من رأى رسول الله يرشده لقراءة آيات للرقية
Orang yang Melihat Rasulullah Membimbingnya Membaca Ayat untuk Ruqyah
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Orang yang Melihat Rasulullah Membimbingnya Membaca Ayat untuk Ruqyah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah
السؤال:
Pertanyaan:
توجد امرأة تدعي أنها ترى رؤى في منامها وأنها ترى الرسول صلى الله عليه وسلم ويقول لها اقرئي الآية رقم كذا من سورة كذا، ويعدد لها عدة آيات تقرؤها على الناس لشفائهم وعادة تكون هذه الآيات غير مرتبة حسب ترتيب القرآن، وأن تصلي صلوات لم ترد عن الرسول صلى الله عليه وسلم مثل الصلاة النارية، فما حكم هذه الأمور؟ وجزاكم الله خيراً.
Terdapat seorang wanita yang mengklaim bahwa ia mendapatkan mimpi-mimpi, di mana ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya: “Bacalah ayat nomor sekian dari surah sekian.” Beliau menyebutkan beberapa ayat kepadanya untuk dibacakan kepada orang-orang agar mereka sembuh, dan biasanya ayat-ayat ini tidak berurutan sesuai urutan Al-Qur’an. Wanita itu juga melakukan shalat-shalat (shalawat) yang tidak pernah datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Shalawat Nariyah. Bagaimana hukum perkara-perkara ini? Jazakumullahu khairan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن رؤيا النبي صلى الله عليه وسلم يمكن حصولها لأي مسلم، وهي رؤيا حق لمن رآه على صفته التي ذكرها من وصفوه من أصحابه رضوان الله عليهم، وهي موجودة في كتب الشمائل والسير، ففي الحديث:
Sesungguhnya bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mungkin saja terjadi pada setiap Muslim. Mimpi itu adalah benar (haq) bagi siapa saja yang melihat beliau sesuai dengan sifat-sifatnya yang telah disebutkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang menyifatkan beliau, yang mana keterangan tersebut terdapat dalam kitab-kitab Shama’il dan Sirah. Dalam hadits disebutkan:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي
“Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka ia benar-benar telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupai bentukku.” (HR. Muslim)
إلا أنه يتعين عرض ما سمع في الرؤيا على الشرع فإن قبله فلا حرج فيه، وإلا فإنه مردود، كما سبق بيانه في الفتوى الأخرى هنا.
Akan tetapi, apa yang didengar di dalam mimpi tersebut wajib untuk ditimbang dengan timbangan syariat. Jika syariat menerimanya, maka tidak ada keberatan padanya. Namun jika tidak, maka hal tersebut tertolak, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam Fatwa lain di sini :
وقد ذكر الزرقاني في شرح الموطأ: أن رجلاً رأى النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال له: اذهب إلى موضع كذا فاحفره فإن فيه ركازا فخذه لك ولا خمس عليك فيه، فلما أصبح ذهب إلى ذلك الموضع فحفره فوجد الركاز فيه!
Az-Zarqani menyebutkan dalam Syarah al-Muwaththa’ bahwa ada seorang laki-laki bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata kepadanya: “Pergilah ke tempat ini, galilah, karena di sana ada harta terpendam (rikaz). Ambillah untukmu dan tidak ada kewajiban khumus (zakat seperlima) bagimu.” Ketika pagi tiba, ia pergi ke tempat tersebut dan menggalinya, lalu ia benar-benar menemukan rikaz di sana!
فاستفتى علماء عصره فأفتوه بأنه لا خمس عليه لصحة الرؤيا، وأفتى العز بن عبد السلام بأن عليه الخمس، وقال: أكثر ما ينزل منامه منزلة حديث روي بإسناد صحيح، وقد عارضه ما هو أصح منه وهو حديث في الركاز الخمس.
Ia pun meminta fatwa kepada para ulama di zamannya, dan mereka memfatwakan bahwa tidak ada kewajiban khumus baginya karena benarnya mimpi tersebut. Namun, al-Izz bin Abdussalam memfatwakan bahwa ia tetap wajib membayar khumus. Beliau berkata: “Posisi mimpinya itu paling maksimal disetarakan dengan hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih. Padahal ia bertentangan dengan dalil yang lebih shahih darinya, yaitu hadits: ‘Pada rikaz itu terdapat kewajiban khumus’.”
وراجع في الصلاة النارية الفتوى الأخرى هنا.
Silakan merujuk mengenai Shalawat Nariyah pada Fatwa lain di sini :
وراجع في العرض الموضوعي لفتاوى الشبكة موضوع الرقى والتمائم لمعرفة التفصيل في موضوع الرقية بالقرآن وضوابط مشروعيتها.
Dan merujuklah pada pemaparan tematik fatwa-fatwa di jaringan kami mengenai topik Ruqyah dan Azimat untuk mengetahui rincian mengenai Ruqyah dengan Al-Qur’an serta batasan-batasan syariatnya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply