Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dan menyayat dagingnya, mendirikan atap darurat untuk para tamu dan sebagainya. Pola ini masih berlaku dalam konteks desa dan setidaknya sampai pada tingkat tertentu masih berlaku juga di antara warga kota yang lebih miskin. Dalam situasi semacam itu, dipelihara sebuah hubungan timbal- balik. Setiap orang yang menyumbangkan tenaga pada slametan si perempuan hamil beserta suaminya berhak untuk meminta bantuan tenaga sekitar sehari untuk maksud yang sama di kemudian hari. Kewajiban semacam itu, tak peduli betapapun rumitnya, selalu saja diingat orang. Dalam keluarga yang berbeda, jelas ada perbedaan kemampuan untuk bekerjasama di antara mereka sendiri. Berbicara lagi tentang rukun, ia mengatakan bahwa beberapa keluarga memang lebih rukun daripada keluarga lain. Keluarga iparnya, isteri Priyo, sangat rukun dan kalau salah seorang dari ke-10 anggota keluarga yang tinggal berdekatan di sana, menyelenggarakan sebuah pesta, setiap Orang menyumbang sekitar Rp 50. Namun keluarga ipar si Minah—tak seorang pun akan melakukan hal itu. Mereka akan membantu di dapur, tetapi tak akan menyumbang uang sepeser pun. Pesta perkawinan yang lebih besar di kota cenderung menarik tidak saja sanak-keluarga, tetapi juga lebih banyak teman, tetangga dan khususnya sejak masa revolusi, teman-teman anggota perkumpulan perempuan. Untuk kalangan santri, kelompok perempuan yang menjadi sayap dari kedua partai politik Islam merupakan semacam tenaga kerja bergilir untuk masing-masing pesta perkawinan dan khitanan: untuk kalangan priyayi, organisasi perempuan nasionalis Perwari merupakan kelompok semacam itu: serta untuk kalangan abangan, kelompok perempuan yang berhubungan dengan serikat-serikat buruh, memainkan peran serupa. Dalam pengaturan ini, asas timbal-balik mungkin tidak begitu pasti, terutama sekali di antara orang-orang yang memiliki status yang berlainan. Dengan demikian, isteri wedana, misalnya, yang bisa menarik sekitar 50 orang untuk bekerja di dapur selama tiga hari menjelang perkawinan anak perempuannya, akan diminta menyumbangkan tenaganya—kalau pun pernah—hanya pada pesta beberapa perempuan terpilih yang berkedudukan tinggi saja. Namun, sumbangan yang umum sifatnya tetap diharapkan, walaupun di kalangan mereka yang lebih mulia, sumbangan itu sering hanya merupakan tindakan simbolik saja.