Apakah Baitul Ma’mur Sejajar dengan Arsy ?



هل البيت المعمور بمحاذاة العرش؟ وكيف يستقيم ذلك مع دوران الأرض؟

Apakah Baitul Ma’mur Sejajar dengan Arsy? Dan Bagaimana Hal Itu Selaras dengan Rotasi Bumi?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

سمعت حديثًا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما معناه: أنه لو وقع حجر من تحت عرش الله تعالى، لوقع فوق الكعبة مباشرة، وهذا يدل على أن العرش فوق الكعبة مباشرة, أرجو أن توضحوا لي كيف هذا، مع العلم أن الأرض في حركة دوران مستمرة حول محورها، وحول الشمس أيضًا.

Saya mendengar hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maknanya: Bahwa seandainya sebuah batu jatuh dari bawah Arsy Allah Ta’ala, niscaya batu itu akan jatuh tepat di atas Ka’bah. Ini menunjukkan bahwa Arsy berada tepat di atas Ka’bah. Saya mohon Anda menjelaskan kepada saya bagaimana hal ini bisa terjadi, mengingat bumi berada dalam gerakan rotasi terus-menerus pada porosnya, dan juga (berevolusi) mengelilingi matahari.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فلا نعلم حديثًا باللفظ الذي ذكر في السؤال، وفي حديث الإسراء والمعراج -وهو حديث طويل متفق عليه- عن مالك بن صعصعة -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:

Kami tidak mengetahui adanya hadits dengan lafadz sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan. Namun, dalam hadits Isra’ dan Mi’raj —hadits panjang yang disepakati keshahihannya (muttafaqun ‘alaih)— dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَأَتَيْنَا السَّمَاءَ السَّابِعَةَ، فَقِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قِيلَ: جِبْرِيلُ، قِيلَ: مَنْ مَعَكَ؟ قيلَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ مَرْحَبًا، وَلَنِعْمَ الْمَجِيءُ جَاءَ، فَأَتَيْتُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: مَرْحَبًا بِكَ مِنِ ابْنٍ، وَنَبِيٍّ، فَرُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ: هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

“…Maka kami mendatangi langit ketujuh, lalu ditanya: ‘Siapakah ini?’ Dijawab: ‘Jibril’. Ditanya: ‘Siapa yang bersamamu?’ Dijawab: ‘Muhammad’. Ditanya: ‘Apakah dia telah diutus?’ (Dijawab: ‘Ya’). (Ditanya): ‘Selamat datang, sungguh sebaik-baik kedatangan telah datang’. Maka aku mendatangi Ibrahim, aku mengucapkan salam kepadanya, lalu dia berkata: ‘Selamat datang bagimu dari seorang anak dan nabi’. Kemudian ditampakkan kepadaku Baitul Ma’mur, lalu aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab: ‘Ini adalah Baitul Ma’mur, setiap hari tujuh puluh ribu malaikat shalat di dalamnya, jika mereka keluar, mereka tidak akan kembali lagi ke sana untuk selamanya…'”

وأخرج الطبري عن قتادة قال: ذكر لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: البيت المعمور مسجد في السماء بحذاء الكعبة، لو خرّ لخرّ عليها، يدخله سبعون ألف ملك كل يوم، إذا خرجوا منه، لم يعودوا. والحديث مرسل. قال الألباني: وإسناده مرسلًا صحيح.

At-Thabari meriwayatkan dari Qatadah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kepada kami, beliau bersabda: “Baitul Ma’mur adalah sebuah masjid di langit yang sejajar dengan Ka’bah, seandainya ia jatuh, niscaya akan jatuh di atasnya (Ka’bah). Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat memasukinya, jika mereka keluar darinya, mereka tidak akan kembali.” Hadits ini mursal. Al-Albani berkata: “Sanadnya secara mursal adalah shahih.”

وأخرج الطبري عن ابن عباس -رضي الله عنهما- أنه قال: والبيت المعمور هو بيت حذاء العرش، تعمره الملائكة، يصلي فيه كل يوم سبعون ألفًا من الملائكة، ثم لا يعودون إليه.

