Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
(disewa dari sekolah tari setempat) mempertunjukkan tariannya di antara kedua kelompok ini.... Di sudut baratlaut, berseberangan serta terpisah oleh gang dari kelompok priyayi, isinya kebanyakan orang- orang Cina: dan di sudut timurlaut, berseberangan dan terpisah oleh gang dari kelompok santri, duduk sekelompok anak muda berjumlah sekitar 40 orang, kelihatannya teman-teman pengantin pria dari Surabaya, yang seluruhnya meninggalkan pertemuan pada sekitar pukul 10. Di antara mereka dan kelompok Cina, duduk priyayi yang agak rendah (kebanyakan guru), beberapa orang tua dari kalangan abangan dan seterusnya. Semuanya mungkin 150 orang, belum menghitung kaum perempuan sebanyak setengah dari yang duduk di dalam. Seluruh resepsi itu merupakan salahsatu resepsi yang paling meriah, yang pernah saya saksikan, dengan gamelan, penari, hidangan yang lezat dan segalanya. Catatan di atas tentu saja merupakan sebuah pengecualian yang ekstrem, tetapi itu bukan kasus satu-satunya. Salah seorang priyayi tua pernah menyewa tempat pertemuan lokal setingkat balaikota, untuk pertunjukan wayang, menarik sekitar 500-600 orang dan menjamu semuanya: camat Mojokuto pernah menyelenggarakan resepsi besar dua malam berturut-turut, yang pertama dengan pertunjukan tari-tarian, sedangkan malam kedua dengan wayang kulit. Bahkan orang yang relatif miskin akan menyelenggarakan resepsi yang cukup lengkap, seperti yang bisa dibaca dari catatan berikut yang menggambarkan sebuah resepsi yang diselenggarakan oleh seorang buruh kereta api yang relatif miskin dan tinggal di pondok bambu berkamar dua di dekat tempat kediaman saya: Mengunjungi perkawinan di rumah Pak Reso di kampung seberang jalan. Kaum perempuan duduk di kamar depan. Laki-laki duduk di luar, mengitari meja persegi kecil di bawah naungan atap daun-daunan dan bambu yang khusus dibuat untuk keperluan itu. Mereka disuguhi secangkir kopi (hanya satu cangkir—seorang pria disuguhi dua cangkir secara tak sengaja dan diambil kembali) serta berbagai jenis jajan kecil. Ada sebuah band yang terdiri atas tujuh instrumen, semuanya menggunakan senar (bas, biola, gitar dan sebagainya), lengkap dengan seorang biduanita yang mengenakan mutiara dan bersuara kecil. Efek dari kesemuanya ini, dengan lentera-lentera, deretan meja dan semuanya, menyerupai sebuah rumah hiburan kecil. Gadis itu menyanyikan lagu- lagu Indonesia populer begitu juga pemain-pemain band yang semuanya pria itu. Suasana agak menjemukan. Tak seorang pun berbincang- bincang dengan asyik. Sejenak kemudian, orang mulai main kartu di