لا تبرأ ذمتك بإسقاط الدين من الزكاة الواجبة عليك
Memutihkan Hutang Tidak Bisa Dianggap Sebagai Pembayaran Zakat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Memutihkan Hutang Tidak Bisa Dianggap Sebagai Pembayaran Zakat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat
السؤال:
Pertanyaan:
لي صديق وقد استدان مني بعض المال وهو غير قادر على أدائه الآن وعليه ديون كثيرة فهل يجوز أن أسقط هذا الدين عنه وأعتبره من الزكاة؟
Saya memiliki seorang teman yang meminjam sejumlah uang kepada saya, namun ia tidak mampu melunasinya saat ini dan memiliki banyak hutang lainnya. Apakah diperbolehkan bagi saya untuk memutihkan (menganggap lunas) hutang tersebut dan menghitungnya sebagai pembayaran zakat?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن هذه الصورة وهي (إسقاط الدين ) واعتباره من الزكاة ولا تجزيء في دفع الزكاة. والعلة في ذلك – والله أعلم – أن الزكاة يشترط عند دفعها إلى مستحقيها النية، وهذا المال الذي أعطيته صديقك إنما أعطيته إياه على وجه القرض لا على وجه الزكاة.
Sesungguhnya bentuk tindakan seperti ini, yaitu (memutihkan hutang) dan menganggapnya sebagai zakat, tidaklah sah dalam penunaian zakat. Alasannya —wallahu a’lam— adalah karena zakat mensyaratkan adanya niat saat menyerahkannya kepada yang berhak. Sementara uang yang Anda berikan kepada teman Anda tersebut, pada awalnya Anda berikan sebagai pinjaman (hutang), bukan diniatkan sebagai zakat.
والأمر الثاني: أن الزكاة فيها معنى الأخذ والإعطاء كما يستنبط من قوله تعالى:
Alasan kedua: Bahwa zakat mengandung makna “mengambil” dan “memberi”, sebagaimana yang disimpulkan dari firman Allah Ta’ala:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا [التوبة: ١٠٣]
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” [At-Tawbah: 103]
وهذه الصورة إنما هي مجرد إسقاط دين فليس فيها صورة الإعطاء منك والأخذ من صديقك ـ ثم إن في هذا حماية لمالك.
Sedangkan tindakan ini hanyalah sekadar pemutihan hutang, sehingga tidak ada proses penyerahan dari Anda dan penerimaan oleh teman Anda. Selain itu, cara ini juga mengandung unsur melindungi harta Anda sendiri (agar tidak rugi karena hutang yang macet).
فالحاصل أنك إن كنت تحب أن تسقطها عنه بنية التخفيف فهذا أمر مستحب وأجرك فيه عند الله، لقوله تعالى:
Kesimpulannya, jika Anda ingin membebaskan hutang tersebut dengan niat meringankan bebannya, maka ini adalah perbuatan yang dianjurkan (mustahab) dan pahala Anda ada di sisi Allah, sesuai firman-Nya:
وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ [البقرة: ٢٨٠]
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (membebaskan utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” [Al-Baqarah: 280]
وإن أسقطتها على أنها جزء من الزكاة فإن ذمتك لم تبرأ، ويجب دفع الزكاة مرة أخرى إليه أو إلى غيره من مستحقيها.
Namun, jika Anda membebaskannya dengan niat menjadikannya zakat, maka kewajiban zakat Anda belum gugur. Anda tetap wajib membayar zakat sekali lagi, baik diberikan kepadanya (sebagai zakat baru) atau kepada mustahik zakat lainnya.
والله تعالى أعلم.
Wallahu Ta’ala a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply