Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
merupakan sebuah kebetulan, sebagaimana tampak oleh sebagian orang yang terkejut oleh tanda-tanda kehidupan dalam sebuah agama yang sudah sedemikian lama mereka anggap kehilangan dinamika internalnya ataupun panggilan dasarnya untuk apa yang mereka anggap begitu saja sebagai “jiwa Indonesia”. Hurgronje, lebih bijak daripada kebanyakan mereka dan mengetahui bahwa beberapa perubahan dalam wilayah kehidupan Islam sedang berlangsung bahkan pada masanya, memperingatkan para pembacanya bahwa perubahan-perubahan ini sedemikian gradual dan bahwa “walaupun perubahan itu berlangsung di depan mata kita, ia tersembunyi bagi mereka yang tidak mengkaji persoalan itu dengan teliti".: Islam datang ke Indonesia dari India, dibawa oleh para pedagang. Karena ciri Timur Tengahnya berupa orientasi terhadap kondisi kehidupan di luar telah ditumpulkan dan dibelokkan ke dalam oleh mistisisme India, ia hanya memiliki kontras yang minimal dengan campuran Hinduisme, Buddhisme dan animisme yang telah mempersona (menjadi ciri khas) orang Indonesia selama hampir 15 abad. Walaupun ia menyebar—sebagian besar 300 tahun dan mendominasi Jawa dengan sempurna, kecuali beberapa kantong kepercayaan atas berhala pada akhir abad ke-16, Islam Indonesia, terputus dari pusat ortodoksnya di Mekkah dan Kairo, menumbuhkan tumbuhan tropis lain yang berliku- liku, pada wilayah keagamaan yang sudah penuh sesak. Praktik mistik Buddha memperoleh nama-nama Arab, raja-raja Hindu mengalami perubahan gelar untuk menjadi sultan-sultan Islam dan orang awam menyebut beberapa makhluk halus hutan mereka dengan jin. Namun, sedikit sekali perubahan lainnya. Menjelang pertengahan abad ke-19, isolasi Islam Indonesia dari pusat pemancarnya di Timur Tengah mulai pecah. Dari Hadramaut, padang tandus abad pertengahan Islam di ujung selatan Semenanjung Arab, datang para pedagang Arab dengan jumlah yang selalu bertambah, untuk menetap di Indonesia serta menyiarkan pengertian ortodoks mereka yang bagus kepada para pedagang setempat yang berhubungan dengan mereka. Dan dengan perkembangan pelayaran, orang-orang Indonesia mulai naik haji ke Mekkah dalam jumlah yang demikian, sehingga pada masa Hurgronje tinggal di sana, koloni Indonesia merupakan bagian yang paling besar dan aktif di seluruh kota suci itu. “Di sini”, demikian tulisnya, “terletak jantung kehidupan keagamaan kepulauan Hindia Timur dan urat nadi yang tak terhitung jumlahnya