سبب اختلاف الفتوى في حكم إعفاء اللحية
Penyebab Perbedaan Fatwa Mengenai Hukum Memelihara Jenggot
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Penyebab Perbedaan Fatwa Mengenai Hukum Memelihara Jenggot ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
اختلاف الفتوى في حكم إعفاء اللحية بين البلدان ما سببه وما الأصح؟
Apa penyebab perbedaan fatwa mengenai hukum memelihara jenggot di antara berbagai negara, dan manakah pendapat yang paling benar?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فقد حكى غير واحد من العلماء الاتفاق على تحريم حلق اللحية، وهذا ما دلت عليه الأحاديث الصحيحة، وقد سبق بيان ذلك في الفتاوى الأخرى هنا.
Sesungguhnya lebih dari satu ulama telah menukil adanya kesepakatan (ittifaq) atas haramnya mencukur jenggot. Inilah yang ditunjukkan oleh hadits-hadits shahih, dan penjelasan mengenai hal tersebut telah dipaparkan dalam Fatwa lain di sini.
وقد تختلف الفتوى في هذه المسألة لأسباب منها:
Fatwa dalam masalah ini bisa berbeda karena beberapa alasan, di antaranya:
١/ أن يكون المفتي راعى حال السائل والظروف المحيطة به، كأن يكون في بلد لا يمكنه من إعفاء لحيته فيه.
1. Mufti mempertimbangkan kondisi penanya dan keadaan di sekitarnya, seperti ketika ia berada di negara yang tidak memungkinkan baginya untuk memelihara jenggot.
٢/ أو اعتمد على قول مرجوح يفيد الكراهة لا التحريم.
2. Atau bersandar pada pendapat yang marjuh (lemah) yang menyatakan hukumnya makruh, bukan haram.
٣/ أن يكون أخطأ في فهم كلام بعض الأئمة.
3. Adanya kekeliruan dalam memahami perkataan sebagian imam.
٤/ أو اتبع منهجاً غير مرضي في التعامل مع الأوامر والنواهي الواردة في سنة النبي صلى الله عليه وسلم.
4. Atau mengikuti metodologi yang tidak memuaskan dalam berinteraksi dengan perintah dan larangan yang terdapat dalam Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
والصحيح الذي عليه جمهور العلماء أنه لا فرق بين ما ورد من ذلك في السنة، وبين ما ورد في القرآن الكريم، فالأمر المطلق يفيد الوجوب، والنهي المطلق يقتضي التحريم، ويجب أن يحمل كل على ما هو أصل فيه إلى أن يوجد صارف يصرف عنه.
Pendapat yang benar dan dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa tidak ada perbedaan antara apa yang diperintahkan dalam Sunnah dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Qur’anul Karim. Perintah yang mutlak menunjukkan kewajiban (wajib), dan larangan yang mutlak menuntut keharaman (haram). Masing-masing harus dibawa pada makna asalnya tersebut sampai ditemukan adanya dalil yang memalingkannya (shariif).
ولمزيد من الفائدة انظر الفتوى الأخرى هنا.
Untuk tambahan faidah, silakan lihat Fatwa lain di sini.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply