Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 127
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 127 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

malam hari. Pasalnya, makan di siang hari pada bulan Pasa dilarang. (Namun, sementara kalangan bukan santri tidak mena'ati larangan ini dan orang yang tidak berpuasa tidak malu-malu makan di depan umum, sementara orang-orang lain sedang berpuasa). Orang memilih salahsatu dari hari-hari ini begitu saja atau melalui ramalan petungan yang diterapkan pada hari lahirnya. Tanggal terakhir, 29, disebut Jagalan— Hari si Tukang Jagal—karena menurut tradisi, tukang jagal mengguna- kan hari-hari lainnya untuk menyembelih binatang bagi slametan orang lain dan hari terakhir ini digunakan untuk dirinya sendiri: tetapi, ini tak lagi dita'ati. Terkadang orang mengatakan bahwa tanggal 21, 23 dan 25 adalah untuk orang “Islam sejati" (kaum santri), tanggal 27 untuk orang muda dan tanggal 29 untuk orang berusia lanjut: tetapi, seberapa luas kepercayaan ini dianut orang, saya tidak tahu pasti. Hampir tiap abangan mengadakan Maleman pada salahsatu dari tanggal-tanggal ini. Di desa- desa, Muludan dan Maleman biasanya merupakan perayaan seluruh desa yang diadakan di rumah kepala desa. Ke situlah semua keluarga di desa itumembawa hidangan slametan yang kemudian dipertukarkan, hampir seperti perayaan bersih desa yang akan dibahas nanti. Satu Sawal: Mengakhiri puasa, yang disebut Bruwah. Nasi kuning dan sejenis telur dadar adalah hidangan spesialnya. Hanya orang yang benar-benar puasa yang dianjurkan mengadakan slametan ini, tetapi beberapa orang yang tidak berpuasa pun mengadakannya. Arwah orang yang meninggal kadang-kadang juga dianggap turun ke bumi untuk menghadiri slametan ini dan orang kemudian melanjutkannya dengan berziarah ke makam orangtua mereka. "Tujuh Sawal: Sebuah slametan kecil yang disebut Kupatan. Hanya mereka yang memiliki anak kecil yang telah meninggal yang dianjurkan untuk mengadakan slametan ini—yang tentunya mencakup hampir semua orang dewasa di Jawa, walaupun slumetan ini dalam kenyataannya tak begitu sering diadakan. Pada pukul tujuh pagi, orang membuat kupat dan penganan dengan bungkus yang hampir sama yang disebut lepet. Beberapa di antaranya digantungkan di pintu luar, sehingga anak-anak kecil yang sudah mati bisa pulang dan makan di sana tanpa mempedulikan siapapun yang ada di dalam. 10 Besar: Ini adalah hari penghormatan terhadap pengorbanan Nabi Ibrahim dan hari dimana jema'ah haji berkumpul di Mekkah untik melaksanakan lagi pengorbanan itu. Sekalipun hari raya ini penting bagi kalangan santri, yang menyembelih sapi dan kambing untuk fakir miskin, slametan ini jarang diadakan. Harus dicatat bahwa tak ada sajen yang dipersiapkan dalam semua slametan “Islam” ini —paling tidak sajen dianggap tak perlu ada di sana.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 127 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi