Mimpi Tidak Menjadi Dasar bagi Hukum Agama Maupun Dunia



الرؤيا لا ينبني عليها أحكام دينية أو دنيوية

Mimpi Tidak Menjadi Dasar bagi Hukum Agama Maupun Dunia

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Mimpi Tidak Menjadi Dasar bagi Hukum Agama Maupun Dunia ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمتة وبركاتة وبعد : لقد صليت صلاة الاستخارة في أمر سفري أنا وأبنائي إلى زوجي خوفا مني أن يكون فيه عجلة من الأمر ونمت طاهرة مصلية وإذا بي في الصباح أتذكر ما رأيت فى المنام وانقبض قلبي لأنني رأيت نفسي في بيت يجلس فيه الأولاد ولكن هناك على الطاولة شخصان ينامان ولكنهما ميتان فخفت كثيرا على أبنائي وزوجي وقررت عدم السفر ولكن زوجي أصر على ذلك فنفذت وأنا كلي قلق مع إيمانى بالله إيمانا عميقاً ولكني قد جربت صلاة الاستخارة في كثير من أمور حياتي وجدت تطابق هذه الرؤى مع الواقع بعد فترة من الوقت وأنا الآن أعيش في قلق وخوف من هذه الرؤيا أفيدوني أفادكم الله .

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du: Saya telah melaksanakan shalat Istikharah mengenai urusan safar (perjalanan) saya dan anak-anak saya untuk menyusul suami, karena saya khawatir terburu-buru dalam mengambil keputusan. Saya tidur dalam keadaan suci dan setelah shalat, lalu pada pagi harinya saya teringat apa yang saya lihat dalam mimpi. Hati saya merasa sesak (inqibadh) karena saya melihat diri saya berada di sebuah rumah di mana anak-anak sedang duduk, namun di atas meja ada dua orang yang sedang berbaring dalam keadaan mati. Saya sangat takut terhadap keselamatan anak-anak dan suami saya, sehingga saya memutuskan untuk tidak berangkat. Namun suami saya bersikeras agar kami tetap berangkat, maka saya pun melaksanakannya meskipun dalam kondisi penuh kecemasan. Saya memiliki iman yang mendalam kepada Allah, namun saya sudah sering mencoba shalat Istikharah dalam banyak urusan hidup saya dan menemukan mimpi-mimpi tersebut selalu sesuai dengan kenyataan setelah beberapa waktu. Saat ini saya hidup dalam kecemasan dan ketakutan karena mimpi tersebut. Berikanlah penjelasan kepada saya, semoga Allah memberikan faidah kepada Anda.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن الرؤى والأحلام لا يمكن أن يبني الإنسان عليهما أمراً أساسياً من دينه أو دنياه ، بحيث يعمل بمقتضاهما كفاً أو امتثالاً. وعليه فما دام زوجك يريد منك السفر إليه فأطيعيه ، ولا تكترثي بالأحلام ، ولا تلقي لها بالاً.

Sesungguhnya visi (ru’ya) dan mimpi-mimpi tidak mungkin bagi manusia untuk membangun di atas keduanya suatu perkara mendasar dalam urusan agama maupun dunianya, hingga ia beramal berdasarkan tuntutan mimpi tersebut baik dalam bentuk meninggalkan sesuatu atau melaksanakannya. Oleh karena itu, selama suami Anda menginginkan Anda untuk bersafar kepadanya, maka taatilah dia, jangan mempedulikan mimpi-mimpi tersebut, dan jangan menghiraukannya.

وخصوصا إذا كانت من هذا النوع ، ففي صحيح مسلم عن أبي قتادة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:

Terlebih lagi jika mimpinya berjenis seperti ini. Dalam Shahih Muslim dari Abu Qatadah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ ، وَالرُّؤْيَا السَّيِّئَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Mimpi yang baik itu dari Allah, dan mimpi yang buruk itu dari setan.”

فإذا تقرر أن ما يراه النائم مما يكره في نومه هو من الشيطان ، فما عليك أيتها السائلة إلا أن تعتمدي على ربك ، وتتوكلي عليه ، وتتيقني بقدره ، وتمتثلي ما أمرك به زوجك.

Jika telah ditetapkan bahwa apa yang dilihat oleh orang yang tidur berupa hal-hal yang ia benci dalam mimpinya adalah berasal dari setan, maka tidak ada kewajiban bagi Anda wahai penanya melainkan bersandar kepada Rabb Anda, bertawakal kepada-Nya, meyakini takdir-Nya, dan mematuhi apa yang diperintahkan suami Anda kepada Anda.

ثم إن النبي صلى الله عليه وسلم أرشد إلى العلاج الواقي من شر رؤيا السوء الشيطانية ، فقال عليه الصلاة والسلام:

Kemudian, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membimbing kepada terapi preventif dari keburukan mimpi buruk setan, beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda:

فَمَنْ رَأَى رُؤْيَا فَكَرِهَ مِنْهَا شَيْئًا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ، وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ، لَا تَضُرُّهُ ، وَلَا يُخْبِرْ بِهَا أَحَدًا

“Maka barangsiapa melihat mimpi lalu ia membenci sesuatu darinya, hendaknya ia meludah tipis (menoleh) ke arah kirinya, dan memohon perlindungan kepada Allah dari setan, maka mimpi itu tidak akan membahayakannya, dan janganlah ia menceritakannya kepada siapa pun.” (HR. Muslim)

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.