Pendapat Para Ulama dalam Memotong (Merapikan) Jenggot



أقوال العلماء في الأخذ من اللحية

Pendapat Para Ulama dalam Memotong (Merapikan) Jenggot

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Pendapat Para Ulama dalam Memotong (Merapikan) Jenggot ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

هل إعفاء اللحية واجب؟ وما معنى حديث: “كان رسول الله يأخذ من طول وعرض لحيته”؟ وشكرًا.

Apakah memelihara jenggot (i’fa-ul lihyah) itu wajib? Dan apa makna hadits: “Rasulullah dahulu mengambil (merapikan) dari panjang dan lebar jenggotnya”? Terima kasih.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن حلق اللحية محرم عند الحنفية، والمالكية، والحنابلة، ووجه عند الشافعية، قال به القفال الشاشي، والحليمي، وصوبه الأذرعي.

Sesungguhnya mencukur jenggot adalah haram menurut madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali, serta merupakan satu pendapat (wajh) dalam madzhab Shafi’i yang dikemukakan oleh al-Qaffal asy-Syasyi dan al-Halimi, serta dibenarkan oleh al-Adzra’i.

ومذهب الشافعية المعتمد عندهم، هو الكراهة، وهو الذي نصّ عليه الشيخان: الرافعي، والنووي، قال ابن حجر الهيتمي في تحفة المحتاج: قال الشيخان: يكره حلق اللحية، واعترض ابن الرفعة في حاشيته الكافية بأن الشافعي -رحمه الله- نصّ في الأم على التحريم.

Adapun madzhab Shafi’i yang mu’tamad (resmi) di kalangan mereka adalah makruh, dan inilah yang ditegaskan oleh dua syaikh (as-Syaikhani): ar-Rafi’i dan an-Nawawi. Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam Tuhfatul Muhtaj: “Dua syaikh berkata: dimakruhkan mencukur jenggot. Namun Ibnu al-Rif’ah menyanggah dalam Hasyiyah al-Kafiyah-nya bahwa Imam asy-Syafi’i rahimahullah secara tegas mengharamkannya di dalam kitab al-Umm.”

قال الزركشي، وكذا الحليمي في شعب الإيمان، وأستاذه القفall في محاسن الشريعة، وقال الأذرعي: الصواب تحريم حلقها جملة؛ لغير علة بها.

Az-Zarkasyi berkata demikian juga al-Halimi dalam Syu’abul Iman, serta gurunya, al-Qaffal dalam Mahasin asy-Syari’ah. Al-Adzra’i berkata: “Yang benar adalah pengharaman mencukur jenggot secara keseluruhan jika tanpa adanya alasan medis (‘illah) pada jenggot tersebut.”

وأما أخذ ما زاد عن القبضة، فأكثر الفقهاء على جوازه، وعدم كراهته، وروى ابن أبي شيبة في المصنف أخذ ما زاد عن القبضة عن علي بن أبي طالب، وأبي هريرة، وعبد الله بن عمر بن الخطاب، وطاوس، والقاسم بن محمد بن أبي بكر.

Adapun mengambil (memotong) bagian yang melebihi satu genggaman tangan, maka mayoritas fukaha berpendapat tentang kebolehannya dan tidak makruh. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam al-Mushannaf tindakan memotong bagian yang melebihi satu genggaman ini dari Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab, Thawus, dan al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar.

وقال عطاء بن أبي رباح: كانوا يحبون أن يعفوا اللحية، إلا في حج، أو عمرة. وقال الحسن: كانوا يرخصون فيما زاد على القبضة من اللحية أن يؤخذ منها. وقال جابر: لا نأخذ من طولها، إلا في حج، أو عمرة.

‘Atha bin Abi Rabah berkata: “Dahulu mereka (para sahabat) suka membiarkan jenggot tumbuh, kecuali saat Haji atau Umrah.” Al-Hasan berkata: “Mereka memberikan keringanan pada bagian jenggot yang melebihi satu genggaman untuk diambil (dipotong) darinya.” Jabir berkata: “Kami tidak mengambil dari panjangnya jenggot kecuali saat Haji atau Umrah.”

وفي المنتقى: قيل لمالك: فإذا طالت جدًّا. قال: أرى أن يؤخذ منها، وتقصّ. وقال ابن مفلح في الآداب الشرعية: ويسن أن يعفي لحيته. وقيل: قدر قبضته. وله أخذ ما زاد عنها، وتركه، نصّ عليه. وقيل: تركه أولى.

Dalam kitab al-Muntaqa disebutkan: Ditanyakan kepada Imam Malik: “Bagaimana jika jenggot itu sangat panjang?” Beliau menjawab: “Aku berpendapat hendaknya diambil darinya dan dipotong.” Ibnu Muflih berkata dalam al-Adab asy-Syar’iyyah: “Disunnahkan membiarkan jenggotnya tumbuh. Ada yang mengatakan kadarnya adalah satu genggaman. Ia boleh mengambil bagian yang melebihi genggaman tersebut atau membiarkannya, hal ini ditegaskan dalam nash. Ada pula yang berpendapat membiarkannya (tetap panjang) adalah lebih utama.”

والخلاصة: أن العلماء اختلفوا في إعفاء اللحية ما هو؟ فقال بعضهم: تركها من غير قص، ولا تقصير؛ حتى تطول، وقال بعضهم: حتى تكون كثيفة، وتغطّي ما تحتها من اللحيين، وإن لم تبلغ القبضة.

Ringkasnya: Para ulama berselisih pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan memelihara jenggot (i’fa)? Sebagian berkata: Membiarkannya tanpa memotong maupun memendekkannya sampai ia memanjang. Sebagian lain berkata: Sampai ia menjadi lebat dan menutupi bagian bawah kedua tulang rahang, meskipun belum mencapai satu genggaman.

وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم في ذلك معروفة، وهي الإعفاء مطلقًا، وهي الأحق بالاتباع. وأما الحديث المشار إليه في السؤال، فرواه الترمذي عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده:

Dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal itu sudah diketahui, yaitu membiarkannya tumbuh secara mutlak, dan itulah yang paling berhak untuk diikuti. Adapun hadits yang diisyaratkan dalam pertanyaan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari ‘Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ كَانَ يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ مِنْ عَرْضِهَا، وَطُولِهَا

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengambil (merapikan) jenggotnya dari bagian lebar dan panjangnya.”

قال ابن الجوزي في العلل المتناهية: هذا حديث لا يثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، والمتهم به عمر بن هارون البلخي، قال العقيلي: لا يعرف إلا به. قال يحيى: هو كذاب، وقال النسائي: متروك.

Ibnu al-Jauzi berkata dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyah: “Ini adalah hadits yang tidak tsabit (tidak valid) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang tertuduh (cacat) dalam riwayat ini adalah Umar bin Harun al-Balkhi. Al-‘Uqaili berkata: Hadits ini tidak dikenal kecuali melalui jalurnya. Yahya (bin Ma’in) berkata: Ia adalah pendusta. An-Nasa’i berkata: Ia matruk (ditinggalkan haditsnya).”

وقال البخاري: لا أعرف لعمر بن هارون حديثًا لا أصل له، إلا هذا. وقال ابن حبان: يروي عن الثقات المعضلات. ويدّعي شيوخًا لم يرهم. اهـ.

Al-Bukhari berkata: “Aku tidak mengetahui satu pun hadits Umar bin Harun yang tidak memiliki dasar melainkan hadits ini.” Ibnu Hibban berkata: “Ia meriwayatkan hadits-hadits mu’dhal (terputus sanadnya) dari para perawi tsiqah, dan mengaku-ngaku memiliki guru yang tidak pernah ia temui.” Selesai kutipan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.