Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah di kota Mojokuto dan itu terjadi semasa revolusi. Orang mengatakan bahwa apa pun bisa terjadi pada waktu itu, tetapi hal itu mungkin tak akan diizinkan sekarang oleh keluarga yang bersangkutan). Juga, begitu situasi berhasil dibuat stabil, karena intensitas Muhammadiyah yang semakin tinggi diimbangi dengan jumlah pengikut Nahdatul Ulama yang semakin besar, maka semacam keseimbangan sosial yang wajar pun tercapai, dimana kompromi lebih kurang terjadi dengan sendirinya. Alasan lain untuk saling mendekati itu mungkin termasuk kenyataan bahwa iklim kontroversi yang intensif adalah asing serta sangat tidak menyenangkan bagi orang Jawa, yang cenderung menyukai penyesuaian dan kritik tak langsung daripada perdebatan serta konflik terbuka. Begitu pula, hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa sarjana-sarjana Islam di beberapa universitas Islam di Timur Tengah gagal menemukan langkah selanjutnya dalam bidang intelektual dan doktrinal sesudah usaha yang dirintis Abduh serta meninggalkan kaum modernis Indonesia dengan doktrin pembaruan akhir abad kesembilan belas yang tampak tidak televan di sebuah dunia yang penuh serikat buruh, perkebunan besar dan jatuhnya harga-harga komoditi. Akan tetapi, dorongan yang paling besar untuk kompromi baru itu mungkin adalah masuknya kembali politik di panggung. Karena kemungkinan berhasilnya gerakan nasionalis menjadi semakin jelas, persoalan penentuan nasib bangsa mulai memenuhi benak dan jantung elite Indonesia, serta hanya menyisakan sedikit waktu yang berharga untuk memikirkan konteks pokok dari tingkahlaku manusia. Periode Jepang: 1942-1945 Jepang yang dengan alasannya sendiri melakukan penyederhanaan percaturan politik dalam negeri Indonesia, membantu menyelesaikan rekonsiliasi modern-kolot dengan memaksa semua santri yang berpolitik bergabung dalam satu organisasi, akhirnya diberi nama Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Mereka juga melakukannya dengan praktik politik favoritisme yang sistematik terhadap unsur santri dari penduduk dalam sebuah percobaan untuk membujuk mereka ke dalam ideologi Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Beberapa pimpinan Islam Mojokuto, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdatul Ulama, dibawa ke Jakarta untuk dilatih dengan pandangan Jepang mengenai