Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Menjelang pertengahan bulan kedua dari masa kemampuannya— saya kira karena ia merasakan kemampuannya mulai berkurang, walaupun ia tak pernah mengatakan ini—ia mengadakan slametan besar-besaran dengan mengundang setiap orang yang telah diobatinya: tentu saja hanya mereka yang dekat yang bisa datang—sekitar 20 atau 30 orang. Slametan itu seperti slametan biasa lainnya, ditandai oleh dua tumpeng besar, yang kata dukun itu dalam sambutan ujub-nya (ia adalah satu-satunya perempuan yang pernah saya lihat ikut serta secara langsung dalam sebuah slametan), melambangkan harapannya agar kemampuannya terus ada. Ia mengatakan bahwa terlepas dari apa kata orang tentang dia, ia menggunakan kemampuannya tidak untuk kepuasan diri sendiri atau untuk uang, tetapi untuk menolong orangi bahwa ia telah menyembuhkan banyak orang. Ia mengatakan bahwa kalau kemampuannya hilang, ia akan segera berhenti melakukan pengobatan dan tidak akan menipu orang. Ia mengatakan bahwa kemampuannya berasal dari Tuhan, dari arwah kedua orangtuanya dan dari danyang desa itu, bukan dari makhluk-makhluk halus jahat. la memberitahukan kepada para tamunya, bahwa dengan slametan ini, mereka tidak lagi punya kewajiban kepadanya sebagai hasil dari pengobatan yang telah diberikannya. Mereka tidak lagi berutang kepadanya (di samping kelapa dan uang yang telah dibebankan kepada mereka sebagai bayaran pengobatan, orang yang menderita sakit parah, atau sakit yang mereka anggap parah, mungkin juga telah memberi hadiah-hadiah yang lebih berharga sebagai tanda terimakasih serta sebagai jaminan bahwa pengobatan itu akan manjur seterusnya. Dukun itu bisa membangun sebuah kakus bertembok baru di luar rumah serta membeli dua ekor kambing dari upah yang diterimanya dan kedudukan ekonominya telah bertambah baik karena praktiknya itu). Secara keseluruhan, ia tampak lebih lunak dari biasanya. Walaupun sesudah slametan, dalam beberapa hal ia kembali ke tingkat kekalutannya yang biasa dalam mengobati satu atau dua orang pasien baru. Kegairahan yang terus-menerus meninggi pada kunjungan-kunjungan terdahulu seperti telah hilang, ia tampak letih dan kecil hati. Dua atau tiga minggu kemudian, saya dengar kemampuannya telah hilang. Terakhir, saya melihatnya dalam sebuah pemilihan desa beberapa bulan sebelum saya meninggalkan Mojokuto. Sekalipun, pada saat itu, ia berhasil memperoleh tempat di panggung depan di antara kalangan priyayi yang menyaksikan pemilihan, tetapi ia tampak sangat pendiam dan