Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
saya secara cepat dan akhirnya saya mengerti apa yang dia ucapkan kepada saya. Ia telah menderita sakit selama kurang lebih 27 bulan ini, katanya—sakit kepala, gatal, demam—semuanya karena ditenung oleh pemilik warung kopi, Nur dan isterinya. Mereka melakukan ini, karena mereka memang jahat. Pasalnya, mereka menginginkan dia pergi dari rumah ini (rumah ini milik mereka) dan karena ia memiliki lebih banyak uang daripada mereka serta berpakaian lebih baik dari mereka. Katanya, mereka pergi ke seorang dukun di sebuah desa (sekitar 32 kilometer jauhnya) dan meminta melakukan sihir ini. la melukiskan bagaimana hal itu dilakukan—empat orang duduk dalam satu segi empat dengan satuorang, di tengah membaca mantra, dengan api. Katanya, kalau orang membayar Rp 100, sang dukun menjamin korbannya akan mati dalam 24 jam dengan perut busung besar. Ia sendiri telah pergi ke seorang kiai (guru mengaji) yang telah memberinya tiga “surat", dengan ongkos Rp 25, yang ditulis dalam huruf Arab. Kata si kiai kepadanya, bahwa ia telah ditenung oleh orang-orang ini dan yang mengandung kata-kata magi yang akan menjadi efek tandingannya. “Surat-surat” ini dibungkus dengan kain putih dan tali benang di sekitarnya—katanya, ia memperolehnya dalam bentuk demikian—dan ia mengikatkannya di ujung ikat pinggangnya. Ia juga telah berpuasa—tidak makan nasi, hanya singkong saja—dan berjaga di malam hari selarut mungkin, sampai sekitar pukul 4 pagi. Ia juga menunjukkan kepada saya sejenis tanaman kaktus dengan tanduk besar i tiap penjuru rumahnya, dimaksudkan untuk mengusir makhluk halus yang diutus kepadanya oleh si pemilik warung kopi dan isterinya. Dengan demikian, sihir sebagaimana dibayangkan orang Jawa, cenderung dipraktikkan pada para tetangga, teman, kerabat dan kenalan yang cukup dekat. Tentu saja dukun yang dipakai bisa orang jauh dan karena itu, menyerang seseorang yang tinggal jauh dari tempat upacara dilakukan, tetapi pencetus tindakan itu selalu seorang yang dekat. Tidak seperti orang-orang lain, orang Jawa tak menuduh orang-orang luar melakukan sihir: “Musuh orang Tebing tinggal di Tebing”. Saya diberitahu bahwa akan banyak terjadi sihir-menyihir di kota yang dekat dari sini, kalau orang di sana pernah menyihir orang Mojokuto. Kedua, sihir selalu dipraktikkan dengan alasan khusus, tidak pernah karena kedengkian yang ringan. Tampaknya ia tak mengikuti garis kekerabatan atau kelas tertentu, alih-alih, agaknya ada satu kecenderungan pada seseorang untuk menuduh orang lain menyihirnya, kalau ia, si korban, merasa dirinya pernah mengecewakan harapan orang yang menyerangnya atau karena suatu hal pernah membuat dia marah.