Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 198
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 198 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Seorang abangan tahu kapan harus menyelenggarakan slametan dan apa yang harus jadi hidangan pokoknya—bubur untuk kelahiran, apem untuk kematian. la mungkin memiliki beberapa gagasan tentang apa yang dilambangkan oleh berbagai unsur dalam hidangan itu (seringkali juga tidak tahu dan hanya bisa mengatakan bahwa ia menghidangkan bubur karena orang selalu menghidangkan bubur pada kesempatan seperti itu), tetapi ia akan sedikit kecewa kalau orang lain memberikan sebuah tafsiran yang berbeda. Ia memiliki toleransi dalam kepercayaan agama: katanya, “Jalan itu memang banyak”. Kalau orang menyelenggarakan upacara pergantian tahap yang benar, orang itu bukanlah binatang. Kalau orang mengadakan slametan di bulan puasa, ia bukanlah orang kafir. Kalau orang mengirim baki untuk keperluan “bersih desa”, ia tidak melakukan tindakan subversif—dan itu cukup. Kalau orang tidak percaya pada makhluk halus atau mengira bahwa Tuhan tinggal di matahari, maka itu adalah urusannya sendiri. Untuk kalangan santri, peribadatan pokok juga penting—khususnya sembahyang, pelaksanaannya secara sadar dianggap oleh kalangan santri maupun non-santri sebagai tanda istimewa dari seorang yang benar-benar santri—tetapi hal itu tidak begitu banyak dipikirkan. Dalam keadaanapa pun, peribadatan itu sederhana saja. Yang menjadi perhatian kalangan santri adalah doktrin Islam, terutama sekali penafsiran moral dan sosialnya. Mereka, khususnya santri “modernis” kota, tampaknya sangat tertarik pada wacana apologetik. Mempertahankan Islam sebagai kode etik yang lebih tinggi untuk orang modern, sebagai doktrin sosial yang bisa dilaksanakan untuk masyarakat modern dan sebagai sumber nilai yang subur bagi budaya modern. Aspek doktrinal ini kurang ditekankan di daerah pedesaan. Etika santri tetap agak dekat dengan abangan di sana. Akan tetapi, bahkan di pedesaan, seorang santri berbeda dari seorang abangan, tidak saja dalam pernyataannya sendiri bahwa secara keagamaan ia lebih tinggi dari yang terakhir itu, tetapi juga dalam realisasinya, betapapun kaburnya, bahwa dalam Islam, yang menjadi masalah keagamaan utama adalah doktrin: dan dalam setiap hal, santri pedesaan selalu mengikuti kepemimpinan kota. Untuk santri, dimensinya telah bergeser. Bukan pengetahuan tentang detail atau disiplin spiritual yang penting, tetapi penerapan doktrin Islam dalam kehidupan. Jenis kaum santri pun beraneka ragam, dari yang perbedaannya dengan tetangganya yang abangan tampak hanya terletak pada sikap bersikeras bahwa mereka ini benar-benar muslim


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 198 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi