Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 130
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 130 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

sedang bermusuhan serta memutus semua komunikasi di antara mereka: dalam hal ini kedua orang itu akan saling mencoret nama orang yang tak disukainya dari daftar peserta slametan masing-masing). Sehubungan dengan slametan menurut penanggalan, kita bisa membahasupacara-upacara di sekitar siklus pertanian. Di kota Mojokuto, upacara ini sangat jarang diadakan dan kalau pun diadakan, tidak dirasa penting. Bahkan di daerah pedesaan, slametan itu tampaknya tak lagi punya arti penting atau menunjukkan tingkat kemeriahan seperti yang dinyatakan oleh penulis-penulis terdahulu. Pada umumnya slametan panen hanya diadakan dalam hubungannya dengan tanaman padi, tidak untuk tanaman palawija, walaupun kadang-kadang seseorang akan mengeluarkan sedikit sajian pada waktu panen bawang atau kacang kedele. Ketika musim tanam padi mendekat, petani mencari seorang tua yang lebih berpengetahuan untuk menerapkan sistem numerologi petungan dalam memilih hari yang tepat untuk “membuka" tanah (mulai membajak ). Ketika hari ini tiba, sebuah slametan kecil yang disebut wiwit sawah (“mulai bersawah”) diadakan pada pertengahan pagi hari di sawah dan setiap orang yang kebetulan lewat harus diajak serta. Pada malam harinya sebuah slametan kecil seringkali diadakan dirumah petani itu. Slametan kecil lainnya kadang diadakan di rumah pada waktu menabur benih di persemaian dan pada waktu memindahkan tanaman dari persemaian ke sawah. Namun, keduanya ini biasanya ditiadakan. Menjelang akhir musim tumbuh, sesudah penyiangan pertama berlangsung dan padi mulai merunduk karena butir-butirnya mulai berisi, sebuah tingkeban atau kasarnya saja slametan “kehamilan padi” diadakan, juga di rumah. Akan tetapi, upacara tanam yang paling penting adalah slametan metik, sebuah upacara panen atau upacara buah pertama. Slametan ini masih sering diselenggarakan dalam ukuran yang cukup meriah, khususnya di desa-desa. Di balik upacara panen, terdapat kisah Tisnawati dan Jakasudana. Tisnawati, puteri Batara Guru, raja sekalian dewa, jatuh cinta kepada Jakasudana, seorang manusia biasa. Dalam kemarahannya, ayahnya mengutuknya menjadi butiran padi. Kasihan melihat suaminya duduk termangu dengan sedih menyaksikan isterinya yang berubah bentuk, ia juga mengubah Jakasudana menjadi butiran padi. Ritus panen mengesahkan kembali perkawinan mereka dan sering disebut sebagai temanten pari atau “perkawinan padi".£


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 130 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi