Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Sesudah kurang lebih setahun dalam jabatan tersebut, ia meninggal—mungkin, sebagaimana diceritakan oleh informan saya, karena tidak diperbolehkan menyatakan pikirannya secara bebas. Dalam aktivitas organisasinya yang intensif, dalam minatnya terhadap “pengetahuan umum,” dalam kesadaran sosialnya dan pada waktu yang bersamaan, juga perhatiannya terhadap pelajaran agama yang fundamental, dalam detik-detik terakhir dimana ia telah ditipu serta dimanipulasi oleh Jepang dan dalam kematiannya pada 1944, tepat ketika Indonesia baru yang merdeka hampir dilahirkan, Nazir dan kariernya, dalam hampir setiap detailnya, merupakan ciri khas dari perjalanan dan watak pembaharu modernis sebagaimana terjadi dalam Islam di Jawa. Bersama Nazir dalam Sarekat Islam yang asli adalah seorang priyayi tuantanah terkaya di Mojokuto (ia juga seorang pegawai pengawas daging pemerintah), beberapa buruh kereta api, sekitar setengah lusin pedagang kota itu, satu atau dua kiai lain yang tak begitu terkemuka dan beberapa gelintir guru sekolah negeri. Pada masa ini, SI yang merupakan satu-satunya partai politik massa di Jawa, menarik anggota-anggota dari kalangan yang paling sadar terhadap situasi sosial dan memiliki kecenderungan nasionalistis dalam semua kelompok. Agitator-agitator buruh komunis, idealis-idealis politik dari kalangan aristokrasi dan kaum realis kelas menengah yang ingin menempa senjata politik untuk memenangkan persaingan dengan Cina, semua bahu-membahu dalam pergerakan yang sama. Harmoni ini berakhir dengan perjuangan pada 1921, dimana unsur komunis, setelah menyiapkan medan dengan menguasai beberapa serikat buruh dan menyerang pimpinan SI, H.O.S. Cokroaminoto, sebagai tidak jur, mencoba mengubah SI menjadi organisasi Marxis yang sempurna. Praktis di tiap bagian partai, terjadi perpecahan antara sayap “Putih" yang antikomunis dengan “Merah” yang prokomunis. Di Mojokuto pun hal ini terjadi, di mana Nazir memimpin kelompok Putih dan seorang buruh kereta api bernama Karman (sekarang ketua Partai Komunis di kota lain sebelah utara Mojokuto) memimpin kaum Merah. Sesudah sebuah perjuangan besar-besaran, yang kadang-kadang mengarah kepada perkelahian di sidang konvensi, H. Agus Salim, yang di kemudian hari menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia yang pertama dan pada masa itu merupakan salah seorang modernis terkemuka, berhasil memenangkan resolusi yang mengeluarkan kelompok komunis dari