At-Thabari juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: “Dan Baitul Ma’mur adalah rumah yang sejajar dengan Arsy, dimakmurkan oleh para malaikat, setiap hari tujuh puluh ribu malaikat shalat di dalamnya, kemudian mereka tidak kembali lagi ke sana.”

فمن هذا كله؛ نخلص إلى أن البيت المعمور بمحاذاة العرش، وبمحاذاة الكعبة. ولا يُشْكل على هذا كون الأرض تدور حول نفسها، أو حول الشمس؛ إذ المخلوقات كلها في حجمها، لا تساوي شيئًا أمام العرش، فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم:

Maka dari semua ini, kita menyimpulkan bahwa Baitul Ma’mur sejajar dengan Arsy, dan sejajar dengan Ka’bah. Fakta bahwa bumi berotasi pada porosnya atau berevolusi mengelilingi matahari tidaklah menjadi masalah (kontradiksi) terhadap hal ini. Sebab, seluruh makhluk dalam totalitas ukurannya tidak ada artinya di hadapan Arsy. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ، إِلَّا كَحَلْقَةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ، كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى الْحَلْقَةِ

“Tidaklah langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi melainkan seperti sebuah cincin di tanah lapang, dan keutamaan Arsy atas Kursi adalah seperti keutamaan tanah lapang atas cincin tersebut.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

فإذا نظرت إلى حجم الكعبة بالنسبة إلى الأرض، وحجم الأرض بالنسبة إلى السماوات، وذلك كله بالنسبة إلى الكرسي، والكرسي بالنسبة إلى العرش، عرفت أن كون الكعبة بمحاذاة البيت المعمور والعرش مع دوران الأرض، لا إشكال فيه.

Maka, jika Anda melihat ukuran Ka’bah dibandingkan dengan bumi, ukuran bumi dibandingkan dengan langit, dan itu semua dibandingkan dengan Kursi, serta Kursi dibandingkan dengan Arsy, Anda akan mengetahui bahwa keberadaan Ka’bah yang sejajar dengan Baitul Ma’mur dan Arsy meskipun bumi berputar, bukanlah suatu masalah.

ولا نقيس قدرة الله على ما في عقولنا، وما تدركه حواسنا، فشأن الله أعظم من ذلك، فقد أخرج أبو داود أن أعرابيًّا قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: فإنا نستشفع بك على الله، ونستشفع بالله عليك، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dan janganlah kita mengukur kekuasaan Allah berdasarkan apa yang ada dalam akal kita dan apa yang ditangkap oleh indera kita, sebab urusan Allah jauh lebih agung dari itu. Abu Dawud meriwayatkan bahwa seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “…Maka sesungguhnya kami meminta syafaat denganmu kepada Allah, dan kami meminta syafaat dengan Allah kepadamu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَيْحَكَ، أَتَدْرِي مَا تَقُولُ؟! وَسَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَا زَالَ يُسَبِّحُ؛ حَتَّى عَرَفَ ذَلِكَ فِي وُجُوهِ أَصْحَابِهِ، ثُمَّ قَالَ: وَيْحَكَ، إِنَّهُ لَا يُسْتَشْفَعُ بِاللَّهِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ، شأنُ اللَّهِ أَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ، وَيْحَكَ، أَتَدْرِي مَا اللَّهُ؟ إِنَّ عَرْشَهُ وسماواته لَهَكَذَا، وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ مِثْلَ الْقُبَّةِ عَلَيْهِ

“Celaka engkau! Tahukah engkau apa yang engkau ucapkan?!” Beliau terus bertasbih sampai nampak (kekhawatiran) pada wajah para sahabatnya. Kemudian beliau bersabda: “Celaka engkau, sesungguhnya tidaklah boleh meminta syafaat dengan Allah kepada salah seorang dari makhluk-Nya. Urusan Allah jauh lebih agung dari itu. Celaka engkau, tahukah engkau siapa Allah? Sesungguhnya Arsy-Nya di atas langit-langit-Nya adalah seperti ini —beliau memberi isyarat dengan jari-jarinya membentuk kubah— di atasnya.”

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.