Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB !! Perkembangan Islam di Mojokuto Wilayah Mojokuto dibuka sebagai pemukiman sekitar pertengahan abad ke-19. Mulanya ia memperoleh penduduk, terutama sekali dari empat daerah di Jawa, yaitu yang disebut wilayah Mataram di Jawa Tengah (termasuk di dalamnya keraton Yogyakarta dan Surakarta), daerah lembah Kali Brantas yang mengalir dari utara Mojokuto ke Surabaya (Kartosono, Mojoagung, Mojokerto dan Krian), dataran Kediri yang membentang seperti kipas ke selatan kota itu (ke arah Blitar, Tulungagung), dan pesisir utara Jawa (Gresik, Rembang, Kudus, Demak dan pulau-pulau Bawean serta Madura di Laut Jawa). Pola migrasi selalu merupakan persoalan statistik, tetapi kebanyakan priyayi awal Mojokuto (dan juga kebanyakan kaum abangan-nya) agaknya berasal dari Mataram. Sebagian besar penduduk abangan-nya berasal dari dua wilayah berikutnya, dataran Brantas serta Kediri. Sejumlah penduduk santri-nya mulanya berasal dari daerah pesisir utara, dengan satu pengecualian yang patut dicatat. Gelombang migrasi pertama dari daerah pantai utara terdi: atas para petani, sebagian berkelana, karena adanya disorganisasi sosial, tekanan ekonomi dan penindasan pemerintah sesudah perang Jawa antara tahun 1825-1830, serta karena pelaksanaan tanam paksa (Cultuurstelsel) oleh pemerintah kolonial di tahun 1830. Satu rombongan dengan sekitar 20 keluarga dari desa-desa Demak dan Kudus menetap di sebuah desa di kecamatan itu, persis di sebelah utara Mojokuto pada sekitar tahun 1860. Satu dasawarsa kemudian, mereka semua pindah, setengahnya mendirikan desa di timurlaut kecamatan Mojokuto dan yang setengahnya lagi membuka tanah di baratlaut kota itu. (Dua desa ini masih terkenal di wilayah Mojokuto, karena 10096 penduduk- nya santri dan menghasilkan sejumlah besar pemimpin politik Islam terkemuka, serta karena memiliki tanah yang paling subur dan paling