Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kepada setan dan Al Gur'an mengatakan bahwa orang tidak boleh takut kepada setan: hanya Tuhan saja yang harus ditakuti. Orang tak boleh terlalu memperhatikan setan, orang harus mengabaikannya. Walaupun ia seringkali tahu bahwa setanlah yang menyebabkan pasiennya sakit, ia tak menceritakan kepada pasiennya—hanya mengobatinya saja. Atau seorang dukun mungkin mengatakan kepada pasiennya bahwa Pak Anu menenungnya. Ini pun tidak Rasid lakukan—walaupun ia tahu bahwa seorang pasien terkena tenung—karena hal ini sering menyebabkan timbulnya perkelahian. Katanya, ia biasa melakukan praktik seorang dukun dulu dan sekarang, tetapi ia belajar dari pengalaman pahit. Katanya pernah terjadi seorang perempuan sakit datang kepadanya dan ia mengatakan bahwa suaminyalah yang membuatnya sakit. Suaminya naik pitam dan ketika kemudian ia jatuh sakit, ia mempersalahkan Rasid, menuduhnya melakukan tenung, sehingga suasana sekitar menjadi tidak menyenangkan. Perbedaan lain antara dukun dan orang seperti dia adalah bahwa dukun mempunyai kekuatan lain selain mengobati, misalnya saja, mereka bisa menemukan barang-barang yang hilang. 12 tidak melakukan hal itu—hanya mengobati orang saja. Dukun ketiga yang paling populer (dan pengeruk uang yang paling terkenal) mempunyai cerita yang sama: Iamengatakan bahwa ia bukan seorang dukun, hanya seorang pitulung (saya tak pernah mendengar istilah ini digunakan, kecuali oleh satu orang tentang dirinya: bagi setiap orang lain, orang ini adalah dukun). Saya bertanya kepadanya, apa bedanya dan katanya, dukun memungut uang, tetapi pitulung tidak—sekadar menolong orang saja. Katanya, ia tidak selalu bisa mengobati orang, kadang-kadang bisa, kadang-kadang tidak. Kalau ia secara pasti mengatakan “saya bisa menyembuhkan kamu”, ini berartiada dua Tuhan. Apa yang ia lakukan hanyalah memohon kepada 'Tuhan, yang kadang-kadang berhasil, kadang-kadang tidak. Walaupun ia mengaku memberikan mantera kepada tiga butir telur sebagai salahsatu tekniknya (telur itu kemudian dimakan atau dipakai sebagai salep) dan mengakui pula bahwa ia menerima hadiah dari pasien-pasiennya yang merasa puas atas jasanya. Sebagaimana ditunjukkan oleh petikan-petikan dari catatan saya itu, ada beberapa faktor yang berhimpun di sekitar hubungan psikologis antara dukun dan pasiennya yang agaknya menyebabkan kebanyakan orang memperlihatkan sikap ambivalen terhadap para dukun. Pasalnya, mereka menganggap para dukun itu baik sebagai orang yang membantu maupun yang menakutkan. Yang pertama adalah masalah pengobatan