظاهر، وروى الترمذي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Sebab, menyerupai mereka dalam perkara lahiriah menjadi sebab bagi penyerupaan dalam akhlak dan perbuatan yang dilarang, bahkan dalam keyakinan itu sendiri. Hal tersebut membuahkan rasa cinta dan loyalitas (muwallah) di dalam batin, sebagaimana rasa cinta di dalam batin membuahkan kemiripan di sisi lahiriah. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا، لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi dan jangan pula Nasrani.”

وفي لفظ: (من تشبه بقوم، فهو منهم). رواه الإمام أحمد، ورد عمر بن الخطاب شهادة من ينتف لحيته. وليس حلق اللحية من الكبائر، إلا أن يواظب عليه صاحبه؛ لقول ابن عباس -رصي الله عنهما-: (لا صغيرة مع الإصرار).

Dalam lafadz lain: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad). Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menolak persaksian orang yang mencabuti jenggotnya. Mencukur jenggot bukanlah termasuk dosa besar, kecuali jika pelakunya terus-menerus melakukannya; hal ini berdasarkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus (istimrar/ishrar).”

فالإصرار على الصغيرة، يلحقها بالكبائر. والواجب: التوبة، والإقلاع عن الذنوب كلها -صغيرها، وكبيرها- ، وكما قيل: لا تنظر إلى صغر الذنب، وانظر إلى عظمة من عصيت.

Maka terus-menerus melakukan dosa kecil dapat menyamakannya dengan dosa besar. Kewajiban kita adalah bertaubat dan meninggalkan seluruh dosa —baik yang kecil maupun yang besar—. Sebagaimana dikatakan: “Janganlah engkau melihat pada kecilnya dosa, namun lihatlah kepada keagungan Dzat yang engkau durhakai.”

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.