Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
penyakit-penyakit tertentu (misalnya pengobatan dengan berudu yang digosokkan ke kulit untuk penyakit cacar air). Ada pula pelindung khas untuk segala hal yang oleh orang Jawa disebut jimat. Pada umumnya, sebuah jimat diberi tulisan, biasanya dalam bahasa Arab dan acapkali dibuat oleh alim-ulama tradisional untuk para pengikutnya. Jimat itu bukan hanya mengobati, tetapi sebagaimana umumnya jimat, juga bisa dipakai untuk kekebalan atau sebagai alat sihir. Istilah jimat juga cenderung dipakai untuk satu jenis obat “guntingan dan keong” dimana bahan-bahan yang sebetulnya menjijikkan, khususnya ampas atau bekas bagian tubuh seseorang, dimakan, dipakai atau digantungkan di ambang pintu. Berikut ini sebuah contoh yang jelas: Ia menjelaskan satu lagi dari jimat-jimat ini kepada saya. Bila seorang bayi baru saja dilahirkan, tapak tangannya basah oleh semacam minyak berwarna putih. Orang menyerap cairan ini dengan sejumput kapok. Tidak lama kemudian, sang bayi akan berak untuk pertama kalinya. “Tahinya selalu hitam”, kata Wiryo, “seperti bubur ketan hitam. Kita simpan ini dan letakkan kapok ke dalamnya. Barang satu dua hari, tali pusar bayi akan terlepas dan kita tambahkan itu ke dalam koleksi kita. Pada hari ke-35, bayi akan dicukur untuk pertama kalinya dan kita ambil guntingan rambut tersebut untuk koleksi itu juga, maka sempurnalah Di kemudian hari, kalau anak itu sudah berusia 15 tahun sakit, atau untuk perlindungan umum terhadap penyakit, atau untuk kekuatan spiritual pada umumnya), belikan dia sebentuk cincin yang beratnya sama dengan benda-benda yang jadi koleksi itu, lalu kenakan cincin itu di jarinya dan suruh dia makan koleksi itu ia bisa membenamkan koleksi itu dalam sebuah pisang agar mudah ditelan), maka anak itu akan jadi kuat. Dia tak perlu lagi pergi kepada seorang dukun, karena dia sendiri sudah mempunyai jimat. Obat-obat paten, dengan legitimasi yang dianggap ilmiah dan dengan daya tariknya bagi keyakinan orang Jawa bahwa Barat, apa pun kekurangan spiritualnya, telah menemukan kunci teknologis untuk semua persoalan material dalam hidup, serta kesederhanaan penggunaannya (“ambillah dua sendok untuk tuberkulosis, tiga untuk pencernaan”). Obat-obat ini berada di tengah-tengah sistem pengobatan pribumi dan sistem perawatan medis tipe Barat. Dilembagakan dalam dua rumah sakit di kota itu dengan tiga orang dokternya yang dididik secara Barat dan kelompok perawat pria (mantri) setempat yang sudah terlatih. Obat-obat paten diiklankan di koran-koran dan dijual di toko-