Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Jelas bahwa buwuh pada awalnya berupa bahan makanan yang digunakan dalam pesta, atau penukaran langsung untuk itu. Keluarga dekat masih sering memberi bahan makanan, bukan uang: dalam kematian—yang sering terjadi di luar dugaan —setiap orang menyumbang beras dan bukan uang tunai, karena bahan makanan itu diperlukan dengan segera untuk slametan. Jadi buwuh, sebagaimana sumbangan tenaga, idealnya adalah sebuah bentuk rukun. Dewasa ini, terutama di kota, buwuh kadang-kadang dinilai secara sinis sebagai sumber keuntungan dan banyak orang dikatakan menye- lenggarakan upacara terutama karena mengharapkan keuntungan material dari sumbangan para tamu. Ia mengatakan bahwa ia mendengar seseorang di sebuah desa yang tak jauh dari sini, telah menyewa sebuah kelompok pemborong (acting 9roup) untuk menyelenggarakan pesta perkawinan. Katanya, orang itu mungkin memperoleh untung besar. la mengatakan bahwa buwuh yang dulu merupakan soal rukun, terutama ketika buwuh itu tidak berupa uang tetapi barang seperti bahan makanan dan sebagainya, telah merosot menjadi cara cari uang biasa di mata seseorang yang sedang duwe gawe. Kerapkali uang yang masuk lebih banyak dari uang yang keluar, karena itu tuanrumah mendapatkan laba: karena itu, Sekarang ini, orang suka menyelenggarakan pesta sekadar untuk memperoleh keuntungan. Kata orang, sayang sekali kalau kita tidak punya anak untuk disunat atau dikawinkan dengan sebuah pesta, sebab ini berarti hilangnya kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Katanya, kalangan santri tidak menyetujui hal ini dan tidak melakukannya. (Karena informan itu sendiri adalah seorang santri, maka pernyataannya ini bukan tidak mungkin mengandung sebuah bias. Sekalipun demikian, karena pada umumnya kalangan santri cenderung untuk tidak menyetujui pemborosan kekayaan, barangkali ada juga benarnya pernyataan itu). Tapi bagi kebanyakan orang sekarang, pengertian slametan sebagai sebuah dagang merupakan hal yang diakui. Ia mengatakan bahwa Merto, seorang dukun, adalah orang pertama yang mempraktikkan hal demikian. Baru-baru ini, ia menyelenggarakan sebuah pesta perkawinan dimana bukan anaknya sendiri yang dinikahkan tetapi meminjam anak perempuan saudaranya yang lebih miskin. Dan karena ia tidak menyelenggarakan hiburan yang berarti, pasti ia telah memperoleh untung besar dengan pesta itu. Sekalipun demikian, ada kecenderungan lain yang kurang lebihnya menentang pesta yang bersifat komersial. Banyak orang berusaha