Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
baik irigasinya sampai berkilo-kilometer jauhnya). Migran dari desa- desa Kudus dan Demak lainnya, beberapa merupakan sanak-keluarga serta beberapa lagi bukan, kemudian ikut pindah ke sini dan tinggal di antara para perintis maupun di beberapa tempat dalam kecamatan itu—biasanya, tetapi tidak selalu, agak terpisah dari para pemukim abangan yang pindah ke sana pada waktu yang bersamaan. Sekitar tahun 1900, di antara penduduk tani yang tinggal di sekitar Mojokuto (yang kotanya sendiri hanya terdiri atas pos pemerintahan ditambah sekitar setengah lusin toko Cina serta pasar kecil yang diselenggarakan swasta) ada sebuah inti yang kokoh dan terdiri atas orang-orang pesisir utara yang tergeser, yang karena datang dari sebuah wilayah yang aspek-aspek Islam dari sinkretisme agama Jawanya sejak lama sudah dihayati dengan lebih serius jika dibandingkan dengan wilayah mana pun juga, di kemudian hari akan menjadi batang tubuh dari gerakan reformasi Islam maupun reaksi konservatif terhadapnya, ketika kedua gerakan itu berkembang di Mojokuto. Akan tetapi, ini baru separuh cerita. Sekitar tahun 1910, mulai berdatangan ke kota Mojokuto sekelompok pedagang keliling dari pantai utara. Mereka berdagang rokok, kain murah, ikan asin, barang-barang dari kulit dan alat-alat kecil. Mereka tidak datang dari pedesaan, tetapi dari kota-kota yang merupakan pusat perdagangan, seperti Kudus, Gresik dan Lamongan. Mereka merupakan wakil tradisi pedagang kecil yang ada sejak abad ke-16 ketika para pedagang Melayu dan India dalam pelayarannya ke Timur dari Malaka, menyebarkan Islam di kota- kota utara ini. Pada mulanya, keterkaitan pedagang keliling dengan Mojokuto hanya sedikit, karena rumah mereka masih berada di utara. Di jalan, mereka meniru metode perdagangan, gaya hidup serta adat keagamaan orang-orang Arab, yang menjadi model dari perdagangan marjinal mereka yang tak dapat dipercaya dan yang menjadi tetangga mereka di kampung yang padat, berjubel, penuh dengan santri, yang terletak di sekeliling masjid di setiap kota besar dan kecil di Jawa, yang di mana-mana disebut kauman. “Kami berpakaian compang-camping, makan nasi atau jagung satu kali sehari tanpa lauk dan jalan berkilo- kilometer menjajakan dagangan kami", kata seorang pedagang santri tua yang mengenang masa lalunya. “Kami tidak begitu disukai”, tambahnya dengan kesal, “tetapi kami semua menjadi kaya". Sementara, waktu berlalu dan pengangkutan membaik, makin banyak dari pedagang keliling ini yang menetap di Mojokuto dan hanya