Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 6 Siklus Slametan: Kematian Pemakaman: Layatan Berlawanan dengan upacara-upacara pergantian tahap lainnya, semua pemakaman (layatan) tak pelak lagi masih diselenggarakan oleh modin, pejabat keagamaan resmi di desa. Hanya beberapa orang saja yang mengundangnya sewaktu-waktu untuk membacakan do'a pada upacara- upacara kelahiran dan khitanan (ia nyaris selalu merupakan seorang santri yang kuat) serta dalam setiap kasus perkawinan ia harus membawa pengantin lelaki ke kantor naib untuk melaksanakan bagian Islam dari upacara perkawinan itu dan hanya dalam kematian sajalah ia benar-benar bertindak sendiri sebagai pemimpin umum dari semua urusan. Kalau terjadi kematian di sebuah keluarga, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah memanggil modin. Dan kedua, menyampaikan berita di daerah sekitar bahwa sebuah kematian telah terjadi. Kalau kematian itu terjadi sore atau malam hari, mereka menunggu sampai pagi berikutnya untuk memulai proses pemakaman. Pemakaman orang Jawa dilaksanakan secepat mungkin sesudah kematian. Seorang yang meninggal pada pukul 10 pagi akan dimakamkan pada tengah hari atau beberapa saat sesudah itu dan orang yang meninggal pada pukul empat sore akan sudah berada dalam liang lahat pada pukul 10 pagi hari berikutnya. Walaupun keluarganya kadang- kadang menundanya sekitar sejam kalau ada anggota keluarga yang ditunggu dari tempat yang jauh, jelas mereka tidak akan menundanya terlalu lama: keluarga dari jauh biasanya tidak pernah datang tepat waktu pada berbagai penguburan yang pernah saya lihat. Alasan yang lazim dikemukakan bila ada orang bertanya, mengapa penguburan itu begitu tergesa-gesa adalah bahwa roh orang yang meninggal itu berkeliaran tak menentu (seringkali dibayangkan sebagai seekor burung) sampai