Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
secara berkala melakukan perjalanan ke pusat-pusat perdagangan di utara tempat mereka dilahirkan. Mereka membentuk kelompok yang kecil serta ketat, menghuni wilayah yang terpisah menurut tempat asal mereka, sehingga kampung-kampung di Mojokuto masih memakai nama-nama seperti Kampung Kudus, Kampung Gresik dan Kampung Madura. Orang Bawean, kelompok paling kaya, tinggal di Kauman bersama orang-orang Arab. Sebagian besar perdagangan mereka terspesialisasi menurut tempat asal. Orang Kudus menjual rokok, orang Gresik menjual ikan asin, orang Bawean menjual kain dan orang Madura menjual peralatan kecil. Dirangsang oleh pasang ekonomi (boom), dipukul oleh depresi, kelompok pedagang kecil ini berikut keturunannya adalah unsur kedua yang membentuk sebuah umat di Mojokuto. Unsur ketiga, lebih kecil jumlahnya, tetapi mungkin paling penting artinya, terdiri atas sebuah keluarga yang diperluas secara bilateral— yang oleh orang Mojokuto disebut “keluarga penghulu”. Penghulu adalah gelar yang diberikan oleh pemerintah Belanda sebelum perang kepada pejabat agama tertinggi—pejabat yang agak marjinal dalam birokrasi kolonial—di tingkat kabupaten, kewedanaan atau kecamatan, yang bertanggungjawab atas pelaksanaan peraturan kawin-cerai dan pemberian nasihat kepada yang membutuhkan dalam bidang-bidang hukum Islam lainnya, seperti misalnya soal warisan.' Sebagaimana halnya jabatan kepala desa atau pos administrasi daerah yang tinggi dan sejenisnya, jabatan penghulu sesudah beberapa waktu cenderung menjadi semiketurunan dengan sejenis cara yang informal dan tambahan lagi, keluarga penghulu dalam satu kabupaten cenderung untuk saling kawin-mengawini. Di Mojokuto, jabatan penghulu dan hampir semua pos masjid yang ada di bawah yurisdiksinya, biasanya terdiri atas lima atauenam masjid, berada di tangan satu keluarga sejak jabatan demikian diadakan di kota itu. Keluarga ini terhubung karena perkawinan dengan nyaris semua keluarga penghulu di kota-kota lain dalam kabupaten itu. Ketua tak resmi kelompok kekeluargaan ini adalah penghulu kepala di ibukota kabupaten. Sekalipun keluarga ini bisa menyusuri asal-usulnya dari Demak, perkiraan asal-usulnya, sepanjang menyangkut Mojokuto, terletak di Mojoagung, sebuah kota di lembah Brantas, dari mana seorang yang bernama Muhammad Cholifah pada pergantian abad ini dipindahkan ke Mojokuto oleh Belanda dan diangkat sebagai penghulu di sana. Sejak itu, ia serta keluarganya memonopoli semua jabatan keagamaan