Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Untuk melukiskan citra rukun Islam yang lima, kita dapat mengatakan bahwa puncak atap bangunan Islam yang runcing itu masih ditopang terutama sekali oleh tiang utamanya, pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah, tetapi tiang ini dikelilingi oleh rampai-rampai hiasan yang sangat tidak cocok dengannya, yang merupakan pencemaran atas kesederhanaannya yang agung. Adapun empat tiang yang lain, yang merupakan tiang-tiang penjuru, tampak bahwa beberapa di antaranya sudah lapuk karena waktu, sementara beberapa tiang baru yang menurut ajaran ortodoks tidak layak menyangga bangunan suci itu, telah didirikan di samping lima tiang yang asli dan sampai tingkat tertentu telah merampas fungsi tiang-tiang asli itu.? Hurgronje khususnya merujuk pada Aceh di Sumatera Utara, tetapi kiasannya tentu berlaku bahkan lebih tepat lagi bagi Jawa, di mana tiang-tiang itu hampir tak nampak lagi di tengah-tengah banyak penopang lainnya. Kecuali keyakinan bahwa mereka itu beragama Islam dan bahwa menjadi seorang Islam adalah sesuatu yang terpuji, Hurgronje menemukan di kalangan penduduk Indonesia yang beriklim tropis ini sedikit sekali monoteisme Timur Dekat sekering gurun, yang (mungkin) telah dikenalnya di Mekkah, di mana ia pernah tinggal sebagai seorang Kristen yang menyamar sebagai jema'ah haji muslim. Orang Indonesia, katanya, “memberikan penghormatan dengan sikap yang murni formal kepada lembaga yang ditahbiskan oleh Allah, yang di mana-mana diterima dengan tulus dalam teori, tetapi dilaksanakan secara menyimpang dalam praktik”." Satu generasi kaum terpelajar menggemakan pendapatnya—dengan putusasa kalau mereka itu Islamolog, dengan nada kemenangan kalau mereka itu etnolog yang mengabdikan dirinya kepada pelestarian adat-kebiasaan asli menurut keindahan aslinya. Tetapi Hurgronje menulis ini pada akhir sebuah era dan permulaan era baru. Dua puluh tahun setelah ia menulis, Muhammadiyah, yang merupakan perkumpulan Islam modernis yang bersemangat tinggi, didirikan di Yogyakarta, tepat di pusat dan klimaks budaya Hindu- Jawa. Mereka menyerukan apa yang oleh orang Jawa disebut “masa pergerakan” serta mengumumkan munculnya kaum muslim yang sadar diri dalam cakrawala sosial Indonesia, yakni orang-orang yang tidak hanya cinta kepada agamanya dalam teori, tetapi juga merasa terikat dalam praktik. Munculnya orang yang demikian bukanlah