Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
slametan ganti nama yang saya adakan untuk diri saya sendiri dan isteri saya bersifat tipikal. Dorongan untuk itu berasal dari kepala desa sebelah yang menganggap nama Amerika kami terlalu sulit untuk diucapkan maupun diingat. Pada malam hari, kepala desa Sawahrejo datang. Aksen dusunnya sangat kental, tetapi saya dengar ia datang untuk memberi nama kepada saya dan isteri saya. Katanya, lurah memilih nama itu menurut penampilan tubuh saya (ia menyebut nama lain yang dianggapnya tidak cocok, karena terlalu “besar" untuk saya), watak saya dan sebagainya, akhirnya ditemukan nama Kartopawiro. Karto tampak berarti seperti “beraturan" dan pawiro berarti “jantan" atau “berani" yang semuanya membesarkan hati. Ia bertanya kepada saya apakah nama itu cocok, karena kalau tidak, maka tidak akan layak. Saya menjawab bahwa nama itu cocok dan tak diragukan lagi, ia adalah seorang ahli dalam memilih namaz ia mengatakan bahwa memang tidak gampang memilih nama untuk seseorang, karena kalau tidak cocok, hal-hal buruk bakal menimpanya. Banyak orang datang padanya untuk minta tolong dipilihkan nama baru yang cocok dengan mereka dan membawa peruntungan yang baik. Katanya, ia belajar melakukan ini dari orangtuanya, tetapi tidak berhenti sampai di sana: ia juga belajar dari nenekmoyangnya. Ia mengatakan bahwa semua nenekmoyang saya akan hadir dalam slametan saya dan bahwa saya dapat memberitahu nama baru saya baik kepada mereka maupun kepada tetangga saya. Karena slametan yang saya adakan dengan petunjuk induk semang saya sedikit banyak meniru upacara pasaran lima-hari-sesudah- kelahiran, maka itu berarti, saya “dilahirkan kembali” dengan nama baru saya. Pola yang sama kadang-kadang terjadi apabila sebuah perkawinan tidak berjalan lancar. Untuk menyelamatkan perkawinan itu, sebuah upacara dan slametan kedua diadakan, yang disebut bangun nikah— “membangun perkawinan”—dengan mengulang beberapa acara upacara asli dalam ukuran kecil serta membuat jenis makanan yang sama untuk slametan-nya. Kadang-kadang slametan serupa ini diadakan hanya karena si suami mengatakan kepada isterinya, “Saya ceraikan kamu”, walaupun ia tidak bermaksud sungguh-sungguh. Kalau slametan serupa tidak dilakukan, maka perkawinan itu mungkin akan segera bener-benar pecah. Polaslametan ini sebagai refleks defensif terhadap setiap kejadian yang tidak biasa—setelah rumah Anda digarong (dirampok), anak Anda