Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
untuk kaum yang benar-benar beriman—akhirnya benar-benar tak terhindarkan lagi. Bahkan mereka yang mengabaikan peringatan Hurgronje untuk melakukan tela'ah dari dekat terhadap persoalan ini sekarang bisa melihat bahwa Islam Indonesia telah berubah. Dan di hampir setiap desa serta kota di Jawa, terdapat satu kelompok, seringkali tinggal di tempat yang terpisah, umumnya terdiri atas pedagang kecil dan petani yang agak kaya, yang bagi mereka, Islam bukan lagi ilmu mistik lain di antara banyak lainnya, tetapi sebuah agama yang unik, eksklusif dan universalis, yang menuntut kepasrahan total kepada Tuhan yang jauh serta mengabdi kepada sebuah perjuangan abadi melawan mereka yang tidak percaya. Mojokuto, yang didirikan pada akhir abad ke-19, memiliki sejarah yang hampir seluruhnya terletak dalam periode ini, dimana jema'ah muslim yang sadar diri, terkristalisasi dari latarbelakang abangan yang lebih umum. Mayoritas kelas pedagang sebelum perang dan banyak penduduk petani yang menjadi jema'ah muslim Mojokuto, bermigrasi dari wilayah Islam yang kuat di bagian utara Jawa—Demak, Kudus, Gresik—di mana tradisi muslim yang dibawa oleh pedagang-pedagang terdahulu belum seluruhnya punah. Mojokuto mengalami setiap fase reformasi dan kontra-reformasi dalam komunitas Islam di Indonesia sepanjang abad ini sampai sekarang. Barangkali sekitar sepertiga pen- duduknya—sebagai perkiraan kasar saja—adalah santri. Mengelompok dalam kampung mereka sendiri (sekarang agak kurang dibandingkan dengan sebelum perang, namun masih terjadi pengelompokan demikian), dalam partai politik dan organisasi sosial sendiri, serta mengikuti pola peribadatan sendiri, kelompok ini mewakili sebuah varian kebudayaan Mojokuto yang asli. Santri versus Abangan: Perbedaan Umum Ketika membandingkan varian abangan dan santri dari pola keagamaan Mojokuto, segera terlihat dua perbedaan umum yang mencolok, selain dari penilaian mereka yang berbeda terhadap ortodoksi Islam. Pertama-tama, kalangan abangan benar-benar tidak acuh terhadap doktrin, tetapi terpesona oleh detail keupacaraan. Sementara di kalangan santri, perhatian terhadap doktrin hampir seluruhnya mengalahkan aspek ritual Islam yang sudah menipis.