Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
politik besar di Mojokuto antara tahun 1953-1954, ditambah dengan organisasi sosial dan kedermawanan yang diilhami oleh semangat modernis yang sedikit banyak berkaitan secara informal, tetapi kuat sekali, dengan salahsatu partai itu. Ada Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII)—sekarang agak kurang penting—yang terdiri atas beberapa sisa pejuang Sarekat Islam yang asli, anak-anak dan sepupu mereka serta beberapa anggota baru. Ada partai Nahdatul Ulama, sekarang berfungsi sebagai organisasi sosial maupun partai politik yang digabungkan dalam satu kesatuan organisasi yang agak lemah. Ada Masyumi, partai politik massa, sedikit lebih baik dalam organisasi, yang dipimpin oleh orang-orang yang juga memimpin Muhammadiyah. Dan masih ada juga Muhammadiyah sendiri, yang masih menyelenggarakan sekolah- sekolah (sekarang memiliki setengah lusin sekolah), panti asuhan serta kepanduan. Begitu pula, sekalipun ada kritik dari Nahdatul Ulama, mereka masih menyelenggarakan sembahyang pada hari lahir Nabi di alun-alun kota. Muhammadiyah juga masih memiliki keanggotaan yang kecil, tetapi sekitar 40 orang yang menjadi anggotanya sangat terorganisir, gigih dan bersedia berkorban untuk organisasi itu. Meski demikian, semangatnya untuk mengadakan pembaruan modernis dalam doktrin agama Islam sudah banyak menguap. Ketika saya bertanya kepadanya (anak Haji Nazir, pendiri Sarekat Islam, yang memimpin pondok ayahnya serta satu-satunya pemimpin kuat Masyumi di Mojokuto yang bukan anggota Muhammadiyah) tentang siapa yang mempengaruhi kegiatan politik ayahnya, ia mengatakan Cokroaminoto dan Agus Salim, dikenal baik oleh Nazir dari buku-buku, di samping dari orang-orang Arab sampai tingkat tertentu. Ketika saya bertanya tentang Abduh, katanya, pengaruhnya yang besar ada dalam Muhammadiyah, yang memperoleh tantangan besar dari kaum kolot, yang menyebut orang-orang Muhammadiyah sebagai kaum Wahhabi (sebuah gerakan fundamentalis Islam di Timur Tengah, yang lahir di awal abad ke-18 dan berlangsung terus sampai tingkat tertentu di abad ke-20), sebuah istilah yang sangat kasar di sini. Muhammadiyah secara ideologis jauh lebih modern pada masa sebelum perang dibandingkan dengan sekarang ini, katanya. Ketika saya katakan bahwa tampaknya takada lagi orang yang peduli terhadap Abduh dan sahabat-sahabatnya, ia mengatakan: “Bahkan orang Muhammadiyah pun tak lagi berbicara tentangnya. Semua orang lebih tertarik kepada politik. Tampak seakan- akan masalah lama dalam agama yang melibatkan setiap orang sebelum perang tak dipikirkan lagi”. Ia mengatakan bahwa walaupun sebelum