Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 133
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 133 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

kelebihannya dikirim dengan perantaraan anak-anak yang diutus oleh orang-orang dewasa yang terlalu sibuk atau tidak tertarik untuk datang sendiri. Kebanyakan baki itu diletakkan di pinggir makam, tetapi sebanyak kurang lebih 30 baki dibawa ke langgar tempat slametan yang sebenarnya diselenggarakan. Semua pejabat desa serta santri-santri terkemuka berkumpul. Di desa ini kejadiannya begitu rupa, sehingga walaupun desa ini terbagi hampir-hampir secara seimbang antara golongan abangan dan santri, dengan priyayi yang terpencar-pencar di dekat kota, pemerintahan desa itu hampir seluruhnya berada di tangan kelompok santri. Kepala desa mengucapkan pidato singkat (seorang abangan setempat juga mengadakan pidato di luar di samping makam), untuk menjelaskan siapakah sebenarnya danyang itu, mengutarakan maksud slametan dan kemudian memimpin do'a dalam bahasa Arab selama 15 atau 20 menit. Kemudian setiap orang mencicipi satu atau dua penganan yang dihidangkan dan sisanya diberikan kepada ratusan anak-anak yang berkerumun menunggu penganan itu. Setiap peserta undangan membawa pulang sedikit makanan untuk diletakkan di bawah bantal atau dibuat sebagai obat penawar bagi kesejahteraan. Di kota Mojokuto, yang struktur politik desanya agak mandeg pertumbuhannya dan kalangan atasnya kebanyakan lebih merasa dirinya langsung di bawah camat daripada kepala desa (yang sedikit banyak merupakan seorang yang cacat), upacara bersih desa-nya juga agak lemah. Upacara itu diselenggarakan di pemakaman di ujung kota, tempat semua kepala desa sebelumnya dikuburkan. Walaupun agak banyak juga jumlah orang yang datang (terutama karena hanya sekali ini upacara diadakan untuk seluruh Mojokuto—yang berpenduduk 20.000 orang), mereka tanpa kecuali, sejauh yang bisa saya ketahui, adalah “wong cilik" yang kebanyakan sangat miskin. Tak pelak lagi, mereka berada di sana dengan harapan akan dapat makan secara cuma-cuma. Tak seorang pun dari kalangan elite sosial serta politik kota itu yang hadir (walaupun ada beberapa yang konon telah mengirim makanan berbaki-baki) dan upacara itu dilangsungkan dengan asal saja. Kepala desa—ini adalah yang pertama dan terakhir kali saya melihat dia keluar rumah selama saya tinggal di sana—mengucapkan pidato ringkas, mengatakan bahwa ia minta maaf karena sakit, tak bisa sering-sering berkeliling mengunjungi rakyat dan berharap agar ia serta seluruh desa senantiasa semakin sehat pada tahun mendatang. Modin kemudian membacakan do'a yang sangat ringkas dalam bahasa Arab dan upacara


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 133 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi