Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 131
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 131 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Untuk upacara ini, seorang spesialis yang disebut tukang metik dipanggil. Sekitar sebulan sebelum panen berlangsung, tukang metik memilih hari dengan ilmu angka (numerologi). Kalau ia memilih, misalnya saja, hari Ngahad-Kliwon (Ngahad adalah nama lain untuk Minggu), maka pada hari Ngahad Kliwon yang keempat setelah perhitungannya itu, upacara panen pun dilangsungkan, sedangkan pemetikan padi dilakukan sehari sesudahnya. Pada hari upacara itu, tukang metik, biasanya ditemani oleh tamu-tamu pemilik sawah, mengitari sawah itu beberapa kali, mengucapkan mantera yang meminta pengampunan serta berkah Tisnawati (atau Mbok Sri) dan Jakasudana. Kemudian ia membakar kemenyan, memberi sajian dan memotong beberapa tangkai padi, yang jumlahnya bergantung kepada nomor harinya (misalnya, biasanya 13 kalau harinya adalah Ngahad-Kliwon). Tangkai-tangkai padi ini disebut manten (mempelai perempuan maupun pria). Tangkai- tangkai itu dibawa oleh si tukang metik yang biasanya berjalan di depan iring-iringan para tamu, dibawa ke lumbung, digantungkan di dinding dan tetap di sana sampai panen tahun itu habis dimakan atau dijual. Tiba di rumah, sebuah slametan diselenggarakan. Malam itu, tukang metik kembali ke sawah untuk memberi sajian lagi, membakar kemenyan dan mengucapkan mantera-mantera pengambil hati. Hari berikutnya, panen padi dimulai dan hasil sawah meningkat berkat upacara itu. Slametan Desa: Bersih D€sa Baik slametan peralihan tahap maupun slametan menurut penanggalan, keduanya berorientasi ke arah pengkudusan saat- saat tertentu dalam waktu, yang pertama dalam siklus hidup, yang kedua dalam rentetan kegiatan sosial tahunan. Slametan bersih desa berhubungan dengan pengkudusan hubungan dalam ruang, dengan merayakan dan memberikan batas-batas kepada salahsatu unit teritorial dasar dari struktur sosial orang Jawa. Apa yang ingin dibersihkan dari desa itu tentu saja adalah makhluk-makhluk halus yang berbahaya. Ini dilakukan dengan mengadakan slametan, dimana hidangan dipersembahkan kepada danyang desa (“makhluk halus penjaga desa”) di tempat pemakamannya. Di desa yang kuat santrinya, bersih desa bisa berlangsung di masjid dan selurubnya terdiri atas pembacaan do'a. Di desa-desa yang tak bermakam danyang atau bila tempatnya tidak baik letaknya, upacara itu bisa diselenggarakan di rumah kepala


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 131 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi