Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
desa. Setiap keluarga di desa itu diharuskan menyumbang makanan dan setiap kepala keluarga yang sudah dewasa harus ikut serta dalam slametan ini. Bersih desa selalu diadakan pada bulan Sela, bulan ke-11 tahun Kamariah, tetapi masing-masing desa mengambil hari yang berbeda- beda sesuai dengan tradisi setempat. Perayaan itu agak berbeda- beda tergantung pada anggapan orang tentang karakteristik pribadi danyang desanya. Sebagai contoh, di sebuah desa dekat Mojokuto, danyang desanya yang bernama “Mbah Jenggot”, adalah seorang yang agak bajingan dan karenanya menuntut pembakaran candu serta diadakannya tayuban, sebuah bentuk hiburan yang agak buruk, yang mengikutsertakan penari perempuan jalanan (yang biasanya juga seorang pelacur) serta upacara minum arak Belanda. Hal ini dianggap sebagai kemauan sang danyang, karena ketika danyang ini merasuki seseorang yang melewati sumber air tempat ia tinggal, ia menuntut candu serta tayuban sebagai imbalan untuk kesediaannya pulang dan meninggalkan orang yang malang itu supaya sadar kembali. Di desa lain, danyang d€sa-nya berasal dari tipe yang lebih wajar dan estetis, karenanya wayang kulit harus diadakan untuknya. Di desa pinggiran kota tempat saya tinggal, danyang d€sa-nya, seperti yang pernah saya katakan, adalah seorang santri yang saleh yang dimakamkan di tengah-tengah desa itu. Dengan demikian, bersih desa di sana mengambil bentuk slametan kematian untuk danyang desa itu, lengkap dengan do'a-do'a dalam bahasa Arab, kue apem dan sebagainya. Tanggal untuk itu tetap—selalu pada hari Rebo-Legi dalam bulan Sela—sehingga orang tak akan pernah lupa saatnya. Namun, modin yang menyelenggarakan slametan pada tahun saya berada di sana mengatakan bahwa malam sebelumnya ia bermimpi Haji Abdur mengunjunginya dan berwasiat demikian: “Sekarang (menyebut nama modin itu), saya mau makan”. Haji Abdur adalah kepala desa yang merupakan warga desa paling kaya dan santri terkemuka selama lebih dari 20 tahun, juga dianggap sebagai keturunan langsung danyang desa, yang meninggal semasa pendudukan Jepang. Ini merupakan pertanda, kata modin itu, bahwa sudah waktunya menyelenggarakan bersih desa, karena upacara itu tidak saja ditujukan kepada pendiri desa, tetapi juga kepada semua orang yang pernah memimpin desa sesudah itu. Kurang lebih 50 atau 60 orang dari kira-kira 500 orang dewasa menghadiri slametan itu dan saya hitung ada 135 baki makanan, yang